Jakarta, TeropongJakarta.com – Ketakutan mahasiswa saat menghadapi dosen pembimbing masih sering terjadi, terutama ketika menjalani proses penyusunan tugas akhir atau penelitian akademik. Kekhawatiran terhadap revisi yang terus bertambah kerap membuat sebagian mahasiswa merasa tertekan bahkan kehilangan kepercayaan diri.
Dosen Politeknik Jakarta Internasional, Refika Ayuna Sari, S.Kom., M.Kom., menilai pandangan tersebut perlu diluruskan. Menurut dia, proses bimbingan seharusnya dipahami sebagai ruang dialog yang konstruktif antara mahasiswa dan dosen untuk menyempurnakan gagasan serta kerangka berpikir ilmiah.
“Melalui Ilmu Komputer, kita belajar berpikir logis untuk menciptakan solusi digital yang solutif bagi tantangan zaman,” ujar Refika, Jumat, 13 Maret 2026.

Ia menegaskan mahasiswa tidak perlu merasa takut ketika melakukan bimbingan dengan dosen. Dalam proses akademik, kesalahan justru menjadi bagian penting dari pembelajaran.
“Jangan pernah takut untuk bimbingan ke dosen. Bimbingan adalah ruang dialog untuk penyempurnaan, bukan ajang penghakiman. Kesalahan bukanlah kegagalan, melainkan kesempatan untuk melakukan perbaikan yang nyata,” kata dia.
Refika mengaku pernah merasakan pengalaman serupa ketika masih menempuh pendidikan sarjana hingga magister. Saat itu ia kerap merasa khawatir setiap kali melakukan bimbingan karena revisi dari dosen pembimbing semakin banyak.
“Saya dulu sempat memiliki ketakutan bahwa semakin sering bimbingan, maka revisi akan semakin banyak. Di situ saya sempat merasa down dan menganggap diri saya gagal,” ujarnya.

Namun dukungan dari keluarga dan teman-teman membuatnya kembali bangkit. Tekad untuk menyelesaikan pendidikan terus tumbuh hingga akhirnya ia mampu meraih gelar yang selama ini dicita-citakan.
“Dengan doa dan semangat, alhamdulillah saya bisa menyelesaikan studi dan meraih gelar yang saya impikan,” kata Refika.
Kini ia bersyukur dapat mengabdikan diri di dunia pendidikan sebagai salah satu dosen muda di Politeknik Jakarta Internasional. Pengalaman yang pernah ia rasakan menjadi motivasi untuk memberikan dukungan kepada mahasiswa agar lebih percaya diri dalam proses akademik.
Sebagai dosen, Refika menegaskan tugas pengajar bukan untuk menghakimi mahasiswa, melainkan membantu memvalidasi apakah kerangka berpikir yang digunakan sudah tepat.
“Kami sebagai dosen tentunya ingin yang terbaik untuk mahasiswa. Jika ada kesalahan, itu ibarat bug yang harus diperbaiki bersama, bukan sesuatu yang harus dihukum,” ujarnya.

Menurut Refika, Ilmu Komputer juga melatih mahasiswa melalui konsep computational thinking, yakni kemampuan memecah persoalan besar menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah diselesaikan. Selain itu terdapat pula konsep abstraksi, yaitu fokus pada informasi penting agar solusi yang dihasilkan lebih efisien.
Dengan memahami konsep dasar seperti struktur data dan arsitektur sistem, mahasiswa juga diharapkan memiliki kemampuan adaptasi terhadap perkembangan teknologi yang terus berubah. Ia berharap mahasiswa tidak takut menghadapi proses bimbingan dan menjadikannya sebagai bagian penting dalam perjalanan menuju keberhasilan akademik.
