Jakarta, TeropongJakarta.com – Menjadi prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) bagi Serda (K) Kevin Elsaday br Siagian bukan sekadar tentang mengenakan seragam loreng. Di balik keberhasilannya menjadi Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad), tersimpan perjalanan panjang yang penuh keterbatasan, kegagalan, hingga nyaris menyerah.
Kevin merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, putri pasangan Karenius Siagian dan Rosdiana br Sihotang. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana. Sang ayah bekerja sebagai petani dengan lahan yang tidak luas, sementara sang ibu bekerja sebagai pembantu.
Kondisi ekonomi keluarga membuat kehidupan sehari-hari mereka tidak selalu mudah. Kevin bahkan mengaku, untuk makan saja keluarganya harus bersyukur, meski terkadang hanya tersedia nasi tanpa lauk.
Kondisi tersebut justru menjadi salah satu alasan yang mendorong Kevin mengejar cita-cita menjadi abdi negara.
“Ini yang mendorong saya menjadi seorang Kowad,” ujar Kevin.
Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, Kevin mulai mempersiapkan diri mengikuti seleksi menjadi abdi negara. Namun, persiapannya dilakukan dengan cara sederhana.
Tidak ada biaya untuk mengikuti bimbingan belajar atau pembinaan fisik khusus. Kevin memilih memanfaatkan teknologi yang tersedia di genggamannya.
Ia mempelajari teknik lari, push-up, sit-up, berenang hingga persiapan psikotes melalui berbagai tutorial di YouTube.
“Semua saya belajar dari YouTube. Karena untuk biaya ikut binsik dan bimbel psikotes, orang tua tidak ada uang,” ungkapnya.

Keterbatasan juga terlihat dari perlengkapan yang digunakan. Untuk mengikuti persiapan seleksi, Kevin menggunakan seragam putih dan rok hitam SMA miliknya sebagai pakaian hitam-putih. Sepatu olahraga yang digunakan untuk latihan pun merupakan sepatu sekolah.
Kevin memilih tidak meminta perlengkapan baru kepada orang tuanya. Ia menyadari masih ada dua adiknya yang juga membutuhkan biaya pendidikan.
“Saya tidak tega jika meminta uang orang tua, karena saya masih punya dua adik lagi yang harus dibiayai sekolah,” katanya.
Perjalanan Kevin menjadi abdi negara tidak berlangsung sekali jalan. Ia harus mencoba berkali-kali sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan mengenakan seragam TNI.
Seleksi tersebut dilaluinya sebanyak lima kali.
Pada 2021, Kevin mengikuti seleksi Kowad. Setahun kemudian, ia kembali mencoba seleksi Kowad sekaligus mengikuti seleksi Wara pada 2022. Pada 2023, ia mencoba seleksi Polwan dan kembali mengikuti seleksi Kowad.
Barulah pada seleksi Kowad 2023, perjuangan panjang tersebut membuahkan hasil. Kevin dinyatakan lulus dan berkesempatan mengikuti pendidikan Kowad di Bandung.

Lima kali mencoba tentu bukan perkara mudah. Kevin mengaku pada seleksi terakhir dirinya sudah merasa sangat jenuh dan hampir putus asa.
Salah satu hal yang membuatnya berat adalah melihat perjuangan orang tua yang terus membiayai kebutuhan kos dan makan selama dirinya mengikuti seleksi.
“Kadang saya berpikir, mereka dapat uang dari mana, sedangkan untuk makan sehari-hari saja sulit,” tuturnya.
Namun, Kevin memilih kembali bangkit. Ada satu hal yang selalu menjadi penguat Kevin ketika kegagalan datang berulang kali: wajah kedua orang tuanya.
Dalam pikirannya, menjadi abdi negara bukan semata-mata tentang pekerjaan. Ia ingin suatu hari mampu memperbaiki kehidupan keluarganya.
“Saya melihat wajah orang tua saya. Di pikiran saya saat itu, saya akan mengangkat derajat kedua orang tua saya dengan saya menjadi abdi negara,” ujarnya.
Pengalaman melihat orang tuanya mengalami kesulitan ekonomi juga menjadi dorongan tersendiri.
Kevin masih mengingat ketika orang tuanya pernah harus meminjam uang, tetapi tidak mendapatkan bantuan. Pengalaman tersebut meninggalkan luka sekaligus tekad dalam dirinya.
Sejak SD, SMP hingga SMA, Kevin mengaku sering tidak memiliki uang jajan. Baginya, bisa makan saja sudah menjadi sesuatu yang patut disyukuri.
Karena itu, salah satu motivasinya adalah memastikan kedua adiknya kelak tidak harus mengalami kesulitan yang sama.
“Saya berharap adik-adik saya tidak merasakan sakitnya seperti saya saat sekolah. Saya juga ingin orang tua saya tidak mengalami kesulitan ekonomi lagi,” katanya.

Kevin kini memilih membagikan kisahnya bukan untuk membanggakan pencapaian pribadi. Ia ingin pengalamannya menjadi penyemangat bagi anak muda yang memiliki cita-cita menjadi abdi negara tetapi merasa minder karena berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas.
Menurutnya, keterbatasan ekonomi tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti mengejar cita-cita.
Ia membuktikannya sendiri. Tanpa mengikuti bimbingan belajar berbayar, tanpa perlengkapan khusus, dan setelah empat kali belum berhasil, Kevin akhirnya mampu melewati seleksi kelima.
“Kejarlah mimpi. Ekonomi keluarga bukanlah tembok penghalang untuk menggapai cita-cita yang kamu inginkan,” pesannya.
Menurut Kevin, keterbatasan justru dapat dijadikan bahan bakar untuk keluar dari kondisi sulit.
“Justru menjadi motivasi untuk keluar dari zona kemiskinan. Pastikan kamu yang mengangkat derajat orang tua kamu. Maka dengan seizin Yang Maha Kuasa, terlaksanalah,” lanjutnya.
Bagi Kevin, menjadi tentara juga bukan semata-mata perkara penghasilan. Ada nilai pengabdian dan kebanggaan keluarga yang jauh lebih besar.
“Gaji tentara tidak membuat kita kaya. Tapi ini bukan soal gaji. Ini soal derajat orang tua yang harus diangkat,” pungkasnya.
