Jogja, TeropongJakarta.com – Daeng Meilani Ananda Putri Malik, perempuan asal Jombang, Jawa Timur, menapaki 2024 dengan ritme hidup yang nyaris tanpa jeda. Pada Juni 2024, ia menjalani sidang seminar hasil skripsi di Universitas Negeri Surabaya. Dua pekan setelahnya, Surat Keterangan Lulus (SKL) yang ia tunggu terbit dokumen yang menjadi syarat penting untuk mendaftar studi magister.
Waktu itu, tenggat pendaftaran S2 beriringan dengan proses administrasi kelulusannya. “Jarak antara sidang dan keluarnya SKL hanya sekitar dua minggu. Sementara jadwal pendaftaran cukup mepet. Rasanya tegang,” ujar Meilani saat dihubungi, awal pekan ini. Ia mengaku semula belum memiliki rencana melanjutkan studi. Namun dorongan dosen pembimbing membuatnya mantap mencoba. Hasilnya, pada Juli 2024 ia diterima di program magister Universitas Negeri Yogyakarta. Sebulan kemudian, Agustus 2024, ia resmi diwisuda sebagai sarjana.
Perpindahannya ke Yogyakarta membuka fase baru. Karena sebagian besar perkuliahan S2 berlangsung daring, Meilani memilih tak membiarkan waktunya longgar. Pada September 2024, ia melamar dan diterima mengajar di SMP Muhammadiyah 2 Gamping setiap Senin hingga Rabu. Sebulan berselang, ia kembali mendapat kesempatan mengajar di SMP Hamong Putera setiap Kamis dan Jumat.

Rutinitasnya pun terstruktur. Pagi hingga siang berada di kelas, sore hingga malam mengikuti kuliah atau mengerjakan tugas. Akhir pekan ia manfaatkan untuk rapat, menyusun perangkat ajar, serta menyelesaikan kewajiban akademik. “Saya membuat to do list dan skala prioritas. Setiap kewajiban saya beri target waktu. Tanpa itu, semuanya bisa terasa menumpuk,” katanya.
Di luar kampus dan sekolah, Meilani aktif dalam organisasi tingkat fakultas, KMMD FBSB (Keluarga Mahasiswa Magister dan Doktoral Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya), pada divisi penelitian dan pengembangan. Ia juga bergabung dalam Komnasdik DIY untuk periode 2025–2030, memperluas jejaring dan keterlibatannya dalam isu pendidikan.

Kesibukan itu belum berhenti. Di tengah proses penyusunan tesis, ia dinyatakan lolos Pendidikan Profesi Guru (PPG) di LPTK Universitas PGRI Semarang dan resmi lulus pada 25 Desember 2025. Baginya, capaian tersebut memperkuat tanggung jawab profesionalnya sebagai pendidik.
“Saya ingin menjadi guru yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga adab, etika, dan akhlak. Pendidikan harus menumbuhkan karakter dan kecintaan terhadap budaya, khususnya budaya Jawa,” ujarnya.
Bagi Meilani, pilihan untuk terus bergerak adalah cara belajar tentang efektivitas dan efisiensi waktu. Ia percaya, pengalaman mengajar, berorganisasi, dan menempuh studi lanjut secara bersamaan menjadi bekal untuk memahami dunia pendidikan secara lebih utuh. Di tengah padatnya agenda, ia menemukan satu hal yang pasti: komitmen untuk terus bertumbuh.
