Jakarta, Teropongjakarta.com – Di balik khidmatnya upacara penaikan bendera Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-78 di , berdiri sosok perempuan muda yang sekaligus anggota , Sertu Aisya Sekar Ayu. Ia tidak hanya memimpin jalannya upacara sebagai MC, tetapi juga melewati seleksi ketat yang diikuti kandidat dari berbagai instansi, termasuk matra TNI lain dan Polri.
Kisah Aisya dimulai pada Mei 2023, saat ia menerima surat permintaan pembawa acara untuk HUT RI ke-78. Syaratnya ketat, mulai dari tinggi badan, postur, hingga kelengkapan administrasi. Tanpa ragu, Aisya mendaftar dan mengikuti seleksi tahap pertama di masing-masing matra: Kowal di Mabesal, Kowad di Mabesad, Wara di Mabesau, dan Polwan di Mabes Polri.
Dari sekitar 20 peserta Kowal yang datang dari berbagai daerah, Aisya berhasil masuk empat besar. Seleksi tahap pertama meliputi kemampuan membawakan MC upacara, penampilan, psikotes, serta pengukuran tinggi dan berat badan. “Alhamdulillah, saya lolos dan masuk tahap kedua di Garnisun Jakarta, di mana setiap matra mengirim empat kandidat,” ujar Aisya.

Tahap final berlangsung tiga hari, meliputi tes kesehatan, psikotes, wawancara, dan simulasi MC layaknya kondisi nyata di Istana. Dari hasil seleksi, dua kandidat dari setiap matra dipilih untuk memimpin upacara penaikan dan penurunan bendera. Aisya termasuk salah satu yang ditunjuk untuk memandu penaikan bendera, momen sakral yang menjadi puncak HUT RI ke-78.
Persiapan menjelang 17 Agustus dilakukan dengan disiplin tinggi. Aisya menjaga pola makan, mengonsumsi rebusan dan kencur, serta rutin berdoa agar mampu menjalankan tugas dengan sempurna. Latihan intensif dimulai pada 27 Juli di Lapangan Wiladatika, Cibubur, dari pukul 09.00 hingga 16.00, termasuk latihan bersama pasukan upacara dan Paskibraka. Drill berulang dilakukan untuk teks MC penaikan dan penurunan bendera hingga terbiasa.
“Yang epik, H-3 jam sebelum acara dimulai, baru kami diberi tahu siapa MC di penaikan dan penurunan. Penaikan bendera itu sangat sakral,” kata Aisya. Rasa bangga dan syukur pun mengiringi saat ia memimpin penaikan bendera di hadapan pejabat tinggi negara dan tamu undangan.

Bagi Aisya, pengalaman ini lebih dari sekadar tampil di panggung kenegaraan. Ia membuktikan profesionalisme, disiplin, dan dedikasi perempuan dalam dunia militer. “Ini tugas berat sekaligus mulia. Tidak semua orang bisa masuk ke Istana, apalagi menjadi MC, membawa nama baik TNI Angkatan Laut,” ujarnya.
Kisah Sertu Aisya Sekar Ayu menjadi inspirasi nyata bahwa pengabdian kepada negara dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk. Dengan disiplin, dedikasi, dan profesionalisme, ia membuktikan bahwa perempuan militer mampu berperan di panggung nasional, menginspirasi generasi muda untuk mengedepankan integritas, ketekunan, dan keberanian dalam setiap tugas yang diemban.
