Tuban, TeropongJakarta.com – Kesadaran itu tidak datang tiba-tiba bagi Yovika Winda Yanuarriski. Ia tumbuh perlahan, mengikuti kelelahan yang berulang dan tuntutan hidup yang datang bersamaan. Perempuan yang akrab disapa Vika dan tinggal di Tuban, Jawa Timur, ini menjalani hari-hari dengan banyak peran: atlet, mahasiswa keperawatan, pemimpin organisasi, sekaligus individu yang kerap dituntut untuk selalu kuat.
Pada awalnya, tubuh ia perlakukan sebagai alat. Ia dipacu cepat, dituntut tahan, dan diminta terus bergerak tanpa banyak ruang pemulihan. Prestasi menjadi orientasi utama. “Dulu saya merasa kalau lelah itu tanda kurang kuat,” kata Vika saat diwawancarai. “Kalau capek, ya dilawan.”
Cara pandang itu berubah ketika Vika memasuki dunia klinik. Dalam praktik keperawatan, ia berhadapan langsung dengan pasien-pasien yang kehilangan fungsi tubuh. Ada yang datang perlahan, ada pula yang kehilangan kemampuan secara mendadak. Pengalaman itu meninggalkan kesan yang dalam.
“Di ruang perawatan, saya sadar satu hal,” ujarnya. “Tubuh bukan mesin cadangan. Kita hanya punya satu, dan ketika rusak, tidak semua bisa kembali.”

Sejak itu, Vika mulai mengubah relasinya dengan tubuh. Ia tak lagi melihatnya sebagai objek prestasi, melainkan sebagai partner hidup yang perlu didengar dan dirawat. Perubahan ini juga memengaruhi cara ia memaknai konsistensi. Baginya, konsistensi bukan disiplin keras yang memaksa diri terus bergerak, melainkan kesepakatan jujur dengan diri sendiri.
Olahraga tetap menjadi bagian penting dalam hidupnya, tetapi dengan makna yang berbeda. “Sekarang olahraga itu bukan beban,” kata Vika. “Justru jadi ruang pulang, tempat saya kembali ke diri sendiri setelah hari yang ramai.”
Prinsip yang ia pegang sederhana: cukup, bukan berlebihan. Latihan fisik tetap dijalani, kewajiban akademik dituntaskan, dan aktivitas organisasi tetap berjalan. Namun ia sengaja menyediakan ruang sunyi untuk berhenti sejenak. “Keseimbangan itu seni,” ujarnya. “Seperti merawat api. Terlalu besar bisa membakar, terlalu kecil malah padam.”

Di arena latihan dan pertandingan, olahraga menjadi ruang belajar yang lain. Vika mengaku banyak belajar tentang kalah dan menang. “Saya belajar kalah tanpa runtuh dan menang tanpa jumawa,” katanya. “Yang paling sulit justru berdamai dengan diri sendiri setelah jatuh.”
Rasa jenuh, menurut Vika, tetap datang. Lebih dari sekali. Ketika kelelahan bertemu ekspektasi, semangat bisa meredup. Pada fase itu, ia memilih tidak memaksa diri terus berlari. “Saya belajar berhenti tanpa merasa bersalah,” katanya. “Arah tidak hilang hanya karena kita melambat.”

Dari perjalanan itu, Vika menarik satu pelajaran penting: menjadi kuat tidak harus kehilangan kelembutan. “Perempuan tidak perlu mengecilkan diri agar diterima,” ujarnya. “Dan tidak harus keras supaya dihormati.”
Pesan itu ia sampaikan kepada generasi muda, khususnya perempuan. “Rawat tubuhmu seperti rumah,” kata Vika. “Bukan cuma supaya terlihat kuat, tapi supaya aman untuk pulang.” Ia menambahkan, bermimpi besar adalah hak, tetapi beristirahat adalah kebutuhan. “Nilai diri kita,” ujarnya, “tidak pernah ditentukan oleh seberapa lelah kita bertahan.”
