Mentawai, TeropongJakarta.com – Pilihan hidup Vidya Dwiyan tidak berangkat dari hasrat menjadi pahlawan. Keputusannya bergabung dengan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) didorong alasan yang lebih praktis. “Saya ingin bekerja, mandiri, dan bisa membantu keluarga,” kata Vidya saat dihubungi. Baginya, mampu berdiri di atas kaki sendiri adalah pencapaian awal yang ingin ia raih.
Tak lama setelah bergabung, Vidya menyadari bahwa menjadi rescuer bukan sekadar pekerjaan. Ia terjun langsung ke lapangan, menghadapi medan ekstrem, dari operasi di ketinggian, memasuki bangunan runtuh, hingga mengoperasikan alat-alat SAR. Risiko menjadi bagian dari keseharian. Pada awalnya, keluarga sempat diliputi kekhawatiran. “Mereka kaget lihat kegiatannya. Takut, wajar,” ujarnya. Namun perlahan, kekhawatiran itu berubah menjadi dukungan setelah melihat Vidya mampu melewati setiap tahapan dengan baik.
Di lingkungan kerja yang mayoritas diisi laki-laki, Vidya tak menutup mata terhadap stigma yang masih ada. Ia memilih bersikap pragmatis. “Stigma itu ada sampai sekarang, tapi saya tidak terlalu ambil pusing. Saya fokus saja ke proses dan tanggung jawab,” katanya. Baginya, kemampuan beradaptasi adalah kunci untuk bertahan.

Tantangan terberat justru datang dari dalam diri. Dalam sejumlah pelatihan, Vidya menjadi satu-satunya peserta perempuan. Situasi itu memunculkan berbagai pertanyaan dalam benaknya. “Saya sempat berpikir, apakah saya bisa mengimbangi mereka, apakah saya akan merepotkan tim,” ujarnya. Keraguan itu menjadi beban mental tersendiri, bahkan lebih berat dibanding tuntutan fisik.
Namun Vidya memilih bertahan. Ia meyakinkan diri bahwa ketangguhan tidak ditentukan oleh jenis kelamin. “Saya bilang ke diri sendiri, saya juga bisa. Saya tidak boleh bikin malu kantor,” katanya. Pelatihan demi pelatihan berhasil ia lewati. Sertifikat kompetensi yang diraihnya menjadi bukti bahwa ia mampu memenuhi standar sebagai rescuer.
Pengalaman lapangan kemudian menjadi ruang pembelajaran berikutnya. Salah satu operasi yang paling membekas terjadi saat bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera Barat. Vidya terlibat dalam pencarian seorang nenek yang tertimbun longsor di wilayah perbukitan. Akses menuju lokasi hanya berupa jalan setapak dengan kontur naik turun. Medan berat dan kelelahan fisik tak terhindarkan. “Waktu itu saya benar-benar sudah capek, mendaki sambil bawa peralatan,” katanya.

Meski demikian, ia menahan diri untuk tidak menunjukkan kelemahan. Di lokasi, keluarga korban dan masyarakat menunggu dengan harap. Proses pencarian dilakukan sesuai prosedur, dibantu warga dan tim SAR lainnya. Jasad korban akhirnya ditemukan. “Lelahnya lumayan terbayar karena kami berhasil menemukan korban,” ujar Vidya.
Dari pengalaman itu, ia belajar menjaga fokus dan mengendalikan emosi. “Sebagai rescuer, bukan cuma fisik yang diuji, tapi mental juga harus kuat,” katanya. Ia menyadari pentingnya komunikasi dalam setiap operasi, baik dengan pimpinan, rekan kerja, masyarakat, maupun keluarga korban. “Berkomunikasi bukan cuma soal bicara, tapi bagaimana menyampaikan dengan empati dan bahasa yang tepat,” ujarnya.
Vidya Dwiyan berasal dari Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat. Kini ia bertugas di Kantor SAR Mentawai. Di tengah pekerjaan yang kerap bersentuhan dengan risiko dan duka, ia memilih berjalan tenang, menuntaskan tugas, dan terus meneguhkan keyakinan pada pilihan hidup yang telah ia ambil.
