Banjarmasin, TeropongJakarta.com – Bagi Shinta Moeryara Aditya Ningrum, profesi pramugari bukan sekadar pekerjaan dengan tuntutan penampilan, melainkan sebuah komitmen yang harus dijalani dengan kesadaran penuh. Ia menolak menyebut berbagai standar dalam dunia aviasi sebagai tantangan. Baginya, itu adalah konsekuensi dari pilihan profesi.
“Ini bukan tantangan, tapi kewajiban,” ujarnya. Dalam keseharian, ia menjaga pola makan, kesehatan tubuh, hingga kondisi kulit agar tetap prima. Standar tersebut merupakan bagian dari profesionalisme yang diharapkan dalam industri penerbangan, di mana citra dan pelayanan berjalan beriringan.
Namun, tuntutan profesi tidak berhenti pada aspek fisik. Shinta menekankan pentingnya sikap, mulai dari tutur kata yang lembut hingga gestur tubuh yang terjaga serta knowledge / pengetahuan yang luas. Ia menyadari, pelayanan yang diberikan kepada penumpang tidak hanya dinilai dari apa yang terlihat, tetapi juga dari cara berinteraksi.
Di sisi lain, ada realitas yang kerap luput dari perhatian publik. “Penumpang tidak tahu bagaimana kondisi perasaan kita saat itu,” katanya. Meski demikian, ia memilih untuk tetap menjalankan perannya secara profesional, dengan menempatkan tanggung jawab di atas kondisi personal.

Shinta percaya, bekerja sesuai passion menjadi kunci untuk bertahan di tengah tuntutan pekerjaan. Di tengah situasi lapangan kerja yang kompetitif, ia melihat profesi yang dijalaninya sebagai peluang yang harus dijaga. Bahkan, aktivitas terbang justru menjadi ruang untuk menjaga keseimbangan diri.
“Saat menjalankan jadwal terbang, saya merasa seperti healing. Bertemu rekan kerja baru, melihat daerah baru,” ujarnya.
Meski terlihat ideal, perjalanan tersebut tidak lepas dari dilema. Ia pernah berada pada situasi ketika harus tetap terbang di tengah kondisi orang tua yang sakit, atau ketika keinginan untuk fokus menyelesaikan pendidikan muncul. Pilihan untuk bertahan menjadi keputusan yang diambil setelah melalui pertimbangan panjang.
“Saya ingat pekerjaan ini yang membawa saya sampai di titik sekarang. Saya mencintai pekerjaan ini,” kata Shinta.

Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya terhadap dunia aviasi sebagai profesi yang menuntut kesiapan fisik sekaligus mental. Persaingan yang ketat sejak tahap seleksi menjadi hal yang tidak terpisahkan.
Ia pun membagikan pandangannya bagi generasi muda yang ingin meniti karier serupa. Persiapan menjadi faktor penting, mulai dari kemampuan bahasa asing, pemahaman tentang dunia penerbangan, hingga menjaga kondisi tubuh tetap proporsional.
Selain itu, ia menekankan pentingnya kesiapan mental dalam menghadapi proses yang tidak selalu berjalan mulus. “Kalau gagal, coba terus sampai berhasil,” ujarnya.
Bagi Shinta, menjadi pramugari bukan sekadar profesi yang dijalani dari satu penerbangan ke penerbangan lain. Lebih dari itu, ia melihatnya sebagai ruang untuk bertumbuh, menjaga dedikasi, serta membuktikan bahwa pilihan yang dijalani dengan kesungguhan akan menemukan maknanya sendiri.
