Jakarta, TeropongJakarta.com – Keterbatasan ekonomi tidak menyurutkan langkah Robiatul Adawiyah untuk mengejar pendidikan tinggi. Tumbuh dalam keluarga petani di Batanghari, Jambi, ia kini menempuh pendidikan doktoral (PhD) bidang Materials Engineering di University of Southern Queensland, Australia, sejak 2026.
Perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Saat duduk di bangku SMA, Robiatul bercita-cita masuk perguruan tinggi berkualitas. Namun, keterbatasan biaya membuatnya tidak bisa mengikuti bimbingan belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi seleksi masuk universitas.
Minimnya akses informasi mengenai pendidikan tinggi dan beasiswa juga menjadi tantangan tersendiri. Ia harus mencari banyak informasi secara mandiri, termasuk menentukan pilihan pendidikan dan merencanakan karier.

“Aku tumbuh di Batanghari, Jambi, dalam keluarga sederhana yang bekerja sebagai petani. Aku sebenarnya ingin masuk universitas yang bagus, bahkan menargetkan universitas yang masuk jajaran sepuluh besar di Indonesia,” kata Robiatul.
Perjalanan akademik Robiatul membawanya ke Universitas Sriwijaya untuk mempelajari Kimia. Ketertarikannya terhadap penelitian kemudian berkembang ketika ia melihat potensi pemanfaatan limbah menjadi material yang bermanfaat.
Ia melanjutkan pendidikan magister di bidang Material Science dengan meneliti pemanfaatan limbah kulit buah pinang sebagai material untuk pengolahan air.

Selama menempuh pendidikan magister, Robiatul menyelesaikan studinya dalam satu setengah tahun dan menerbitkan empat artikel ilmiah, termasuk di jurnal kategori Q2 dan Q3.
Ia mengapresiasi dukungan Prof. Aldes Lesbanii dan Dr. Neza Rahayu Palapa yang memberikan kesempatan beasiswa, bimbingan, serta ruang untuk berkembang dalam kelompok riset.
Pengalaman tersebut memperkuat keinginannya untuk mengembangkan penelitian yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga berpotensi menjawab persoalan lingkungan.
Kini, Robiatul meneliti pengembangan material komposit dari plastik daur ulang yang diperkuat serat kaca kontinu. Material tersebut berpotensi digunakan dalam aplikasi struktural dan manufaktur aditif.

Menurutnya, plastik hasil daur ulang dapat mengalami perubahan sifat mekanis. Karena itu, penelitian diperlukan untuk mengeksplorasi cara meningkatkan performanya agar berpotensi dimanfaatkan dalam aplikasi bernilai tambah.
“Jika kita bisa mengembangkan material daur ulang dengan performa dan nilai tambah yang lebih tinggi, material tersebut berpotensi memiliki lebih banyak aplikasi dan menjadi lebih menarik bagi industri,” ujarnya.
Ia berharap penelitian tersebut dapat mendukung pengembangan material berkelanjutan dan ekonomi sirkular, sekaligus membuka peluang kolaborasi antara peneliti, universitas, dan industri di Indonesia maupun Australia.
Meski demikian, penerapan material tersebut tetap membutuhkan pengujian lebih lanjut, termasuk dari aspek kekuatan, biaya, keamanan, dan kelayakan manufaktur.
Pengalaman menghadapi keterbatasan membuat Robiatul ingin berbagi informasi mengenai pendidikan, beasiswa, dan kesempatan penelitian kepada generasi muda, khususnya mereka yang berasal dari keluarga sederhana.

Ia mendorong anak muda untuk mulai mencari informasi, meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, membangun keterampilan, dan mencari mentor yang dapat memberikan arahan.
“Ketika orang lain meragukan kemampuanmu, jangan sampai kamu ikut meragukan dirimu sendiri,” tuturnya.
Robiatul menyadari bahwa setiap orang memiliki kesempatan dan kondisi awal yang berbeda. Kerja keras tidak selalu menjamin keberhasilan, tetapi kemauan untuk belajar dan mempersiapkan diri dapat membantu memperluas peluang.
Baginya, pendidikan bukan sekadar tentang seberapa jauh seseorang melangkah, melainkan juga tentang bagaimana pengetahuan yang diperoleh dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
