Jakarta, TeropongJakarta.com – Tidak semua kesempatan datang dua kali. Bagi Serda Rum/W Dina, prajurit kesehatan asal Lampung, kesempatan mengikuti seleksi Satuan Tugas (Satgas) Hospital Level II TNI Kontingen Garuda (Konga) UNIFIL 2024 menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan pengabdiannya. Mengikuti seleksi untuk pertama kalinya, Dina berhasil melewati seluruh tahapan dan terpilih untuk menjalankan misi internasional di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sebelum mendapatkan kesempatan tersebut, Dina terlebih dahulu mengabdi di Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) dr. Mintohardjo, Jakarta Pusat. Selama tiga tahun berdinas, ia menjalani berbagai tugas pelayanan kesehatan, mulai dari berjaga di ruang perawatan, menjalani dinas malam, hingga memberikan pelayanan kepada pasien secara langsung.
Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter dan profesionalismenya sebagai prajurit kesehatan. Baginya, pengabdian tidak selalu dimulai dari penugasan besar, tetapi justru dibangun melalui tanggung jawab sederhana yang dilakukan setiap hari.

Perjalanan menuju Satgas UNIFIL juga membutuhkan persiapan yang tidak ringan. Dina harus melewati serangkaian tahapan seleksi yang mencakup kemampuan fisik, akademik, psikologi, bahasa Inggris, hingga pemeriksaan kesehatan.
“Persiapannya memang tidak mudah. Fisik, akademik, psikologi, bahasa Inggris, dan kesehatan semuanya diujikan. Jadi, kita harus benar-benar mempersiapkan diri dari berbagai aspek, bukan hanya kemampuan fisik, tetapi juga mental dan pengetahuan,” ungkap Dina.
Keberhasilan melewati seleksi dalam kesempatan pertama menjadi kebanggaan tersendiri baginya. Namun, Dina memahami bahwa terpilih sebagai bagian dari pasukan perdamaian bukan sekadar pencapaian pribadi. Ada amanah besar yang harus dijalankan dengan profesionalisme dan penuh tanggung jawab.
Menurutnya, pengalaman bertugas di lingkungan internasional menghadirkan perspektif baru tentang arti pengabdian seorang prajurit kesehatan. Jika sebelumnya pelayanan dilakukan di lingkungan rumah sakit dengan fokus melayani masyarakat Indonesia, dalam misi UNIFIL tanggung jawab tersebut juga berkaitan dengan membawa identitas bangsa di hadapan dunia internasional.

“Saya bangga bisa terpilih karena tidak semua prajurit kesehatan mendapatkan kesempatan untuk bertugas di UNIFIL. Di sana, saya tidak lagi hanya membawa nama RSAL, tetapi juga membawa nama TNI dan Indonesia di mata PBB,” tuturnya.
Dina menyadari bahwa setiap tindakan medis dalam penugasan internasional memiliki konsekuensi besar. Profesionalisme seorang tenaga kesehatan tidak hanya mencerminkan kemampuan individu, tetapi juga menjadi bagian dari penilaian terhadap institusi dan negara yang diwakilinya.
“Satu tindakan medis yang salah bisa berdampak pada citra yang kita bawa. Bukan hanya nama perorangan yang dipertaruhkan, tetapi juga nama TNI dan Merah Putih. Di sinilah saya belajar arti tanggung jawab yang sesungguhnya sebagai duta perdamaian,” jelasnya.

Dari perjalanan tersebut, Dina ingin mengingatkan para prajurit muda agar tidak meremehkan tugas sekecil apa pun. Menurutnya, pengalaman dan kemampuan tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui kedisiplinan, ketekunan, serta kesungguhan dalam menjalankan setiap amanah.
“Saya memulai pengabdian bukan dari tempat yang besar, tetapi dari jaga ruangan, dinas shift malam, dan merawat pasien satu per satu di RSAL Mintohardjo. Di sana saya belajar bahwa menjadi prajurit kesehatan bukan soal gagah di lapangan saja, tetapi tentang ketulusan melayani pasien setulus hati,” ungkapnya.
Kisah Dina menunjukkan bahwa kesempatan untuk mengemban tanggung jawab lebih besar dapat berawal dari kesungguhan menjalankan tugas sehari-hari. Baginya, setiap pengalaman adalah proses pembelajaran untuk menjadi prajurit yang lebih profesional sekaligus mampu menjaga kehormatan bangsa di mana pun ditugaskan.
