Purbalingga, TeropongJakarta.com – Rutinitas yang berulang kerap terasa aman, tetapi pada saat yang sama dapat menumpulkan kesadaran akan tubuh dan pikiran. Itulah yang dirasakan Pritha Amelia, Account Officer kredit di sebuah bank milik negara, sebelum ia memutuskan mengubah kebiasaan hidupnya pada pertengahan 2023.
Pada Juli tahun itu, Pritha mulai rutin mendatangi pusat kebugaran. Keputusan tersebut berangkat dari dua hal sederhana: kondisi tubuh yang ia nilai sudah overweight dan kejenuhan akibat ritme kerja yang monoton. Berat badan berlebih membuatnya cepat lelah, sementara tuntutan pekerjaan perbankan yang sarat target membutuhkan stamina dan fokus tinggi. “Awalnya hanya ingin cari kegiatan lain supaya pikiran lebih segar,” kata Pritha kepada Teropong Jakarta.
Namun, langkah awal itu tidak serta-merta berjalan mulus. Nyeri otot hebat di masa awal latihan sempat membuatnya hampir berhenti. Rasa canggung datang ke gym seorang diri juga menjadi tantangan tersendiri. Pada periode awal, ia selalu berangkat bersama teman. Jadwal latihan pun bergantung pada kesepakatan bersama.

Ketika kesibukan masing-masing membuat kebersamaan itu tak lagi terjaga, Pritha dihadapkan pada pilihan yang menentukan. Sejumlah temannya berhenti berolahraga. Ia memilih tetap datang, meski harus sendirian. “Saya berpikir, masa hal seperti ini saja sudah menyerah,” ujarnya.
Dari keputusan kecil itu, perubahan mulai terasa. Datang ke gym seorang diri melatih kemandirian sekaligus disiplin. Ia menyadari bahwa ketergantungan pada orang lain justru bisa menghambat kemajuan. “Kalau terus bergantung, saya tidak akan maju,” kata Pritha.
Setahun setelah memulai rutinitas tersebut, hasilnya nyata. Berat badannya turun sekitar 10 kilogram. Lebih dari sekadar perubahan fisik, stamina meningkat dan rasa percaya diri tumbuh. Aktivitas gym yang semula hanya upaya menurunkan berat badan berubah menjadi bagian dari gaya hidup.

Seiring waktu, Pritha mulai mencoba cabang olahraga lain seperti lari, mendaki gunung, tenis, hingga padel. Ia juga bergabung dengan beberapa komunitas olahraga. Selain menjaga motivasi, keterlibatan itu memperluas jejaring pertemanan di luar lingkungan kerja.
Kini, Pritha meluangkan waktu berolahraga tiga hingga lima kali dalam sepekan. Di tengah kesibukan kerja, olahraga ia maknai sebagai ruang menjaga keseimbangan diri. “Kesehatan adalah aset terbesar,” ujarnya, merangkum pengalaman yang ia jalani secara konsisten.
Kisah Pritha Amelia bukan tentang pencapaian ekstrem, melainkan tentang disiplin yang tumbuh dari kesadaran. Di tengah kehidupan yang serba cepat, ia menunjukkan bahwa perubahan sering lahir dari keputusan sederhana yang dijaga dengan ketekunan bahkan ketika tak ada lagi yang menemani.
