Jakarta, TeropongJakarta.com – Menjadi prajurit perempuan TNI sudah menjadi impian Sertu Ttg/W Dhea Restya Febriani sejak kecil. Namun, perjalanan perempuan asal Pangkalpinang, Bangka Belitung, itu kemudian membawanya pada pengalaman yang jauh lebih besar: menjadi bagian dari pasukan penjaga perdamaian dunia di Republik Demokratik Kongo.
Sejak 2019, Dhea menjalani kedinasan sebagai prajurit TNI. Enam tahun kemudian, tepatnya pada 2025, ia mendapat kesempatan bergabung dalam Satgas INDO RDB 39G MONUSCO di Republik Demokratik Kongo.
Dalam misi tersebut, Dhea tergabung sebagai Female Engagement Team (FET). Peran ini membuatnya dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat, terutama perempuan dan anak-anak.
Sejak kecil, Dhea tertarik dengan sosok prajurit perempuan karena melihat kedisiplinan, loyalitas, sekaligus pengabdian kepada negara. Kecintaannya terhadap olahraga seperti pencak silat, voli, dan lari juga membentuk keyakinan bahwa dirinya memiliki kesiapan fisik dan mental sebagai prajurit.

“Aku ingin membuktikan kalau prajurit perempuan itu gak kalah tangguh, tapi juga bisa hadir dengan empati. Peacekeeper itu bukan cuma soal perang-perangan, tapi soal menjadi harapan buat orang lain,” ujar Dhea.
Keinginannya menjadi peacekeeper semakin kuat setelah mendengar pengalaman para senior yang lebih dulu mengikuti misi internasional. Sebelum berangkat, Dhea juga mempelajari kondisi Republik Demokratik Kongo dan dampak konflik terhadap masyarakat sipil.
Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi saat dirinya mengikuti kegiatan CIMIC di sebuah desa pedalaman. Dhea bertemu seorang ibu yang harus berjalan berkilo-kilometer untuk mendapatkan air.

“Dia jalan kaki berkilo-kilo cuma buat mengambil air yang warnanya sudah butek, kecokelatan. Untuk mendapatkan air bersih, mereka harus berjalan dari subuh,” tuturnya.
Di tengah keterbatasan, Dhea melihat anak-anak tetap bermain, tertawa, dan memiliki semangat untuk sekolah. Pengalaman itu membuatnya menyadari bahwa banyak hal sederhana yang selama ini dianggap biasa ternyata merupakan kemewahan bagi orang lain.
“Di Indonesia, tinggal putar keran air mengalir. Lapar tinggal pesan makanan. Di sana, air bersih itu privilege, makan adalah perjuangan, dan akses kesehatan juga terbatas,” katanya.
Misi tersebut juga mengubah cara pandang Dhea terhadap keluarga. Sebagai anak tunggal, ia dibesarkan sang ibu setelah ayahnya meninggal ketika dirinya berusia lima tahun.

Pengalaman di Kongo membuat Dhea semakin menghargai sosok ibunya.
“Ma, Dhea pulang. Misi selesai,” ucapnya.
Menurut Dhea, keberhasilan menjalankan misi bukan hanya miliknya. Doa dan dukungan sang ibu menjadi kekuatan selama berada jauh dari Indonesia.
“Dhea berangkat ke Kongo sebagai prajurit, tapi Dhea bertahan di sana sebagai anaknya Mama,” ujarnya.
Bagi Dhea, misi tersebut tidak hanya membuatnya menjadi prajurit yang lebih tangguh. Ia pulang dengan pemahaman baru bahwa kekuatan juga berarti mampu hadir, peduli, dan memberikan manfaat bagi orang lain.
“Intinya, tugas di Kongo itu gak cuma bikin aku jadi prajurit yang lebih tangguh, tapi jadi manusia yang lebih manusia,” katanya.
