Serang, TeropongJakarta.com – Di Kota Serang, Nardina Salsabila Begum menapaki dua dunia yang berjalan beriringan namun jarang bersinggungan. Sebagai Research Analyst, ia terbiasa mengurai persoalan melalui data mencari pola, membaca kecenderungan, dan menyusun kesimpulan. Namun di luar ruang kerja, ia memilih hadir sebagai relawan pengajar bagi anak-anak di kawasan pinggiran Jakarta.
Bagi Nardina, data kerap memberi jawaban yang presisi, tetapi tidak selalu menghadirkan makna. “Data bisa menjelaskan apa yang terjadi, tapi tidak selalu menjawab kenapa itu terjadi,” ujarnya dalam wawancara, pekan ini.
Kesadaran itu tumbuh dari pengalaman personalnya menempuh pendidikan hingga meraih gelar MBA sebuah capaian yang ia nilai sebagai privilese di tengah akses pendidikan yang belum merata. Ia melihat, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk sampai di titik tersebut.
“Pendidikan bagi saya bukan sekadar alat untuk naik kelas sosial, tapi jembatan agar orang lain tidak tertinggal,” kata Nardina.
Pilihan untuk mengajar, menurut dia, bukan semata aktivitas sukarela, melainkan bagian dari tanggung jawab sosial. Ia menyebutnya sebagai upaya mengembalikan kesempatan kepada mereka yang tidak seberuntung dirinya.

Pengalaman di lapangan memperlihatkan realitas yang kontras. Ia mendapati anak-anak yang mampu menghafal gerakan media sosial dengan cepat, tetapi kesulitan menjawab soal matematika dasar. Bagi Nardina, fenomena ini mencerminkan bagaimana lingkungan membentuk cara belajar anak.
“Otak anak-anak itu adaptif. Mereka cepat menangkap hal yang memberi rasa senang dan diterima secara sosial. Masalahnya, pendidikan formal sering terasa jauh dari dunia mereka,” ujarnya.
Ia menilai persoalan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kondisi keluarga. Dalam banyak kasus, orang tua menghadapi tekanan ekonomi yang membuat pendampingan belajar menjadi terbatas. Pendidikan, dalam situasi itu, sering kali kalah prioritas dari kebutuhan dasar.
Di titik inilah, Nardina melihat pentingnya kehadiran pendidikan yang berkelanjutan untuk mengisi celah yang tidak mampu dijangkau keluarga.
Sebagai peneliti, ia membawa pendekatan berbasis riset ke dalam aktivitas sosialnya. Ia tidak berhenti pada empati, tetapi berupaya merumuskan metode pembelajaran yang lebih relevan bagi anak-anak di kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas dan mereka yang hidup di ruang-ruang terpinggirkan.
“Saya tidak ingin hanya merasa iba. Saya ingin mencari formula yang tepat agar pendidikan tidak lagi terasa sebagai beban,” kata dia.
Baginya, keresahan adalah titik berangkat. Setiap ketimpangan yang ia temui tidak hanya memantik simpati, tetapi juga dorongan intelektual untuk mencari solusi yang dapat diterapkan.

Di ruang belajar sederhana, ia menanamkan satu keyakinan yang terus diulang kepada anak-anak didiknya: pendidikan adalah jalan keluar dari keterbatasan.
“Saya selalu bilang ke mereka, latar belakang bukan akhir cerita. Mereka punya hak yang sama untuk melampaui batas yang ada,” ujar Nardina.
Ia menekankan bahwa pendidikan bukan sekadar tentang ijazah, melainkan keberanian untuk membuka kemungkinan baru. Harapannya, anak-anak yang ia dampingi tidak hanya belajar untuk bertahan, tetapi juga memiliki daya untuk memutus lingkaran keterbatasan.
Di antara angka-angka dan realitas lapangan, Nardina memilih berdiri di keduanya. Ia membaca data untuk memahami dunia, sekaligus hadir di tengah masyarakat untuk mengubahnya pelan, namun pasti.
