Close Menu
Teropong Jakarta
    What's Hot

    Tujuh Kali Gagal Seleksi, Serda (K) Aulyra Regina Marta Kini Bertugas dalam Misi Perdamaian Dunia

    Julie Maulana, Ibu Dua Anak di Surabaya yang Menemukan Ruang Bertumbuh lewat Running

    Dari Iseng Berbagi Konten hingga Menghasilkan, Ayu Buktikan Ibu Rumah Tangga Bisa Tetap Berkarya

    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Teropong Jakarta
    • News
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Health
    • Sport
    • Lifestyle
      • Entertaiment
      • Fashion
      • Food & Travel
    Subscribe
    Teropong Jakarta
    Beranda » Blog » Perjuangan Purwaty: Dari Desa Kecil di Banyumas Menuju Singapura, Demi Masa Depan Anak
    News

    Perjuangan Purwaty: Dari Desa Kecil di Banyumas Menuju Singapura, Demi Masa Depan Anak

    AdminBy AdminMarch 24, 2025Updated:March 24, 2025No Comments3 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest Telegram LinkedIn Tumblr Email Copy Link
    Follow Us
    Google News Flipboard
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email Copy Link

    Banyumas, TeropongJakarta com – Menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) bukanlah pilihan yang mudah. Purwaty, seorang wanita asal Desa Kanding, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, telah merasakan pahit-manisnya bekerja di negeri orang sejak 2009. Awalnya, keinginannya menjadi PMI hanya untuk menambah pengalaman dan memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.

    “Dulu susah sekali cari kerja di desa, apalagi saya tidak punya pengalaman. Saya hanya modal nekat. Ibu saya sempat tidak mengizinkan, tapi bapak mendukung. Akhirnya, saya berangkat saat masih muda dan belum menikah,” ujar Purwaty mengenang awal perjalanannya sebagai PMI.

    Setelah beberapa tahun bekerja di luar negeri, Purwaty pulang ke Indonesia, menikah, dan memiliki seorang anak. Ia mencoba bekerja di pabrik wig selama lima tahun, tetapi pandemi COVID-19 membuat pendapatan anjlok. Tekanan ekonomi ditambah hinaan dari orang sekitar membuatnya mengambil keputusan besar: kembali menjadi PMI di Singapura.

    Keputusan bekerja kembali sebagai PMI kali ini terasa jauh lebih berat. Jika dulu ia pergi sebagai perempuan lajang, kini ia meninggalkan anak yang masih kecil.

    “Awal-awal berat sekali. Hampir setiap malam saya menangis karena kangen anak. Mau telepon pun susah karena pas saya istirahat, anak sudah tidur. Satu-satunya cara ya melihat fotonya. Itu jadi motivasi saya. Saya harus bisa mengubah nasib. Saya ingin pulang dengan sukses, memastikan anak saya punya masa depan dan tidak kekurangan secara finansial,” katanya dengan suara bergetar.

    Namun, seiring berjalannya waktu, Purwaty mulai beradaptasi. Kini, ia bersyukur karena majikan barunya memberinya kebebasan menggunakan ponsel.

    “Alhamdulillah, sekarang bisa pantau anak 24 jam. Saya pastikan dia tidak merasa kekurangan. Apa pun yang dia minta, saya usahakan. Saya memang tidak bisa melihat tumbuh kembangnya secara langsung, tapi saya percaya orang tua saya merawatnya dengan baik,” tambahnya.

    Purwaty juga menyoroti fenomena PMI yang baru bekerja beberapa hari tetapi sudah meminta pulang ke Indonesia. Menurutnya, banyak orang yang tergiur dengan postingan di media sosial tanpa memahami kenyataan di lapangan.

    “Jangan mudah tergoda melihat video atau postingan orang yang kelihatan bahagia di luar negeri. Mereka hanya menampilkan sisi baiknya saja. Kerja di luar negeri itu butuh mental kuat. Siapkan fisik dan mental, setelah itu semua akan berjalan normal. Mental nomor satu!” tegasnya.

    Bagi mereka yang sudah cukup lama bekerja dan berhasil mengubah nasib, Purwaty juga berpesan agar mempertimbangkan untuk kembali ke Indonesia.

    “Kalau sudah merasa cukup, pulanglah. Ada keluarga yang menunggu,” katanya dengan haru.

