Bogor, TeropongJakarta.com – Menjadi guru bagi diri sendiri adalah prinsip hidup yang dijalani Suci Syami, Muslimah asal Tasikmalaya yang kini sedang melaksanakan pengabdian di Bogor. Bagi Suci, proses ini lebih dari sekadar pembelajaran; ini adalah keberanian untuk menghadirkan kejujuran pada diri sendiri sebelum menasihati orang lain.
“Menjadi guru bagi diri sendiri berarti duduk bersama diri saya menilai, menegur, dan membimbingnya dengan nilai-nilai Islam,” ujarnya kepada Teropong Jakarta. Menurut Suci, proses ini sangat terkait dengan kesucian niat dan tazkiyatun nafs, pembersihan hati dari ambisi duniawi serta penguatan ikatan dengan Allah. Niat yang lurus, katanya, tidak lahir dari kondisi ideal, tetapi dari kesungguhan untuk terus kembali kepada Allah.
Dibesarkan dalam keluarga sederhana, Suci belajar bahwa mendidik diri sendiri adalah bentuk ijtihad batin. “Allah selalu mencukupkan kebutuhan saya dengan cara-Nya. Dari situ saya belajar bahwa membimbing diri sendiri adalah tanggung jawab spiritual,” jelasnya. Titik balik itu mengajarkan bahwa perubahan sejati selalu dimulai dari dalam, bukan menunggu orang lain atau lingkungan ideal.

Sebagai perempuan Muslimah, Suci menghadapi berbagai peran: anak, pendidik, calon ibu peradaban, dan individu yang terus belajar. Tantangan terbesar, menurutnya, adalah menjaga konsistensi self-improvement tanpa kehilangan identitas spiritual. “Kuncinya bukan membagi diri secara sempurna, tetapi menyatukan semua peran dalam satu niat ibadah,” katanya. Self-improvement bagi Suci bukan hanya soal kapasitas diri, tetapi juga menjaga adab, penampilan syar’i, dan kehadiran Allah dalam setiap langkah hidup.
Suci menekankan pentingnya menegur diri sendiri ketika lalai, mendidik hati saat lelah, dan menguatkan diri ketika rapuh. Kesadaran itu membentuk pemahaman bahwa mendidik diri adalah tanggung jawab batin, bukan sekadar pilihan pribadi. Tantangan Muslimah masa kini, menurut Suci, bukan sekadar distraksi zaman, tetapi lemahnya disiplin batin. Islam menawarkan jalan keluar: keterikatan hati kepada Allah melalui shalat yang dijaga, ilmu yang terus dicari, dan muhasabah jujur. Disiplin batin, katanya, lahir dari kesadaran hidup sebagai amanah, bukan dari tekanan.

Dalam praktik sehari-hari, Suci menata hidup dengan prinsip sederhana: bertumbuh tanpa tergesa, bergerak tanpa meninggalkan Allah. Ia menekankan bahwa self-improvement Muslimah bukan hanya soal pencapaian duniawi, tetapi juga tentang menjaga nilai spiritual agar tetap menjadi kompas hidup. “Muslimah yang kuat bukan yang paling keras suaranya, tetapi yang paling konsisten menjaga nilai dalam diam dan amal,” ujarnya.
Dengan pendekatan ini, perjalanan spiritual Suci menjadi contoh nyata bagaimana self-improvement Muslimah dapat relevan, terukur, dan memberi manfaat bagi generasi muda di tengah tantangan modern. Prinsip kejujuran, disiplin batin, dan kesucian niat menjadi fondasi yang membuat setiap langkahnya bukan sekadar aktivitas, tetapi ibadah yang bermakna.

Terimakasih banyak @TeropongJakarta.Com yang selalu berikhtiar dalam memotivasi dan menebar kebaikannya🤍