Semarang, TeropongJakarta.com – Dalam jagat pemikiran Indonesia, Rocky Gerung adalah nama yang lekat dengan ketajaman analisis, kritik sosial, dan kegemaran pada permainan catur. Bagi filsuf dan pengamat politik itu, catur bukan sekadar permainan, melainkan arena latihan mental untuk menajamkan logika, membaca situasi, dan mengelola emosi keterampilan yang tercermin dalam setiap argumen publiknya.
Maka, cerita tentang sebuah pertandingan catur santai yang mempertemukannya dengan Evie Susanti yang akrab disapa Evie Alice, seorang Sarjana Ilmu Sosial dan Politik dari universitas ternama di Jawa Tengah, pun mengundang keistimewaan tersendiri.
Pertemuan tanpa panggung dan dokumentasi itu berakhir dengan kemenangan Evie, sebuah fakta yang kemudian beredar secara terbatas di lingkaran dalam.

“Itu benar-benar hanya permainan santai, tanpa niat membuktikan apa pun,” tegas Evie kepada TeropongJakarta, menekankan kerendahan hatinya. “Bagi saya, yang jauh lebih penting dari menang atau kalah adalah proses belajar di balik papan: kesabaran, kehati-hatian, dan kemampuan membaca langkah lawan.”
Bagi Evie yang telah tertarik pada dunia politik sejak remaja, catur adalah simulasi strategi yang sempurna. “Setiap bidak yang bergerak mengajarkan kita untuk berpikir beberapa langkah ke depan. Dalam hidup dan politik, prinsipnya sama: setiap keputusan harus dipertimbangkan dampak jangka pendek dan panjangnya. Kita dilatih untuk membedakan antara reaksi impulsif dan aksi yang terukur.”

Kemenangan santainya atas Rocky Gerung, dengan demikian, bukan sekadar momen kebetulan. Itu adalah pertemuan dua pemikir yang menghargai disiplin nalar, meski dari arena yang berbeda. Rocky, dengan publik figur dan kritik-kritiknya yang vokal, dan Evie, yang memilih berkarya dari Semarang tanpa sorot lampu media nasional.
“Saya sangat menghargai Pak Rocky. Hubungan kami murni dalam koridor pertemanan dan diskusi yang saling menghormati,” jelas Evie.

“Kisah catur ini hanyalah satu fragmen kecil, dan sama sekali bukan gambaran utama tentang diri saya. Jika ini menjadi publik, semoga dibawa dengan sikap saling menghargai.”
Pilihan Evie untuk tetap aktif di daerah justru memberinya perspektif unik. “Di luar pusat keramaian, ruang berpikir justru lebih lapang. Kita tidak mudah terjebak dalam kebisingan narasi yang dangkal, bisa lebih fokus pada substansi dan empati,” ujarnya, menekankan keyakinannya bahwa kecerdasan intelektual (IQ) harus berjalan beriringan dengan kecerdasan emosional (EQ).

Dalam lanskap publik yang sering diwarnai sensasi, kisah Evie Alice dan Rocky Gerung di atas papan catur seperti sebuah metafora yang tenang. Ia mengingatkan kita bahwa ketajaman pikiran dan ketangguhan strategi bisa tumbuh di mana saja tidak hanya di pusat perhatian, tetapi juga dalam dialog-dialog hening di ruang-ruang kecil. Seperti permainan catur yang baik, langkah-langkah Evie mungkin tidak selalu mencolok, tetapi setiap geraknya penuh perhitungan, visioner, dan bermakna.
