Surabaya, TeropongJakarta.com – Di tengah dinamika industri telekomunikasi yang bergerak cepat, Chentia Aisya Oktarina memilih cara yang tak biasa untuk menjaga performanya: berlari. Profesional muda yang bekerja di di Indosat Ooredoo Hutchison itu memandang olahraga bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan bagian dari strategi mengelola energi dan menjaga ketahanan mental.
“Di tengah kesibukan bekerja, saya melihat lari sebagai bagian dari manajemen energi. Energi itu harus dikelola, bukan hanya dipakai,” ujar Chentia saat hubungi, Minggu, 22 Februari 2026.
Ia menyusun jadwal latihan dengan disiplin yang serupa dengan manajemen proyek di kantor. Untuk road run, Chentia berlatih pada pagi hari sebelum bekerja. Sementara long run dijalankan pada akhir pekan. Adapun latihan trail run juga dilakukan di akhir pekan karena membutuhkan waktu lebih panjang dan fokus ekstra. Selepas jam kerja, ia masih menyempatkan diri berlatih di pusat kebugaran.

“Disiplin membagi waktu latihan sama pentingnya dengan disiplin pada way of working sehari-hari dan pada target yang ingin dicapai. Kalau kita tidak konsisten, hasilnya juga tidak akan maksimal,” katanya.
Ketertarikan Chentia pada lari bermula dari keinginan menjaga stamina dan kejernihan berpikir. Aktivitas itu, menurut dia, membantu menjaga stabilitas emosi di tengah tekanan pekerjaan. Seiring waktu, kebutuhan tersebut berkembang menjadi passion.

Ia menjelaskan perbedaan karakter road run dan trail run. Trail run dinilainya lebih menuntut daya tahan fisik karena medan yang variatif dan elevasi yang menantang. “Trail itu menguji endurance secara menyeluruh. Tanjakan dan turunan memaksa kita benar-benar mengenali batas tubuh,” ujarnya. Sementara road run menekankan konsistensi ritme dan strategi menjaga pace. “Di road, kita belajar tentang ritme dan kontrol diri. Kita harus tahu kapan menahan dan kapan mendorong.”
Nilai-nilai dari lari, kata Chentia, terbawa ke dunia profesional. Ia belajar bahwa progres bersifat akumulatif. Hasil besar lahir dari langkah kecil yang dilakukan berulang-ulang. “Di lari kita belajar bahwa tidak ada hasil instan. Sama seperti karier, semua butuh proses dan konsistensi,” tuturnya.
Sebagai bagian dari generasi profesional muda, Chentia meyakini gaya hidup sehat bukan lagi pilihan tambahan, melainkan fondasi. Dalam budaya kerja yang dinamis dan serba cepat, kondisi fisik dan mental yang prima menjadi keunggulan kompetitif. Energi yang stabil membuatnya mampu menjaga fokus dan produktivitas.

Ke depan, ia menargetkan peningkatan performa di dua ranah sekaligus. Di dunia kerja, ia ingin terus berkembang mengikuti transformasi industri. Di lintasan lari, ia membidik personal best baru dalam road race dan menaklukkan trail dengan elevasi lebih tinggi.
“Target saya bukan sekadar garis finis,” kata Chentia. “Saya ingin terus berkembang dan menjadi versi terbaik dari diri saya, baik sebagai profesional maupun sebagai pelari.”
