Oplus_131072
Makassar, TeropongJakarta.com – Siapa sangka, rasa takut pada ketinggian justru menjadi titik awal perjalanan Sartika, atau yang akrab disapa Tika, menekuni dunia olahraga alam yang penuh tantangan. Perempuan asal Makassar ini kini aktif sebagai trail runner di berbagai event Sulawesi Selatan, bahkan sesekali berhasil menorehkan prestasi di podium.
Perjalanan Tika di dunia olahraga alam tidak terjadi dalam semalam. Ketertarikannya bermula sejak masa SMA ketika ia aktif di kegiatan pramuka. Namun saat memasuki bangku kuliah, ia mulai lebih serius mencoba kegiatan mendaki gunung. Dari situ, ia mulai mengenal medan alam yang lebih luas, hingga akhirnya beralih ke dunia trail run yang menurutnya lebih dinamis dan menantang.
“Awalnya cuma coba-coba. Tapi ternyata seru banget. Lebih efisien dibanding mendaki camp, dan setiap jalur itu punya cerita sendiri,” ujar Tika.
Menurutnya, trail run memberikan pengalaman yang berbeda dibanding olahraga lari di jalan raya. Selain menuntut fisik yang kuat, olahraga ini juga menguji mental karena medan yang tidak terduga, mulai dari tanjakan curam, jalur licin, hingga rute ekstrem di ketinggian.

Meski memiliki phobia ketinggian, Tika mengaku justru sering berada di jalur-jalur ekstrem yang berada di atas pegunungan. Rasa takut itu tidak ia hindari, melainkan dihadapi secara perlahan.
“Aku awalnya ragu dan takut, tapi setiap lewat jalur ekstrem aku selalu sugesti diri sendiri kalau aku bisa. Pelan-pelan jadi terbiasa,” katanya.
Kini, Tika aktif mengikuti berbagai event trail run di Sulawesi Selatan. Tidak jarang, ia berhasil membawa pulang hasil membanggakan. Namun bagi Tika, kemenangan bukan satu-satunya tujuan. Proses dan pengalaman di setiap lintasan justru menjadi hal yang paling berharga.
Selain trail run, ia juga rutin melakukan berbagai jenis olahraga lain seperti gym, berenang, dan lari. Kombinasi ini membuatnya menjaga kebugaran tubuh sekaligus menghindari kejenuhan dalam berolahraga.
Dalam kesehariannya, Tika berusaha menyeimbangkan antara pekerjaan dan hobi. Ia membuat jadwal yang disiplin namun tetap fleksibel. Jika pagi bekerja, sore ia gunakan untuk berlari. Jika bekerja shift sore, pagi hari ia isi dengan gym. Sementara berenang ia jadwalkan satu hingga dua kali dalam seminggu saat hari istirahat.
“Yang penting konsisten. Jadi olahraga tetap jalan, kerja juga tetap fokus,” ujarnya.

Perubahan paling besar yang ia rasakan bukan hanya pada fisik, tetapi juga mental. Tika mengaku kini menjadi pribadi yang lebih mandiri, berani, dan tidak mudah bergantung pada orang lain. Bahkan, ia tidak lagi takut untuk melakukan perjalanan jauh sendirian, termasuk berkendara motor hingga ratusan kilometer atau camping seorang diri di hutan pinus saat libur.
“Dulu mungkin takut, sekarang sudah biasa. Aku jadi lebih percaya diri dan merasa perempuan juga bisa kuat,” tegasnya.
Dari sisi fisik, ia merasakan tubuh menjadi lebih bugar, ringan, dan tidak mudah lelah. Sementara secara mental, olahraga menjadi ruang pelampiasan positif ketika menghadapi tekanan hidup.
“Kalau ada masalah, aku larinya ke olahraga. Jadi lebih sehat secara mental juga, nggak ke hal-hal negatif,” tuturnya.
Perjalanan Sartika menjadi bukti bahwa ketakutan bukan untuk dihindari, melainkan dihadapi. Dari rasa ragu, ia tumbuh menjadi sosok perempuan yang berani menaklukkan medan ekstrem sekaligus batas dirinya sendiri.
