Hong Kong, TeropongJakarta.com – Bagi sebagian besar pekerja migran, akhir pekan identik dengan istirahat atau berkumpul dengan teman. Namun bagi Dede Aulia, perempuan asal Subang, Jawa Barat, akhir pekan berarti menantang diri sendiri di tebing-tebing Hong Kong yang terjal dan penuh adrenalin. Di kalangan teman-temannya, nama Dede Aulia lebih dikenal dibanding nama panjangnya. Sosoknya sederhana, tetapi semangatnya dalam dunia climbing membuatnya mencuri perhatian banyak penggemar aktivitas outdoor di kota ini.
Ketertarikan Aulia pada climbing berawal dari rasa bosan. Bertahun-tahun ia menikmati hiking di jalur umum, hingga suatu ketika ia bertemu teman warga lokal Hong Kong yang kebetulan sangat mahir dalam climbing. Pertemuan itu seperti membuka pintu baru. “Awalnya cuma iseng, karena hiking di jalur biasa sudah terasa monoton. Tapi setelah coba climbing, rasanya beda banget,” kata Aulia. Sejak itu, tebing dan tali menjadi rutinitas barunya.
Hong Kong ternyata menyimpan banyak lokasi climbing yang menantang, jauh melampaui citranya sebagai kota padat gedung pencakar langit. Salah satu favorit Aulia adalah Fei Ngo Shan atau Kowloon Peak. Tempat itu bukan hanya menawarkan tebing-tebing kokoh, tetapi juga panorama sunset dan city light yang memukau pemandangan yang membuat siapa pun enggan cepat turun. “Tebingnya gagah, view-nya juga luar biasa. Sunset dari atas itu ngga ada duanya,” ujarnya.

Namun pengalaman paling berkesan bagi Aulia terjadi di Castle Peak. Di kawasan itu, deretan tebing dengan tingkat kesulitan tinggi menjadi magnet bagi para pemanjat. “Yang bikin berkesan, aku menjelajahi empat tebing dalam satu hari. Itu pun ditemani climber yang sudah sangat berpengalaman,” tutur Aulia. Hari itu menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam perjalanan climbing-nya.
Dalam menjaga stamina, Aulia tidak menerapkan pola latihan ekstrem. Rutinitasnya sederhana: menjaga pola makan dan olahraga ringan di rumah. Ia sangat memahami bahwa climbing membutuhkan tubuh yang ringan, fokus, dan stabil. Ketika cuaca buruk datang hal yang cukup sering terjadi di Hong Kong Ailia dan rekan-rekannya memilih turun ke jalur aman: hiking biasa. “Climbing saat cuaca buruk itu bahaya banget. Lebih baik mengalah daripada ambil risiko,” katanya.

Aulia sendiri tidak tergabung dalam komunitas climbing mana pun. Ia memilih jalur personal, bersama beberapa teman yang menjadi rekan timnya saat menjajal tebing-tebing Hong Kong. Meski demikian, cara belajarnya tetap serius dan terarah: mengamati, mencoba, dan berkembang bersama lingkaran kecilnya.
Untuk siapa pun yang ingin mulai climbing, Aulia punya pesan sederhana namun kuat: “Cobalah di level paling mudah yang bisa kamu kuasai. Waktu akan membawa kita tumbuh, dan teman yang kita temui akan membuat kita semakin berkembang.”
Di tengah rutinitas kerja dan hidup merantau, climbing menjadi ruang bagi Dede Aulia untuk tumbuh, bernapas, dan membuktikan bahwa keberanian tidak selalu soal menaklukkan tebing tetapi menaklukkan diri sendiri.
