Bali, TeropongJakarta.com – Isu kesehatan mental kian menonjol dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan generasi muda. Tekanan sosial, budaya perbandingan di media sosial, serta tuntutan untuk selalu terlihat berhasil membuat banyak orang mengalami kecemasan, rasa tidak layak, hingga kehilangan arah hidup. Di tengah situasi tersebut, Gusti Ayu Gita Setiawati, S.Tr.Par., CPS, memilih menghadapi luka batinnya secara sadar dan mengubahnya menjadi sumber daya tumbuh.
Gita menuturkan, titik balik kesadarannya bermula dari pertemuannya dengan pemikiran Stoisisme melalui buku The Art of Stoicism. Dari sana, ia memahami bahwa tidak semua hal dalam hidup bisa dikendalikan manusia. “Saya terlalu sering menghakimi diri sendiri atas kesalahan dan kejadian menyakitkan yang pernah saya alami,” kata Gita dalam wawancara. “Saat itu saya sadar, kalau terus terjebak di pikiran yang sama, saya akan berhenti berkembang.”
Pemahaman tersebut membuatnya mengubah cara merespons masa lalu. Ia berhenti menyalahkan diri sendiri maupun orang lain, lalu fokus pada hal-hal yang masih berada dalam kendalinya. “Saya mulai mengontrol cara berpikir, cara merespons situasi, dan menjaga diri agar tetap tenang serta positif,” ujarnya. Menurut Gita, perubahan itu memperbaiki self-control dan berdampak langsung pada ketenangan serta kualitas hidupnya hingga kini.

Namun, perjalanan tersebut berangkat dari pengalaman traumatis. Gita mengaku luka batinnya terbentuk sejak remaja, salah satunya akibat perundungan. Ia kerap diberi label “berlebihan”, “caper”, dan “norak” oleh lingkungan sekitarnya. “Saya dulu sangat introvert dan pendiam. Saat dibully, saya memilih diam karena tidak punya tempat untuk bercerita,” katanya. Semua pengalaman itu dipendam dan baru disadari dampaknya beberapa tahun terakhir.
Selain perundungan, Gita juga pernah terjebak dalam hubungan yang toksik. Dalam relasi tersebut, ia mengalami kekerasan fisik dan emosional, namun memilih menyembunyikannya dari siapa pun, termasuk keluarga. “Saya terlalu sibuk mencari cinta di luar sampai tidak sadar bahwa hubungan itu justru merugikan saya dan mengubur banyak mimpi,” ujar Gita. Kesadaran untuk keluar dari hubungan itu menjadi titik balik penting dalam hidupnya.
Pengalaman personal tersebut membuat Gita peka melihat tren kesehatan mental di kalangan anak muda saat ini. Ia menilai self-sabotage menjadi salah satu pola yang paling sering muncul. “Mindset merasa tidak layak, tidak mampu, dan tidak berbakat adalah bentuk paling umum dari membatasi diri sendiri,” katanya. Menurut Gita, persoalan generasi muda bukan semata soal kemampuan, melainkan minimnya kemauan untuk belajar dan bertumbuh akibat mental block.

Media sosial, lanjut Gita, turut memperkuat tekanan psikologis. Banyak anak muda merasa tertinggal karena membandingkan proses hidupnya dengan pencapaian orang lain. “Padahal setiap orang punya latar belakang dan waktu yang berbeda,” ujarnya. Untuk mematahkan pola tersebut, Gita menekankan pentingnya self-control dan growth mindset. “Ketika seseorang mampu menguasai dirinya sendiri, ia akan lebih mudah mengarahkan hidup ke tujuan yang ingin dicapai,” kata Gita.
Berangkat dari pengalaman dan kegelisahan tersebut, Gita kini merintis @kelaskuberdaya.id, sebuah platform yang ia rancang sebagai ruang aman untuk belajar, berbagi cerita, dan saling mendengarkan. “Saya paham rasanya kebingungan, merasa sendirian, dan berjuang tanpa arah. Setidaknya saya ingin menjadi orang yang berguna bagi mereka yang sedang berproses,” ujarnya.
Di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, Gita menyampaikan pesan bagi mereka yang masih merasa tidak cukup atau tidak pantas. “Hidup tidak sepenuhnya bisa kita kontrol, tapi kita selalu punya kendali atas cara berpikir dan bersikap,” katanya. Menurutnya, selama seseorang mau berusaha dan membenahi diri, selalu ada peluang untuk bertumbuh bahkan dari luka terdalam sekalipun.