    Purwaty berharap pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan anak-anak yang ditinggalkan oleh PMI. Ia menilai dukungan sosial dan emosional sangat penting agar anak-anak ini tidak merasa kesepian dan terasing.

    “Pemerintah harus memastikan regulasi yang melindungi hak-hak PMI, termasuk akses kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan bagi anak-anak mereka. Beasiswa, layanan kesehatan gratis, dan konseling psikologis untuk anak-anak PMI sangat dibutuhkan. Selain itu, perlu ada pelatihan bagi keluarga yang merawat anak PMI agar mereka bisa memberikan dukungan emosional yang cukup,” ujarnya.

    Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan remitansi agar tidak hanya habis untuk konsumsi, tetapi bisa menjadi investasi masa depan bagi anak-anak PMI.

    “Support dari keluarga itu sangat penting. Jangan mudah putus asa, tetap optimis bisa mengubah nasib demi masa depan anak dan keluarga yang lebih baik,” pungkasnya.

    Banyumas Berita Utama BeritaBaru news PMI Purwaty TeropongJakarta.com
    Add as Preferred on Google Follow on Google News Follow on Flipboard
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email Copy Link
    Previous ArticleSyntia Junita Tololiu: Politisi Berjiwa Pengusaha yang Terus Berinovasi
    Next Article Momen Langka! Anak-Anak Presiden RI Berkumpul di Ultah Didit Hediprasetyo, Bukti Persatuan di Tengah Perbedaan
    Admin
    • Website

    Related Posts

    Tujuh Kali Gagal Seleksi, Serda (K) Aulyra Regina Marta Kini Bertugas dalam Misi Perdamaian Dunia

    October 10, 2026

    Julie Maulana, Ibu Dua Anak di Surabaya yang Menemukan Ruang Bertumbuh lewat Running

    October 10, 2026

    Tari Safitri, MUA Asal Kapuas Hulu yang Bangun Karier dari Nol dengan Terus Belajar

    October 6, 2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Teropong

    Hello, We’re content writer who is fascinated by content fashion, culture, food, culture and lifestyle. We helps clients bring the right content to the right people.

    Explore Topics
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Entertaiment
    • Fashion
    • Food & Travel
    • Health
    • Lifestyle
    • News
    • Sport
    Meta
    • Log in
    • Entries feed
    • Comments feed
    • WordPress.org
    Tentang

    TeropongJakarta.com

    Melihat Lebih Jauh, Menginspirasi Lebih Besar!

    Pedoman Media Siber - Kontak Kami - Susunan Redaksi - Tentang Kami

    Useful Links
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Entertaiment
    • Fashion
    • Food & Travel
    • Health
    • Lifestyle
    • News
    • Sport
    Tag Clouds

    atlit Bali Bandung Bekasi Berita BeritaBaru Berita Utama Bogor Conten Creator culture Diana Dewi education enterpreneur Entertainment fashion Food Gaya hidup sehat Health Health Lifestyle Hongkong Influencer Inspirasi Inspirasi perempuan Indonesia Jakarta jambi Kesehatan Kisah inspiratif Kisah inspiratif perempuan Lampung Lari Lifestyle malang media model news olahraga perempuan inspiratif Perempuan inspiratif Indonesia PMI Sport Surabaya TeropongJakarta Teropong Jakarta TeropongJakarta.com Travelling

    Latest Posts

    Tujuh Kali Gagal Seleksi, Serda (K) Aulyra Regina Marta Kini Bertugas dalam Misi Perdamaian Dunia

    Julie Maulana, Ibu Dua Anak di Surabaya yang Menemukan Ruang Bertumbuh lewat Running

    Dari Iseng Berbagi Konten hingga Menghasilkan, Ayu Buktikan Ibu Rumah Tangga Bisa Tetap Berkarya

    Tari Safitri, MUA Asal Kapuas Hulu yang Bangun Karier dari Nol dengan Terus Belajar

    Trending Posts

    Subscribe to News

    Get the latest sports news from NewsSite about world, sports and politics.

    Facebook Instagram LinkedIn WhatsApp TikTok Threads
    • Tentang Kami
    • Susunan Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kontak
    © 2023 TeropongJakarta.com by PT Arunika Media Nusantara

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.