Semarang, TeropongJakarta.com – Kesuksesan seorang perempuan tidak selalu diukur dari jabatan, gelar akademik, atau pencapaian karier. Lebih dari itu, keberanian menentukan arah kehidupan, kemampuan melewati masa sulit, serta kepedulian terhadap sesama menjadi bagian penting dari makna pemberdayaan perempuan atau woman empowerment.
Prinsip tersebut tercermin dalam perjalanan hidup dr. Novi Anggriyani, SpJP (K), FIHA, FICA, atau yang akrab disapa Nopek. Ia merupakan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan kedokteran vaskular yang berpraktik di Semarang.
Lahir dan besar di Semarang, perjalanan medis Novi dimulai dari kota kelahirannya. Ia menempuh pendidikan kedokteran hingga menyelesaikan pendidikan spesialis jantung dan pembuluh darah di Universitas Diponegoro (UNDIP). Ketertarikannya pada bidang vaskular kemudian mendorongnya melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar konsultan kedokteran vaskular.
Untuk memperluas wawasan klinis dan keterampilan teknis, dr. Novi juga menjalani pembelajaran di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta, sebelum melanjutkan pelatihan ke Tielt, Belgia, dan Sydney, Australia.

Pengalaman tersebut memberinya perspektif lebih luas mengenai perkembangan penanganan penyakit vaskular di tingkat internasional.
“Pengalaman lintas negara ini memberikan wawasan berharga mengenai standar tata laksana vaskular global yang kini saya terapkan dalam praktik sehari-hari di RS Siloam dan RS Columbia Asia Semarang,” ujarnya.
Namun, di balik perjalanan profesionalnya, Novi memiliki pengalaman hidup yang membentuk pandangannya tentang kemandirian dan kekuatan perempuan. Ia pernah melewati masa sulit dalam kehidupan rumah tangga, termasuk menghadapi perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan akhirnya memutuskan untuk menjadi single parent bagi ketiga anaknya.
Pengalaman berharga tersebut menjadi titik balik yang mendorongnya mengambil keputusan besar untuk membangun kembali kehidupan bersama anak-anaknya.

Baginya, woman empowerment,bukan sekadar kesempatan perempuan untuk menduduki posisi strategis atau memiliki karier cemerlang. Pemberdayaan yang sesungguhnya dimulai ketika perempuan memiliki kendali atas hidupnya sendiri, berani mengambil keputusan, dan mampu bangkit dari situasi yang tidak sehat.
“Esensi tertinggi dari pemberdayaan perempuan adalah ketika kita punya otoritas penuh atas hidup kita sendiri dan punya ruang aman untuk menyembuhkan luka. Ini bukan cuma soal seberapa tinggi gelar atau posisi kita, tetapi tentang ketangguhan batin,” ungkap dr. Novi.
Menjalani peran sebagai ibu tunggal bukan perkara mudah. Di tengah kesibukannya menangani pasien di rumah sakit, Novi juga harus membagi waktu untuk membesarkan anak-anak dan tinggal bersama ibunya yang telah lanjut usia.

Ia bersyukur dapat mengantarkan anak pertamanya menempuh pendidikan tinggi di Melbourne, Australia, sementara anak-anak lainnya juga terus menunjukkan prestasi di sekolah internasional. Di sisi lain, perhatian terhadap sang ibu yang kini berusia 81 tahun tetap menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Bagi Novi, kemandirian finansial dan mental merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Kemandirian memberikan perempuan kesempatan untuk menentukan pilihan, sedangkan keberanian membuat mereka mampu menghadapi ketidakadilan.
“Perempuan itu harus mandiri secara mental dan finansial. Kenapa? Supaya kita punya pilihan. Ketika kita mandiri, kita tidak bisa didikte oleh rasa takut atau ketergantungan,” tuturnya.
Selain menjalankan profesi medis dan tanggung jawab keluarga, Novi berusaha mempertahankan kepedulian sosial. Ia membiasakan diri berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan, termasuk anak-anak di panti asuhan dan pengemudi ojek online.

Menariknya, ia memilih melakukan sejumlah kegiatan berbagi secara diam-diam tanpa dokumentasi. Baginya, membantu orang lain tidak harus disertai publikasi atau pengakuan.
Ia juga menyalurkan kepedulian melalui kegiatan Yayasan Sosial Semeru bersama jejaring sahabatnya. Menurutnya, kepedulian sosial dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Di tengah rutinitas tersebut, Novi tetap menyediakan waktu untuk menjaga keseimbangan hidup. Bermain tennis, travelling, serta menjaga hubungan dengan sahabat sejak masa sekolah hingga pendidikan kedokteran menjadi bagian penting untuk merawat kesehatan mental.

Ke depan, ia berharap semakin banyak perempuan berani saling mendukung, terutama mereka yang sedang menghadapi persoalan rumah tangga maupun situasi sulit lainnya. Perempuan yang telah berhasil melewati masa krisis, menurutnya, dapat menjadi ruang aman bagi perempuan lain untuk bercerita dan menemukan kembali kepercayaan dirinya.
“Jangan pernah memisahkan kesuksesan pribadi dari dampak sosial. Keberhasilan tertinggi seorang perempuan bukanlah saat ia berdiri sendirian di puncak pencapaiannya, melainkan seberapa banyak tangan perempuan lain yang mampu ia raih dan tarik ke atas bersamanya,” pesan dr. Novi.
Melalui perjalanan profesional dan pengalaman personalnya, Novi menunjukkan bahwa keberdayaan perempuan tidak berhenti pada pencapaian individu. Kekuatan itu juga terlihat dari keberanian bangkit, keteguhan menjalani berbagai peran, serta kemauan untuk menghadirkan manfaat bagi orang lain.
