Bintaro, TeropongJakarta.com – Di usia yang bagi banyak orang menjadi alasan untuk melambat, Nadia Narsies justru memilih tetap bergerak. Perempuan yang tinggal di Bintaro ini masih aktif mengikuti ballet, line dance, bermain piano dan biola, serta kembali ke dunia modeling setelah puluhan tahun meninggalkannya. Baginya, menua bukan fase yang perlu ditakuti, melainkan hasil dari pilihan hidup jangka panjang.
“Banyak yang bertanya apa rahasiaku tetap aktif dan terlihat segar di usia jelang 60 tahun. Aku selalu bilang, ini bukan sesuatu yang instan. Ini investasi sehat yang aku lakukan sejak puluhan tahun lalu,” ujar Nadia dalam wawancara, Senin, 26 Januari 2026.
Pilihan itu dimulai sejak usia sangat muda. Nadia mengaku telah menjadi vegetarian sejak berumur 10 tahun pada 1977, ketika pola makan tersebut masih dianggap tidak lazim di Indonesia. Ia baru menyampaikan pilihannya secara terbuka pada 1991. “Waktu itu vegetarian masih dianggap aneh. Tapi ternyata respons orang-orang justru sangat menghargai,” katanya.

Konsistensi itu berlanjut hingga masa kehamilan. Nadia memilih tetap menjalani pola makan vegan dan menyampaikannya secara terbuka kepada dokter kandungan. “Aku periksa kehamilan di Mount Elizabeth dan bilang ke dokter bahwa aku vegetarian. Dokternya malah bilang itu bagus dan mendukung,” ujarnya. Ia menegaskan, seluruh anaknya tumbuh sehat tanpa gangguan gizi. “Alhamdulillah, tidak ada yang kurang gizi atau mengalami masalah kesehatan.”
Selain pola makan, aktivitas fisik menjadi bagian penting dalam kesehariannya sejak dekade 1980-an. Nadia terbiasa berolahraga, mulai dari gym hingga menari. Kebiasaan itu ia jaga hingga kini. “Sekarang aku masih aktif ballet dan line dance, juga bermain piano dan biola. Tahun lalu aku bahkan masih tampil ballet di Gedung Kesenian Jakarta,” katanya.
Pada akhir 2025, Nadia kembali ke dunia modeling yang pernah ia tinggalkan selama puluhan tahun. Keputusan itu ia ambil tanpa beban usia. “Menurutku, menua itu tidak harus ditakuti. Tubuh justru harus terus dipakai,” ujarnya.

Di luar aktivitas fisik, Nadia juga dikenal menjalani hidup secara mandiri. Selama lebih dari tiga dekade, ia hidup tanpa pembantu rumah tangga, babysitter, nanny, maupun sopir. Anak-anaknya pun dididik untuk mandiri sejak kecil. Ia juga menjalani peran sebagai single mother hampir 20 tahun, pengalaman yang menurutnya membentuk keteguhan hidup.
Selain disiplin, Nadia menekankan pentingnya sikap mental yang kuat. “Jangan mengeluh. Hadapi hidup ini dengan positive thinking. Bahagiakan diri sendiri,” ujarnya. Menurut Nadia, kebahagiaan bukan soal usia, tetapi tentang cara seseorang memilih memaknai hidup.
Pengalaman hidup Nadia tidak berhenti di Indonesia. Ia mengaku telah melakukan perjalanan ke 23 negara di empat benua, dan pernah tinggal di beberapa negara. “Traveling dan tinggal di berbagai negara memberi perspektif baru. Aku belajar bahwa pola hidup sehat itu universal, hanya cara penerapannya yang berbeda,” katanya.

Pengalamannya tinggal di beberapa negara dan bepergian ke 23 negara di empat benua memperluas pandangannya tentang gaya hidup sehat dan aktif. Namun Nadia menegaskan, kunci utama tetap pada konsistensi. “Investasi sehat itu tidak bisa instan. Harus dilakukan terus-menerus, dan hasilnya baru terasa puluhan tahun kemudian,” katanya.
Kini, setelah pensiun, Nadia memilih menikmati hidup dengan ritme yang ia tentukan sendiri. Ia menolak pandangan bahwa lansia identik dengan pasif. “Lansia jangan jadi kaum rebahan. Harus tetap bergerak, ikut komunitas yang membuat badan aktif, dan menjaga pola makan,” ujarnya.
Bagi Nadia Narsies, kualitas hidup di usia lanjut bukan soal keberuntungan, melainkan konsekuensi dari pilihan yang dijalani dengan disiplin sejak muda.
