Semarang, TeropongJakarta.com – Di sebuah sudut kota Semarang, aroma kopi dan donat hangat menyambut setiap pengunjung yang melangkah masuk ke Y.co Donuts & Coffee. Kedai kecil itu bukan sekadar tempat menikmati camilan, tetapi menjadi simbol kebangkitan seorang pemuda bernama Agus Yazid Qomarunni’am. Dari perjalanan panjang yang dimulai pada 2011 hingga terpaan pandemi yang menghancurkan banyak usaha, Agus memilih menegakkan kembali langkahnya dengan tekad, keberanian, dan kebaikan.
Saat pertama kali merantau ke Semarang, hidup tidak berjalan mudah bagi Agus. Ia menjalani rutinitas kuliah di pagi hari dan bekerja di siang hari untuk menutup biaya hidup. Tanpa kendaraan pribadi, ia terbiasa berjalan kaki menuju kampus dan mengandalkan angkot untuk berpindah tempat. Usaha mengajukan kredit motor sempat kandas karena statusnya yang masih kos dan belum menjadi karyawan tetap. “Saat itu saya kecewa, tapi justru dari situ saya belajar. Ketika akhirnya pengajuan saya disetujui di tempat kerja berikutnya, saya sangat bersyukur,” tuturnya.
Pengalaman itulah yang menanamkan tekad pada dirinya untuk membantu siapa pun yang berada dalam situasi serupa. Ia mulai membantu teman hingga kerabat mengurus pembelian motor tanpa meminta bayaran sepeser pun. Setiap bulan, 10–20 orang bisa ia bantu. Kemampuannya ini menarik perhatian perusahaan otomotif yang lantas merekrutnya sebagai marketing. Kariernya melesat cepat, hingga ia dipercaya menangani outlet yang dikenal sepi penjualan. Di tangan Agus, performa outlet tersebut berangsur naik. Pada saat bersamaan, ia membuka usaha jual beli motor dan mobil bekas. “Waktu itu rezeki sangat lancar. Semua bergerak cepat,” kenangnya.

Hingga pandemi COVID-19 datang membawa pukulan telak. Penjualan turun drastis, karyawan terpaksa di-PHK, dan unit kendaraan bekas tidak lagi laku di pasar. “Semua usaha saya habis. Saya masih harus menutupi modal kepada rekanan dan bank,” ujar Agus. Keadaan itulah yang membuatnya memutuskan berhenti bekerja dan mencari jalan baru yang lebih bermakna.
Sebuah momen sederhana kemudian menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah mal, ia melihat seorang ibu menangis karena tidak mampu membelikan donat ulang tahun untuk anaknya. Saat itu saya tengah membeli 3 box donat disalah satu toko donat ternama, dan ia memutuskan memberikannya kepada sang ibu. “Saya tidak pernah lupa kejadian itu. Saya langsung terpikir bahwa kelak saya ingin membuka usaha yang bisa menjadi jalan berbagi,” tuturnya. Dari sanalah Y.co Donuts & Coffee lahir bukan hanya sebagai bisnis, tetapi sebagai wadah kebaikan dan kebermanfaatan.

Kini, selain mengelola kedai donat dan kopi, Agus rutin merawat dan membantu ratusan anak yatim setiap bulan. Baginya, usaha bukan hanya soal cuan, tetapi tentang memberi dampak bagi mereka yang membutuhkan. “Rintangan pasti ada, hujatan juga ada. Tapi semangat yang tidak padam, konsistensi, dan menebar kebaikan adalah kunci,” ujarnya.
Mengembangkan kedai kopinya, Agus membawa misi lebih besar: memperkenalkan cita rasa kopi Indonesia ke dunia. Ia percaya bahwa kualitas kopi Nusantara layak mendapat panggung lebih luas dan mampu menjadi identitas yang dibanggakan.
Kepada para pelaku UMKM, Agus menitip pesan agar tidak terjebak hanya pada keuntungan finansial. “Kejar juga kebermanfaatan. Berbagilah, motivasilah orang lain, bukalah peluang baru. Kalau kita ikhlas berbagi, seribu pintu rezeki akan datang,” katanya.
Ia juga memberi pesan khusus kepada mahasiswa yang sedang berjuang sambil bekerja. “Untuk adik-adik mahasiswa yang sedang menuntut ilmu dan bekerja demi kehidupan, semangatlah. Percayalah, kerja keras tidak akan mengkhianati hasil.”
Y.co Donuts & Coffee kini menjadi bukti bahwa usaha kecil dapat menyalakan cahaya besar, terutama ketika dijalankan dengan hati yang terus memilih untuk memberi.
