Malang, TeropongJakarta.com – Di balik seragam tenaga kesehatan, Hylda Novi menyimpan komitmen lain yang tak kalah menuntut: disiplin sebagai atlet powerlifting casual. Perempuan yang bekerja di sebuah rumah sakit di Kota Malang itu terbiasa membagi energi antara ruang perawatan dan ruang latihan dua arena yang sama-sama memerlukan fokus, presisi, dan daya tahan mental.
Bagi Novi, manajemen waktu adalah fondasi. Setiap awal bulan, ia memeriksa jadwal shift lalu menyesuaikannya dengan program latihan. “Biasanya saya sesuaikan dengan jadwal shift tiap bulan. Jika memungkinkan, saya juga mengajukan permintaan jadwal,” ujarnya, pekan ini. Dari sana, ia memetakan sesi latihan beban, kardio, hingga waktu pemulihan.
Tantangan terbesar datang dari waktu istirahat dan pengelolaan kelelahan. Profesi nakes menuntut kesiagaan penuh, sementara persiapan kompetisi membutuhkan konsistensi latihan dan disiplin nutrisi. “Di satu sisi ada tanggung jawab pekerjaan, di sisi lain tetap harus menjalankan program latihan supaya target tercapai,” kata Novi. Pada periode mendekati lomba, intensitas latihan meningkat, sementara jam tidur kerap tergerus jadwal jaga.

Benturan agenda tak jarang terjadi. Untuk kompetisi, Novi memilih langkah administratif: mengajukan cuti dan libur jauh hari. Strategi itu memberinya ruang fokus pada puncak persiapan. Adapun jika jadwal kerja berbenturan dengan latihan rutin, ia menggeser waktu latihan lebih pagi sebelum shift atau lebih malam setelah tugas selesai. Fleksibilitas, menurutnya, menjadi kunci menjaga konsistensi tanpa mengorbankan profesionalisme.
Dukungan lingkungan kerja memperkuat langkahnya. Rekan satu ruangan memahami komitmennya, sementara manajemen rumah sakit memberikan apresiasi atas upayanya menyeimbangkan prestasi dan tanggung jawab. “Teman-teman mendukung, dan manajemen juga mengapresiasi apa yang saya jalankan,” ujarnya.
Di tengah tekanan profesi kesehatan, olahraga bagi Novi bukan sekadar ambisi medali, melainkan cara merawat ketahanan mental. Latihan menjadi ruang jeda yang terukur tempat ia mengelola stres dan menjaga kebugaran agar tetap optimal saat bertugas.

Pesannya bagi sesama tenaga kesehatan lugas: kesempatan selalu ada bagi yang memprioritaskan. “Sesibuk apa pun, pasti ada waktu untuk berolahraga. Semua tergantung niat dan komitmen,” kata Novi. Bagi yang telah berkeluarga maupun yang masih lajang, konsistensi dinilainya lebih penting daripada kesempurnaan jadwal.
Di Kota Malang, Novi menegaskan bahwa panggilan kemanusiaan dan panggung kompetisi tak harus saling meniadakan. Keduanya dapat berjalan beriringan asal diikat oleh disiplin, komunikasi, dan kesadaran akan batas tubuh sendiri.
