Sragen, TeropongJakarta.com – Ruang Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah kerap dipersepsikan sebagai tempat “sidang” bagi siswa bermasalah. Stigma itu yang coba diubah oleh Nanda Anggoro Kasih Wibowo, guru BK asal Sragen yang telah tujuh tahun mengabdi di dunia pendidikan.
Lahir pada 1996 dari keluarga seniman ayah seorang dalang wayang kulit dan ibu penari Nanda tumbuh dalam atmosfer seni yang kuat. Empat saudara perempuannya juga menekuni musik. Lingkungan itu membentuk kepekaan rasa yang kelak menjadi fondasi dalam mendampingi siswa.
“Saya tidak ingin menjadi guru BK yang ditakuti. Saya ingin menjadi sahabat bagi siswa, tempat mereka merasa aman untuk bercerita,” ujar, Senin, 23 Februari 2026.

Menurut dia, tantangan terbesar seorang guru BK bukanlah menyelesaikan masalah siswa, melainkan membangun kepercayaan. Banyak siswa datang dengan rasa cemas karena menganggap BK identik dengan hukuman. Untuk mematahkan anggapan itu, Nanda membuka ruang konselingnya secara lebih inklusif. Siswa dipersilakan datang bukan hanya saat bermasalah, tetapi juga ketika ingin berbincang santai.
Pendekatan yang ia gunakan tak lepas dari latar belakang seni. Ia kerap mengibaratkan kehidupan remaja seperti alur cerita wayang penuh konflik, tokoh, dan proses pendewasaan. “Setiap anak punya ceritanya sendiri. Tugas saya bukan mengubah ceritanya, tapi membantu mereka memahami peran dan pilihan yang mereka miliki,” katanya.

Dalam sesi konseling, Nanda juga menggunakan metafora dan cerita untuk mempermudah siswa memahami emosi mereka. Cara itu, menurutnya, membuat suasana lebih ringan dan tidak terasa menggurui. “Remaja tidak butuh dinasihati panjang lebar. Mereka hanya ingin didengar dan divalidasi perasaannya,” ujarnya.
Di luar jam sekolah, Nanda tetap aktif sebagai wedding singer pada akhir pekan. Dunia panggung, kata dia, justru membantunya mengasah kepercayaan diri dan kemampuan mengelola emosi. “Dunia panggung melatih saya tampil utuh dan percaya diri. Sementara di ruang BK, saya belajar menahan diri dan mendengarkan sepenuh hati. Keduanya saling melengkapi,” ucapnya.
Menjalani dua peran sekaligus menuntut disiplin dan manajemen waktu yang ketat. Namun Nanda meyakini, selama dijalani dengan komitmen, keduanya dapat berjalan seimbang.

Refleksi tujuh tahun pengabdiannya menyisakan satu pelajaran penting: pendampingan jauh lebih berarti daripada solusi instan. Ia menilai, di tengah tekanan akademik dan sosial yang kian kompleks, siswa membutuhkan ruang aman untuk gagal, mencoba lagi, dan menemukan jati diri tanpa rasa takut.
“Bagi saya, keberhasilan guru BK bukan diukur dari seberapa cepat masalah selesai, tetapi dari seberapa nyaman siswa kembali datang untuk bercerita,” tutur Nanda.
Di tengah arus pendidikan yang semakin kompetitif, pendekatan empatik yang ia bangun menjadi pengingat bahwa sekolah tak hanya tempat mengejar nilai, tetapi juga ruang menumbuhkan kemanusiaan.
