Brebes, TeropongJakarta.com – Sashi Putri mengenal betul rasanya menahan diri. Sebagai pribadi introvert, ia tumbuh dalam lingkar kenyamanan yang perlahan ia sadari justru membatasi ruang tumbuh dan keberaniannya mengambil langkah baru.
“Saya dulu takut memulai apa pun. Takut salah, takut dinilai,” ujar Sashi kepada Teropongjakarta, Jumat, 3 Januari 2026.
Perubahan itu mulai terasa sejak masa sekolah. Sashi memutuskan terlibat aktif dalam organisasi dan kompetisi, meski harus melawan rasa canggung. Dari pengalaman tersebut, ia belajar bahwa keberanian bukan bawaan, melainkan kebiasaan yang dilatih.
“Saya merasa diterima bukan karena berubah menjadi orang lain, tapi karena berani menunjukkan kemampuan,” katanya.

Pengalaman itu membentuk cara pandangnya ketika memasuki dunia kerja di tengah percepatan era digital. Bagi Sashi, keluar dari zona nyaman bukan tentang meninggalkan jati diri, melainkan memperluas kapasitas diri agar bisa beradaptasi. Ia mulai membangun personal branding sebagai sarana komunikasi profesional, sekaligus untuk mendukung kinerja perusahaan dan menjembatani relasi lintas sektor.
“Personal branding saya bangun bukan untuk terlihat hebat, tapi agar kerja saya lebih berdampak,” ujarnya.
Media sosial kemudian menjadi ruang eksplorasi. Berawal dari kebiasaan menggunakan platform digital, Sashi melihat peluang untuk berkembang lebih jauh. Ia membangun identitas digital secara konsisten hingga membuka kesempatan baru, mulai dari model fashion, muse, model talent, hingga content creator.
“Saya awalnya hanya berpikir bagaimana bisa berkembang. Soal penghasilan itu datang belakangan,” kata Sashi.

Ia juga memanfaatkan hobi yang kerap dianggap remeh berbelanja, berjalan-jalan, dan kulineran sebagai bagian dari konten digital. Menurutnya, era digital memberi ruang bagi siapa pun untuk mengolah minat menjadi nilai, selama dijalani dengan kesadaran dan konsistensi.
“Mulai saja dulu dengan apa yang kita punya,” ucapnya.
Sashi menilai, peluang di era digital terbuka luas, termasuk bagi mereka yang berasal dari daerah. Namun, rasa aman sering kali membuat seseorang enggan melangkah. Padahal, menurutnya, tidak ada pertumbuhan tanpa keberanian mengambil risiko.
“Zona nyaman memang terasa aman,” kata Sashi. “Tapi tidak ada sesuatu pun yang tumbuh di sana.”
