Sidoarjo, TeropongJakarta.com – Jalan hidup Esa Kartika Dewantari Samudra, S.Psi., M.Pd., Psikolog., CH., CHt., tidak bisa dilepaskan dari dunia olahraga. Sebelum dikenal sebagai psikolog dan hipnoterapis, perempuan yang tinggal di Sidoarjo, Jawa Timur, ini lebih dulu menjalani kehidupan sebagai atlet finswimming.
Masa remajanya dihabiskan di SMA Negeri Olahraga Jawa Timur. Sebagai atlet, Esa terbiasa menjalani latihan setiap hari dengan target prestasi yang tidak ringan. Tekanan dari pelatih, tuntutan akademik, hingga harapan keluarga menjadi bagian dari kesehariannya.
Di tengah rutinitas tersebut, Esa mengaku tidak banyak memiliki kesempatan untuk menikmati masa muda seperti remaja pada umumnya.
“Sebagai atlet, saya dituntut setiap hari latihan dan mendapatkan tekanan dari pelatih. Belum lagi tuntutan akademik dari sekolah dan keluarga. Masa muda saya banyak dihabiskan untuk berlatih dan berprestasi,” ujar Esa.

Meski demikian, pengalaman tersebut justru membentuk karakter Esa menjadi pribadi yang disiplin dan tangguh. Sebagai anak perempuan pertama dari dua bersaudara, ia mengaku sejak kecil dididik orangtuanya untuk memiliki tiga konsep diri, yakni percaya diri, mandiri, dan berani.
Dukungan orangtua pula yang membuat Esa mampu melewati berbagai proses dalam perjalanan sebagai atlet. Ia pernah mengikuti sejumlah kejuaraan mulai dari tingkat daerah, provinsi hingga nasional.
Setelah lulus dari SMA Negeri Olahraga Jawa Timur, Esa sempat memiliki cita-cita untuk menjadi bagian dari TNI Angkatan Laut. Ia mengikuti proses seleksi sebanyak dua kali. Namun, impian tersebut belum terwujud.
Kegagalan itu tidak membuatnya berhenti. Esa kemudian memilih melanjutkan pendidikan di bidang psikologi. Ia menyelesaikan pendidikan S1 Psikologi, kemudian melanjutkan ke jenjang S2 hingga pendidikan profesi psikolog.

Menariknya, perjalanan Esa di dunia hipnoterapi justru sudah dimulai ketika dirinya masih duduk di bangku SMA. Saat itu, ia diperkenalkan dengan hipnoterapi oleh sang ayah.
“Awalnya saya diajak ayah. Saat itu ayah saya bilang, hipnoterapi ini nantinya akan bermanfaat untuk kehidupan saya,” tuturnya.
Ucapan sang ayah tersebut perlahan terbukti. Esa mulai memiliki pengalaman menangani klien sejak 2016, jauh sebelum dirinya menyelesaikan pendidikan profesi psikolog.
Pengalaman sebagai atlet kemudian menjadi bekal penting ketika Esa mendampingi orang-orang yang sedang menghadapi persoalan psikologis. Ia memahami bagaimana rasanya berada dalam tekanan, menghadapi tuntutan, sekaligus berusaha menembus batas kemampuan diri.
“Sebagai mantan atlet, saya tahu persis rasanya berjuang menembus batas rasa sakit. Pengalaman itulah yang mengantarkan saya pada babak baru kehidupan: menjadi seorang psikolog dan hipnoterapis,” katanya.

Kini, Esa tidak hanya menjalani profesinya sebagai psikolog dan hipnoterapis. Dalam kehidupan pribadinya, ia juga menjalani peran sebagai seorang istri TNI AL dan mengaku bangga menjadi bagian dari Jalasenastri.
Baginya, perjalanan hidup dari seorang atlet menuju dunia psikologi bukanlah dua jalan yang terpisah. Keduanya justru saling melengkapi.
Dunia olahraga mengajarkannya tentang disiplin, ketahanan mental, kegagalan, dan keberanian untuk kembali mencoba. Sementara pendidikan psikologi memberinya landasan keilmuan untuk memahami manusia secara lebih mendalam.
“Saya tidak hanya mempelajari teori, saya pernah hidup di dalamnya. Kini, tugas saya adalah membantu sesama manusia untuk bangkit dan menang dalam hidupnya,” ujar Esa.
Perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa kegagalan tidak selalu menjadi akhir dari sebuah cita-cita. Bagi Esa, terkadang kegagalan justru membuka jalan menuju tujuan yang lebih sesuai dengan kehidupan seseorang.
