Close Menu
Teropong Jakarta
    What's Hot

    Lima Kali Gagal Seleksi, Serda (K) Kevin Akhirnya Jadi Kowad: Berangkat dari Keluarga Sederhana

    Gagal Berkali-kali, Serda Zahra Kini Bawa Nama Indonesia dalam Misi Perdamaian PBB

    Tak Pernah Berhenti Mencoba, Gita Octaviani Mengubah Kemampuan Menjadi Peluang

    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Teropong Jakarta
    • News
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Health
    • Sport
    • Lifestyle
      • Entertaiment
      • Fashion
      • Food & Travel
    Subscribe
    Teropong Jakarta
    Beranda » Blog » Tak Banyak yang Tahu, Konsep Healing Ala Alia Wijaya Justru Dimulai dari Luka
    Health

    Tak Banyak yang Tahu, Konsep Healing Ala Alia Wijaya Justru Dimulai dari Luka

    AdminBy AdminSeptember 3, 2025No Comments3 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest Telegram LinkedIn Tumblr Email Copy Link
    Follow Us
    Google News Flipboard
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email Copy Link

    Bandung, TeropongJakarta.com – RA Alia Ayu Andarini Wijaya, tapi ia lebih akrab disapa Alia Wijaya. Penulis, model, sekaligus certified energy healer ini lahir di Jakarta, besar di Pondok Indah, dan kini menetap di Bandung. Kehadirannya di dunia penyembuhan menandai pendekatan baru: bukan kelas, melainkan sharing session.

    “Saya lebih suka menyebutnya sharing session karena saya tidak ingin ditempatkan sebagai guru yang serba tahu,” kata Alia. Baginya, healing adalah ruang bersama, bukan relasi satu arah. Di sana ia belajar sekaligus membimbing, menciptakan suasana egaliter, intim, dan manusiawi.

    Salah satu konsep yang menjadi pijakan Alia adalah dark ego. Istilah yang terdengar provokatif itu, menurutnya, merujuk pada sisi gelap diri: ketakutan, luka batin, dan segala hal yang sering disembunyikan. “Justru ketika kita berani menatap bayangan itu, pintu penyembuhan sejati terbuka,” ujarnya.

    Dalam praktik past life regression, Alia kerap melihat penolakan di awal proses. Klien sulit berhadapan dengan sisi terdalam dirinya. Namun ketika mereka bertahan di momen itu, penolakan berubah menjadi pelepasan. “Rasanya seperti membuka pintu yang lama terkunci. Dari sana hadir kelegaan dan pencerahan,” katanya.

    Sertifikasi internasional yang ia raih juga memperluas pandangannya. Gelar itu memberinya legitimasi global, namun bagi Alia yang lebih berharga adalah pengalaman melihat bagaimana healing dipahami di berbagai budaya. “Healing punya bahasa universal. Yang utama bukan sertifikatnya, tapi keberanian menatap luka dan ketulusan hadir bagi orang lain,” ujarnya.

    Ia justru melihat potensi besar di Indonesia. Dengan akar budaya, spiritualitas, dan nilai kebersamaan, bangsa ini memiliki fondasi kuat untuk penyembuhan. “Sekarang saya melihat healing di Indonesia bukan dari kekurangannya, melainkan dari potensinya,” kata Alia.

    Bagi banyak orang, healing adalah jalan keluar dari trauma atau pola hidup berulang. Alia menegaskan, luka bukanlah penjara, melainkan pintu. Tubuh memang menyimpan trauma, tapi sains membuktikan otak bisa membangun jalur baru. “Kita bisa melatih ulang cara memaknai sakit, kegagalan, bahkan cinta,” ujarnya.

    Lebih jauh, ia menekankan pentingnya menerima ketidaktahuan. Hidup justru berharga karena tidak bisa ditebak. “Bayangkan kalau kita selalu tahu masa depan, apakah kita benar-benar ingin itu?” katanya. Menurut Alia, ketidaktahuan memberi ruang untuk syukur dan membuka kemungkinan tanpa batas.

    Namun, di tengah gempuran gaya hidup instan, tantangan healing kian besar. Manusia terbiasa mencari validasi cepat, menekan rasa alih-alih mengolahnya. “Padahal emosi itu seperti otot. Kalau tidak dilatih, ia melemah. Kalau dilatih dengan jujur, justru jadi kekuatan,” ujarnya.

