
Bandung, TeropongJakarta.com – Di tengah jadwal padat sebagai personal trainer, Nurul Qomariah memilih berlari. Bukan untuk mengejar medali atau target prestasi, tapi sebagai cara untuk mengenal diri, berdamai dengan penat, dan menjaga semangat tetap hidup. “Lari itu ruang tenang saya,” katanya, sore itu, setelah menyelesaikan sesi latihan terakhir bersama kliennya.
Nurul memang tak asing dengan dunia olahraga. Ia pernah menjadi atlet handball Kota Bandung dengan jadwal latihan yang disiplin: pagi dan sore, lima hingga enam kali seminggu. Kini, ketika profesi dan prioritas hidup berubah, ia tak ingin kehilangan kebiasaan itu. “Gerak adalah bagian dari identitas saya,” ujarnya.
Dari dua jenis latihan yang ia tekuni strength training dan lari ia memilih lari sebagai pelarian. Waktu libur yang hanya sehari dalam sepekan membuatnya memprioritaskan latihan kekuatan di tempat kerja. Tapi untuk menenangkan kepala dan hati, lari selalu jadi pilihan utama. “Saat lari, saya merasa lebih jernih. Seperti terapi berjalan.”

Apa yang bermula dari kebutuhan pribadi itu, kini menjelma menjadi narasi publik. Di akun media sosialnya, Nurul aktif membagikan perjalanan larinya. Bukan sekadar data jarak atau kecepatan, tapi cerita-cerita kecil yang membingkai semangat, konsistensi, dan perjuangan melawan rasa malas. “Banyak orang terhubung bukan karena angkanya, tapi karena rasa yang saya bagi.”
Sebagai personal trainer bersertifikat, Nurul memosisikan dirinya bukan hanya sebagai pelatih fisik, tapi juga inspirator gaya hidup sehat. “Konten yang saya buat bukan untuk pamer, tapi untuk menggerakkan,” ujarnya. Prinsipnya sederhana: jika satu unggahan bisa membuat satu orang lebih percaya diri, itu sudah cukup.
Tahun ini, Nurul menantang dirinya sendiri untuk ikut Bandung Ultra Marathon. Di sela-sela jadwal melatih yang bisa mencapai 13 jam sehari, ia tetap menyelipkan waktu latihan. Event seperti ini, katanya, bukan sekadar lomba, tapi cara untuk menjaga api motivasi tetap menyala. “Saya butuh tujuan, dan race membantu saya untuk itu.”

Namun jadi pelari aktif sekaligus wajah publik bukan tanpa tantangan. Sebagai brand ambassador JETE Indonesia dan bagian dari #JETEsquad, Nurul harus terus tampil konsisten di media sosial. “Kadang lagi nggak mood, tapi tetap harus posting. Di situ saya belajar disiplin dan profesional,” tuturnya.
Menariknya, ia belum pernah mengalami cedera meski jam latihannya padat. Tapi jenuh? “Pernah, pasti,” jawabnya. Baginya, motivasi datang bukan dari niat, melainkan paksaan kepada diri sendiri. “Kalau hanya niat tanpa tindakan, ya nggak akan jalan. Jadi saya paksa diri untuk mulai, dan biasanya mood akan mengikuti.”
Makna lari bagi Nurul telah berkembang melampaui soal fisik. Lari menjadi jalan untuk melepaskan emosi, dari marah hingga sedih. Bahkan ia menyebutnya sebagai bentuk meditasi aktif. “Saya suka lari sendirian, karena itu momen saya ngobrol dengan diri sendiri. Lari bukan cuma tentang kuatnya kaki, tapi juga hati dan pikiran.”

Di setiap langkah, ada percakapan batin yang menguatkan. Lari membantunya menerima kegagalan, menyusun ulang rencana, dan belajar bersabar. “Kadang saya cuma butuh pakai sepatu, nyalain musik, lalu mulai. Habis itu rasanya lega,” katanya.
Bagi perempuan muda Indonesia, Nurul punya pesan sederhana namun mendalam: kenali tubuhmu, cintai prosesnya, dan jangan malu untuk menunjukkan dirimu sendiri. “Bangun personal branding yang positif. Gunakan media sosial bukan untuk ikut-ikutan, tapi untuk menyuarakan nilai dan perjuanganmu,” katanya.
Dalam dunia yang terus bergerak cepat, Nurul memilih berlari bukan untuk mendahului siapa pun, melainkan untuk tetap selaras dengan dirinya sendiri. Karena baginya, setiap kilometer bukan hanya tentang jarak, tapi tentang bagaimana ia tetap bertahan, tumbuh, dan menjadi versi terbaik dari dirinya hari demi hari.