Sulawesi Tengah, TeropongJakarta.com – Bagi Adira Aulia, menjadi polisi wanita pernah terasa sebagai mimpi yang terlalu jauh. Ia lahir dan tumbuh di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Kedua orang tuanya adalah petani, menggantungkan hidup pada hasil ladang yang tak selalu pasti. Dalam lingkungan seperti itu, cita-cita berseragam Polwan kerap terdengar berlebihan.
“Dulu saya sempat berpikir, mungkin saya tidak bisa,” kata Adira, kini berpangkat Bripda dan bertugas di Polres Tolitoli. Keraguan itu bukan hanya datang dari dalam diri, tetapi juga dari sekitar. Tak sedikit yang meremehkan, mempertanyakan kemampuannya, bahkan menilai latar belakang keluarga sebagai penghalang.
Namun Adira memilih jalan lain. Keinginan menjadi Polwan yang tumbuh sejak kecil justru menguat setiap kali ia diremehkan. Ia menjadikan keraguan orang lain sebagai pemantik tekad. “Semakin diremehkan, saya justru ingin membuktikan bahwa saya bisa,” ujarnya.

Perjalanan menuju seragam cokelat itu tidak singkat. Ia melalui berbagai tahapan seleksi yang menuntut kesiapan fisik, mental, dan disiplin. Di setiap tahap, peran keluarga menjadi penopang utama. Orang tuanya hadir mendampingi, dari satu tes ke tes lain, tanpa banyak keluhan. Dalam keterbatasan ekonomi, mereka tetap berusaha memenuhi kebutuhan yang diperlukan Adira.
“Pengorbanan mereka besar,” kata Adira. Ia menyebut dukungan itu tidak hanya dalam bentuk materi, tetapi juga doa dan keyakinan yang tak pernah putus. Keluarga, menurutnya, menjadi alasan ia tak pernah benar-benar merasa jatuh atau kehilangan semangat selama proses panjang tersebut.
Adira menilai keberhasilan bukan semata hasil kemampuan pribadi. Ada konsistensi, kesungguhan, dan keberanian untuk menekuni apa yang dipilih. Ia percaya, sesuatu yang dijalani dengan serius akan menemukan hasilnya sendiri, terlebih bila disertai dukungan orang terdekat.
Ketika akhirnya dinyatakan lulus dan resmi menjadi anggota Polri, Adira mengaku tak sepenuhnya percaya. Status yang dulu hanya ada dalam daftar harapan bahkan sempat ia anggap mustahil kini menjadi kenyataan. “Saya tidak menyangka bisa sampai di titik ini,” ujarnya.

Kini ia kembali ke daerah asalnya, bertugas di Polres Tolitoli. Bagi Adira, kepulangan itu bukan sekadar penempatan kerja, melainkan juga penegasan bahwa mimpi tidak selalu harus lahir dari kemewahan atau kemudahan.
Ia berharap pengalamannya dapat dibaca sebagai cermin bagi mereka yang merasa tertinggal karena kondisi keluarga. Menurut Adira, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti melangkah. “Kalau hanya berdiam diri, tidak akan ada perubahan. Tapi kalau ada usaha, pasti ada hasil,” katanya.
Di balik seragam Polwan yang kini dikenakan, tersimpan cerita tentang ladang, kesabaran orang tua, dan keyakinan yang dijaga diam-diam. Sebuah perjalanan sunyi, yang pelan-pelan menemukan tujuannya.

semangatt ibuu polwankuu❤️