    Karena itu, ia menolak memandang healing sebagai lomba lari cepat. “Bukan soal siapa paling cepat pulih atau paling banyak sesi. Healing adalah latihan kembali ke titik nol,” kata Alia. Menurutnya, keberanian hadir penuh di detik ini adalah hal yang paling mahal dalam budaya instan.

    Bagi Alia, titik nol bukan ruang kosong, melainkan tak terbatas. Healing adalah perjalanan berulang, mirip olahraga: hasilnya terasa lewat konsistensi. “Yang penting bukan sekali beres, tapi berani terus melangkah,” ujarnya.

    Perjalanan itu, menurutnya, bukan sekadar penyembuhan. Ia adalah proses menemukan makna, mengenal diri, dan merangkul luka sebagai bagian utuh kehidupan. “Healing adalah keberanian menatap luka, membangun jalur baru, dan merayakan ketidaktahuan sebagai ruang hidup yang bermekaran,” kata Alia menutup percakapan.

    Alia Wijaya Bandung Berita Certified energy healer Indonesia Emosi sebagai kekuatan Healing bukan kelas Healing di era instan Healing luka batin Health Jalan pulang melalui dark ego Konsep dark ego Lifestyle Luka sebagai pintu penyembuhan Mindfulness dan healing news Past life regression Indonesia Penulis dan model Indonesia Penyembuhan holistik Indonesia RA Alia Ayu Andarini Wijaya Self healing Bandung Sharing session healing Spiritualitas dan budaya Indonesia TeropongJakarta.com Titik nol dalam healing Trauma dan penyembuhan diri
    Add as Preferred on Google Follow on Google News Follow on Flipboard
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email Copy Link
    Previous ArticleShafira Inby Chandra, Role Model Baru Gen Z di Era Digital
    Next Article Dari Ejekan Jadi Motivasi: Perjalanan Rissa Hidayah Melawan Insecure
    Admin
    • Website

    Related Posts

    Gak Harus Jago Main, Ini Deretan Profesi di Balik Industri Game dan Esports

    September 16, 2026

    Dari Atlet Selam hingga Psikolog, Esa Kartika Bantu Orang Bangkit dari Tekanan

    September 9, 2026

    5 Tahun Jadi Kowal, Adila Wujudkan Mimpi Masa Kecil Melihat Salju di Eropa

    September 9, 2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Teropong

    Hello, We’re content writer who is fascinated by content fashion, culture, food, culture and lifestyle. We helps clients bring the right content to the right people.

    Explore Topics
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Entertaiment
    • Fashion
    • Food & Travel
    • Health
    • Lifestyle
    • News
    • Sport
    Meta
    • Log in
    • Entries feed
    • Comments feed
    • WordPress.org
    Tentang

    TeropongJakarta.com

    Melihat Lebih Jauh, Menginspirasi Lebih Besar!

    Pedoman Media Siber - Kontak Kami - Susunan Redaksi - Tentang Kami

    Useful Links
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Entertaiment
    • Fashion
    • Food & Travel
    • Health
    • Lifestyle
    • News
    • Sport
    Tag Clouds

    atlit Bali Bandung Bekasi Berita BeritaBaru Berita Utama Bogor Conten Creator culture Diana Dewi education enterpreneur Entertainment fashion Food Gaya hidup sehat Health Health Lifestyle Hongkong Influencer Inspirasi Inspirasi perempuan Indonesia Jakarta jambi Kesehatan Kisah inspiratif Kisah inspiratif perempuan Lampung Lari Lifestyle malang media model news olahraga perempuan inspiratif Perempuan inspiratif Indonesia PMI Sport Surabaya TeropongJakarta Teropong Jakarta TeropongJakarta.com Travelling

    Latest Posts

    Lima Kali Gagal Seleksi, Serda (K) Kevin Akhirnya Jadi Kowad: Berangkat dari Keluarga Sederhana

    Gagal Berkali-kali, Serda Zahra Kini Bawa Nama Indonesia dalam Misi Perdamaian PBB

    Tak Pernah Berhenti Mencoba, Gita Octaviani Mengubah Kemampuan Menjadi Peluang

    Bukan Sekadar Mama Anak Bulu, Hanatahikaru Ajak Masyarakat Peduli Satwa di Tengah Karhutla

    Trending Posts

    Subscribe to News

    Get the latest sports news from NewsSite about world, sports and politics.

    Facebook Instagram LinkedIn WhatsApp TikTok Threads
    • Tentang Kami
    • Susunan Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kontak
    © 2023 TeropongJakarta.com by PT Arunika Media Nusantara

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.