Jakarta, TeropongJakarta.com – Di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Ela menjalani keseharian yang barangkali tampak biasa: mengurus keluarga, menyiapkan kebutuhan rumah, lalu di sela waktu merekam potongan hidup untuk dibagikan di media sosial. Namun di balik rutinitas itu, ada kesadaran yang ia rawat pelan-pelan tentang pentingnya menjaga energi dan tetap menjadi diri sendiri.
“Aku nggak pakai sistem yang kaku banget. Aku lebih pakai sistem prioritas hati dulu, lalu jadwal menyusul,” ujar Ela
Sebagai pribadi yang mengaku introvert, Ela paham betul kapasitas energinya terbatas. Ia tak memaksakan diri mengikuti ritme kreator yang mengunggah konten setiap hari. Pagi ia dedikasikan sepenuhnya untuk keluarga. Siang atau malam, ketika suasana rumah mulai tenang, barulah ia mengeksekusi ide-ide yang sebelumnya ia simpan.
“Aku nggak ngejar harus upload tiap hari. Aku ngejar harus tetap waras dan bahagia,” katanya.

Bagi Ela, kualitas tak diukur dari seberapa banyak konten diproduksi, melainkan seberapa utuh ia hadir di dalamnya. Saat bersama keluarga, ia memilih benar-benar hadir bahkan kerap lupa mengabadikan momen. Sebaliknya, ketika membuat konten, ia melakukannya dengan totalitas yang sama.
Konten yang ia bagikan pun tak jauh dari keseharian. Secangkir café latte di pagi yang lengang, belanja kecil yang memulihkan semangat, atau obrolan ringan di meja makan menjadi bahan cerita. “Konten keluarga itu refleksi dari tempat pulangku. Konten kopi itu ‘me time’-ku. Konten belanja itu caraku recharge energi,” tuturnya.
Ia meyakini, yang bermakna bukanlah yang mewah, melainkan yang nyata. Justru momen spontan tertawa karena hal sederhana sering kali terasa paling relevan bagi audiensnya.
Meski demikian, menjaga energi emosional tetap menjadi tantangan. Sebagai ibu dan istri, ia dituntut hadir secara rasa. Sebagai kreator, ia juga dituntut kreatif. Ada hari-hari ketika lelah dan overthinking datang bersamaan.

“Kadang merasa, ‘cukup nggak ya aku?’” katanya jujur. Dari situ, Ela belajar menerima bahwa ia tak harus sempurna. Cukup menjadi “cukup”. Ia juga memilih lingkar pertemanan yang mendukung, sebab baginya, support system adalah fondasi agar tetap bertumbuh tanpa kehilangan diri.
Kepada para ibu yang ingin mengejar passion, Ela berpesan agar tak menunggu semua terasa sempurna untuk memulai. Jangan membandingkan proses dengan sorotan terbaik orang lain di media sosial. Dan jangan merasa bersalah memiliki mimpi.
“Menjadi ibu bukan berarti berhenti jadi diri sendiri. Justru ketika kita tetap punya passion, anak-anak belajar tentang keberanian dan keseimbangan,” ujarnya.
Di tengah derasnya standar kesempurnaan yang kerap dibangun media sosial, pilihan Ela terasa sederhana: hadir dengan tulus. Ia tak ingin dikenal sebagai ibu sempurna atau kreator tanpa cela. Ia hanya ingin menjadi ruang pulang yang menyenangkan dan menenangkan bagi keluarganya, sekaligus bagi dirinya sendiri.
