Jakarta, TeropongJakarta.com – tepuk tangan penonton mengakhiri malam grand final Duta Muslimah Preneur Jakarta Timur 2026 di Cipinang Indah Mall, Jakarta Timur, 11 Januari 2026. Dari deretan finalis yang menampilkan gagasan dan pengalaman bisnis, nama Syalvi Dwi Kurnia, S.Kom diumumkan sebagai penerima amanah Duta Muslimah Preneur Jakarta Timur 2026. Ajang yang digelar Ikatan Pengusaha Muslim Indonesia (IPEMI) Jakarta Timur ini dirancang bukan sekadar kompetisi, melainkan proses seleksi kepemimpinan perempuan muslim di sektor kewirausahaan.
Sepanjang rangkaian acara, para finalis mempresentasikan praktik usaha, gagasan pemberdayaan, serta rencana kontribusi sosial di wilayah masing-masing. Dewan juri menilai tidak hanya capaian bisnis, tetapi juga konsistensi nilai, kapasitas kepemimpinan, serta keberpihakan terhadap penguatan UMKM perempuan sebagai penopang ekonomi keluarga.
Ketua IPEMI Jakarta Timur Delsi Nuroni, S.Pd menyatakan bahwa pihaknya mengamanahkan peran Duta Muslimah Preneur Jakarta Timur 2026 kepada Syalvi berdasarkan rekam jejak, visi, dan komitmennya dalam pemberdayaan perempuan. Menurut dia, duta diharapkan menjadi penggerak ekosistem kewirausahaan perempuan sekaligus jembatan kolaborasi antara pelaku usaha, komunitas, dan pemangku kebijakan.

Bagi Syalvi, pengamanahan tersebut menjadi titik awal tanggung jawab publik yang lebih luas. “Bagi aku, ini bukan sekadar gelar, tetapi amanah yang harus dijaga dan dijalankan,” kata Syalvi. Ia menuturkan, proses panjang yang dilalui meneguhkan keyakinannya bahwa ketekunan, disiplin, dan niat yang lurus mampu membuka ruang bagi perempuan muslim untuk tampil dan berperan aktif di ruang publik.
Momentum pengamanahan itu beriringan dengan perjalanan Dekas Fashion, usaha rintisan yang ia bangun sejak tiga tahun lalu dan akan genap berusia 26 Januari 2026. Melalui brand tersebut, Syalvi mengolah kain Nusantara menjadi busana yang adaptif dengan selera pasar modern. “Aku ingin fesyen menjadi medium yang menghubungkan nilai budaya dan kebutuhan zaman,” ujarnya. Menurut dia, pendekatan berbasis budaya justru memperkuat daya saing usaha.
Pengalaman mengelola usaha membuat Syalvi memahami tantangan muslimah preneur, khususnya di Jakarta Timur. Ia menilai keterbatasan edukasi bisnis, akses pasar, serta keberanian untuk mengembangkan usaha masih menjadi persoalan mendasar.
katanya. Di titik ini, peran IPEMI dinilai strategis dalam membuka jejaring, menyediakan pelatihan, dan memperluas akses promosi.

Sebagai Duta Muslimah Preneur Jakarta Timur 2026, Syalvi berencana menggulirkan Program PMB (Perempuan Mulai Berkarya). Program ini menyasar perempuan dan UMKM pemula melalui kelas kewirausahaan dasar, pendampingan awal usaha, serta ruang kolaborasi yang aman dan suportif, baik secara daring maupun luring. “Aku ingin perempuan berani memulai, tidak takut mencoba, dan bertumbuh secara bertahap,” ujarnya.
Dalam praktik bisnis dan kepemimpinan, Syalvi menempatkan nilai-nilai keislaman sebagai fondasi utama. Ia meyakini kejujuran, amanah, dan tanggung jawab bukan hambatan dalam persaingan, melainkan sumber keunggulan. “Daya saing usaha dibangun dari integritas, karena kepercayaan tidak bisa dibeli,” katanya.
Setelah menerima amanah di tingkat kota, Syalvi akan melanjutkan seleksi ke tingkat provinsi DKI Jakarta pada akhir Januari 2026. Jika lolos tiga besar se-DKI Jakarta, ia akan melangkah ke tingkat nasional mewakili ibu kota. Bagi Syalvi, apa pun hasilnya, pesan yang ingin ia sampaikan tetap sama. “Jangan menunggu sempurna untuk memulai. Di era digital, keberanian dan kemauan belajar adalah modal utama,” ujarnya.
