Hong Kong, TeropongJakarta.com – Di balik gemerlap gedung pencakar langit, ada kisah sunyi pekerja migran Indonesia yang jarang terdengar. Salah satunya datang dari Rahma Dina Indah Safitri, TKI asal Malang yang kini bekerja di Hong Kong. Baginya, menjadi pekerja migran bukan sekadar bekerja jauh dari rumah, tetapi juga perjalanan panjang menjaga mimpi tetap hidup. “Menjadi TKI itu perlu kesiapan diri, terutama mental. Kita bekerja di negara orang yang keras dan disiplin,” ujarnya.
Setiap hari, Rahma berhadapan dengan rutinitas yang menuntut ketelitian dan ketahanan tinggi. Jarak dari keluarga menjadi tantangan yang tidak bisa dihindari. Namun ia tahu, menjaga kewarasan mental adalah bagian paling penting dari kehidupannya sebagai TKI Hong Kong. Tekanan pekerjaan, ritme kota yang cepat, dan perasaan rindu rumah menjadi keseharian yang harus ia kelola dengan matang.

Hari libur yang datang hanya sekali dalam seminggu menjadi satu-satunya waktu untuk mengambil napas panjang. Rahma memanfaatkan off day itu bukan untuk tidur seharian, tetapi untuk membangun ruang kreativitasnya sendiri. Ia sering berkeliling Hong Kong, dan negara tetangga menjelajahi taman kota, landmark terkenal, hingga spot alam yang jarang diketahui turis. “Explore itu bukan sekadar hiburan. Itu cara saya menyegarkan hati dan kepala,” tuturnya.
Melalui kebiasaan menjelajah itulah, Rahma mulai membawa kameranya dan memotret sudut-sudut kota. Ia merekam detail kecil yang menurutnya layak dibagikan. Dari hobi itu, media sosial menjadi teman dekatnya. “Media sosial itu tempat saya mengekspresikan diri. Kita bisa eksplorasi hal positif dan mengembangkan kreativitas,” katanya. Baginya, platform digital juga menjadi jembatan untuk tetap terhubung dengan keluarga di Malang meski ribuan kilometer memisahkan.
Namun aktivitas Rahma tidak berhenti pada eksplorasi. Ia juga mengikuti berbagai kegiatan produktif yang tersedia untuk pekerja migran Indonesia di Hong Kong: kelas rias, fotografi, belajar bahasa asing, hingga pelatihan wirausaha. Semua ia ikuti berdasarkan minat dan kebutuhan. “Hong Kong menyediakan banyak kegiatan positif. Tinggal kita mau ikut atau tidak,” ucapnya.

Sebagai wanita pekerja migran modern, Rahma merasa bangga bisa mandiri dan membantu keluarga di tanah air. Ia sadar bahwa bekerja di Indonesia masih sulit bagi sebagian orang, sehingga merantau menjadi pilihan realistis. “Tidak ada salahnya mencari rezeki di negara maju. Yang penting kita pulang dengan pengalaman dan kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.
Harapan Rahma sederhana namun kuat: ketika waktunya kembali ke Indonesia, ia ingin membawa perubahan nyata untuk dirinya dan keluarga. Dengan keteguhan dan kreativitas, ia membuktikan bahwa TKI bukan hanya tenaga kerja, melainkan individu dengan mimpi, bakat, dan perjalanan yang layak dihargai.
Di tengah kerasnya Hong Kong, Rahma Dina Indah Safitri menulis kisahnya sendiri kisah seorang pekerja migran yang tetap menjaga cahaya dalam dirinya.
