Jakarta, TeropongJakarta.com – Bagi Sertu TTU/W Jenica Tallane, menjadi prajurit TNI bukan sekadar profesi. Di balik pengabdiannya sebagai anggota Korps Wanita TNI Angkatan Laut (Kowal) yang bertugas di Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil), Jakarta, ada sebuah perjuangan personal untuk meneruskan nilai dan keteladanan yang diwariskan sang ibu.
Jenica lahir di Bandung dan memiliki rumah di Makassar. Saat ini, ia menjalani keseharian dengan tinggal di Mess Kowal Cut Nyak Dien. Lingkungan keluarga sejak kecil turut membentuk karakternya. Ayahnya merupakan prajurit TNI Angkatan Darat, sementara ibunya adalah Kowad.
Sejak kecil, Jenica mengaku dibesarkan dengan didikan yang tegas. Sang ibu mengajarkannya untuk memiliki tujuan, target, sekaligus prinsip dalam menjalani kehidupan.
“Nilai yang ditanamkan ibu dari kecil yaitu harga diri dan kemandirian, dalam artian kita harus bisa berdiri di kaki sendiri dan menjadi orang yang berprinsip,” ujar Jenica.

Menurutnya, sang ibu juga selalu menekankan pentingnya akhlak dan perilaku. Bagi Jenica, pesan tersebut menjadi bekal yang terus dibawanya hingga kini.
“Adab lahir dari hati yang sadar,” katanya.
Sosok sang ibu menjadi role model terbesar dalam kehidupan Jenica. Ia menggambarkan ibunya sebagai perempuan kuat yang mampu menerima berbagai takdir dengan lapang, bahkan ketika harus menyembunyikan luka yang dirasakan.
Dari ibunya pula, Jenica belajar tentang ketulusan, kesabaran, dan keikhlasan tanpa menyimpan dendam.
Kini, sang ibu telah berpulang kepada Tuhan. Kehilangan tersebut meninggalkan ruang kosong dalam kehidupan Jenica. Namun, rasa kehilangan justru menjadi kekuatan baginya untuk terus melangkah.
“Dunia memang tidak baik-baik saja semenjak ibu meninggal. Aku banyak jatuhnya, tapi aku memilih untuk selalu bangkit. Aku juga pernah gagal, tapi aku mau mencoba lagi dengan cara lain,” tuturnya.
Jenica menyadari bahwa setelah kepergian ibunya, orientasi hidupnya turut berubah. Ia tidak lagi terlalu mengejar pengakuan dari dunia. Baginya, yang lebih penting adalah menjadi sosok yang membuat sang ibu tersenyum dan bangga apabila masih dapat melihatnya.

“Saya mengejar hidup supaya bisa jadi pribadi yang kalau ibu lihat, ibu bisa tersenyum tenang dan bangga melihat putri pertamanya menjadi Korps Wanita Angkatan Laut yang dapat diandalkan,” ungkapnya.
Pengalaman gagal pun pernah ia rasakan. Dahulu, ketika menghadapi persoalan, Jenica selalu bercerita kepada ibunya. Setelah ibunya tiada, rasa hampa sempat datang. Namun, ia memilih menjadikan kehampaan tersebut sebagai bahan bakar untuk menyelesaikan perjuangan yang telah dimulai.
“Aku harus selesaikan ini biar perjuangan ibu tidak sia-sia. Kalau orang lain lari karena ambisi, aku meneruskan perjuangan ibu karena rindu yang energinya tidak akan pernah habis,” katanya.
Sebagai putri pertama, Jenica juga melihat dirinya memiliki tanggung jawab terhadap keluarga. Ia ingin memastikan ayah dan tiga adiknya tetap merasakan kasih sayang serta rasa aman meski sosok ibu telah tiada.

Baginya, tanggung jawab bukan sekadar menjalankan kewajiban, melainkan hadir ketika keluarga membutuhkan.
“Tanggung jawab artinya hadir. Aku yang akan memastikan bahwa rumah ini tetap rumah, bukan cuma bangunan,” ujarnya.
Ke depan, Jenica berharap ayah dan ketiga adiknya tetap merasa dicintai. Ia juga ingin menjadi sosok yang dapat diandalkan keluarga.
“Suatu hari nanti aku ingin adik-adikku tumbuh dan bilang, ‘Untung ada kakakku waktu itu,” tutup Jenica.
