Jakarta, TeropongJakarta.com – Pada usia 35 tahun, Dr. Astrid Maharani, SE., M.Akun., CSRS., CSRA., CSP., CRA., CMA., CBV. menuntaskan studi doktoralnya dengan satu kesimpulan yang ia pegang teguh: pendidikan adalah proses pembentukan karakter, bukan sekadar perburuan gelar. Dosen Universitas Muhammadiyah Jember itu menyebut keberhasilannya sebagai hasil dari kerja sunyi yang ditopang ekosistem positif di sekelilingnya.
Keputusan melanjutkan studi doktoral bermula ketika Astrid memperoleh beasiswa dari pada usia 32 tahun. Kesempatan itu datang di tengah tanggung jawabnya sebagai istri, ibu, dan akademisi. “Saya melihatnya sebagai amanah,” ujarnya. Baginya, dukungan keluarga suami, anak, dan orang tua menjadi fondasi yang membuat langkah akademiknya tetap seimbang.
Menjalani studi S3 sembari mengemban peran domestik dan profesional bukan perkara sederhana. Astrid harus membagi waktu antara riset, pengajaran, dan keluarga. Namun ia menolak memaknai proses tersebut semata sebagai kompetisi akademik. “Bukan tentang berapa IPK yang diraih, melainkan tentang pendewasaan dan pelajaran hidup,” katanya.

Dalam perjalanan doktoralnya, Astrid mengaku banyak belajar dari ruang-ruang diskusi dan perjumpaan. Ia berinteraksi dengan guru besar, rekan seangkatan, senior, junior, hingga tenaga kependidikan. Dari percakapan akademik hingga kisah personal, ia menemukan bahwa pendidikan tinggi juga membentuk empati dan ketangguhan. “Kita belajar memahami banyak perspektif,” ujarnya.
Pengalaman itu memperkuat pandangannya tentang peran pendidikan dalam pemberdayaan perempuan. Menurut Astrid, pendidikan adalah instrumen perubahan peradaban. Ia percaya anak perempuan akan mencontoh perjuangan dari lingkar terdekatnya. Ketika seorang ibu atau dosen menunjukkan komitmen terhadap pembelajaran, pesan itu akan hidup dalam keseharian.
Di tengah perdebatan mengenai peran ganda perempuan, Astrid menilai narasi tentang keterbatasan perlu digeser menjadi narasi tentang kolaborasi. Ia menyebut pentingnya dukungan lingkungan dan solidaritas antarsesama perempuan. Prinsip “woman support woman”, kata dia, bukan sekadar slogan, melainkan gerakan kolektif untuk saling menguatkan di ruang akademik dan profesional.

Astrid juga menekankan bahwa studi lanjut seharusnya dipahami sebagai perjalanan jangka panjang. Tekanan akademik, tenggat penelitian, dan ekspektasi sosial adalah bagian dari proses yang membentuk daya tahan. “Saat kita berproses, energi positif itu ikut dirasakan lingkungan sekitar,” ujarnya.
Kini, selepas menyandang gelar doktor, Astrid kembali ke ruang-ruang kelas di Jember dengan perspektif yang lebih luas. Ia melanjutkan perannya sebagai pendidik sekaligus pembelajar. Baginya, capaian akademik bukan garis akhir, melainkan titik tolak untuk memberi dampak yang lebih besar.
Di kota yang tumbuh sebagai pusat pendidikan di Jawa Timur itu, kisah Astrid menjadi pengingat bahwa pendidikan tinggi tetap relevan sebagai jalan perubahan bagi individu, keluarga, dan masyarakat. Sebab, seperti yang ia yakini, pendidikan bukan hanya tentang apa yang dicapai, melainkan tentang siapa yang dibentuk sepanjang perjalanan.
