Palangkaraya, TeropongJakarta.com – Bagi Sofia Qolbu Ghena, literasi bukan sekadar aktivitas membaca buku atau kewajiban akademik di ruang kelas. Ia adalah jalan pemberdayaan cara membentuk kesadaran, karakter, dan kepercayaan diri. Keyakinan itu menjadi benang merah yang menyatukan seluruh peran yang kini ia jalani: guru bahasa Arab, staf perpustakaan, Putri Hijab Influencer Kalimantan Tengah, sekaligus kreator konten digital.
Ketertarikan Sofia pada literasi tumbuh sejak ia berada di lingkungan pendidikan dan perpustakaan sekolah. Di SMA Muhammadiyah 1 Palangkaraya, ia menyaksikan langsung bagaimana buku dan bahasa mampu mengubah cara berpikir siswa. “Pengetahuan punya daya hidup. Ia membuka cakrawala dan menumbuhkan keberanian untuk berpikir,” kata Sofia.
Pengalaman itu membentuk pandangannya bahwa literasi tidak boleh berhenti di rak buku atau ruang kelas. Ketika ia mulai aktif di media sosial dan kemudian dipercaya sebagai Putri Hijab Influencer Kalimantan Tengah, Sofia melihat peluang untuk membawa literasi ke ruang yang lebih luas: dunia digital. Baginya, literasi tidak harus hadir dalam bentuk teks panjang atau diskusi berat. Ia bisa disampaikan secara halus, konsisten, dan relevan dengan gaya hidup generasi muda.
Melalui konten visual mulai dari OOTD, kutipan singkat, hingga narasi keseharian Sofia menyisipkan pesan tentang identitas, kepercayaan diri, dan cara berpikir kritis. Ia memandang pilihan kata, visual, dan nilai yang disampaikan sebagai bagian dari literasi visual dan literasi makna. Di ruang interaksi yang lebih personal, seperti snapgram, ia kerap menampilkan aktivitas literasi nyata: kegiatan perpustakaan, proses belajar siswa, hingga diskusi ringan.

Selama hampir satu tahun menyandang gelar Putri Hijab Influencer, Sofia memaknai posisinya sebagai ruang kerja, bukan sekadar simbol representasi. Status tersebut memberinya jangkauan audiens dan kepercayaan publik yang ia gunakan untuk mengaitkan literasi dengan identitas perempuan berhijab. Ia membawa pesan bahwa hijab tidak hanya merepresentasikan estetika, tetapi juga pemikiran, wawasan, dan daya kritis.
Di lingkungan sekolah, tantangan terbesar menumbuhkan minat baca adalah persaingan perhatian dengan gawai dan hiburan instan. Membaca kerap dianggap membosankan dan identik dengan tuntutan akademik. Sofia memilih mengubah pendekatan. Perpustakaan dihidupkan sebagai ruang interaksi tempat dialog, refleksi, dan inspirasi. Di kelas, ia mengaitkan literasi dengan kehidupan nyata siswa, bukan semata-mata kurikulum.
Sofia menilai banyak gerakan literasi berhenti pada seremoni. Karena itu, ia memilih fokus pada kerja berkelanjutan: membangun kebiasaan, bukan program sesaat. “Keberhasilan literasi terlihat dari perubahan kecil yang konsisten,” ujarnya. Siswa yang membaca tanpa disuruh dan remaja yang lebih kritis terhadap informasi, menurutnya, adalah indikator paling nyata.
Bagi Sofia, literasi adalah jembatan antara pendidikan, budaya, dan masa depan. Selama diberi ruang dan amanah, ia bertekad menjadikannya napas perjuangan di sekolah, di media sosial, dan di ruang publik.
