Jakarta, TeropongJakarta.com – Membangun kemandirian finansial tidak selalu dimulai dengan meninggalkan pekerjaan utama. Bagi Kompol M. Herdi Pratama, S.I.K., M.H., M.Sc., CPHR., CBA., proses tersebut justru menjadi kesempatan untuk mempelajari kewirausahaan, mengembangkan kemampuan komunikasi, dan membangun relasi secara profesional melalui bisnis jaringan atau direct selling bersama TREN.
Tinggal di Pancoran, Jakarta Selatan, Herdi memiliki perjalanan profesional yang beririsan dengan penegakan hukum, pendidikan, transportasi, dan investasi. Latar belakang tersebut membentuk pandangannya mengenai pentingnya disiplin, pengambilan keputusan berbasis pertimbangan yang matang, serta tanggung jawab dalam menjalankan suatu kegiatan usaha.
Ketertarikannya terhadap dunia keuangan telah tumbuh sejak 2009, ketika mulai mengenal investasi di pasar modal. Seiring waktu, minat tersebut berkembang menjadi ketertarikan untuk memahami bagaimana usaha menciptakan nilai dan bagaimana seseorang membangun kemandirian finansial secara bertahap.

“Melalui TREN, saya melihat kesempatan untuk belajar kewirausahaan secara langsung, khususnya dalam pemasaran, pelayanan pelanggan, dan pengembangan tim. Ada proses yang berbeda antara mempelajari bisnis dengan menjalankannya sendiri,” ujar Herdi.
Lulusan Akademi Kepolisian 2013 ini memiliki pengalaman di sejumlah bidang kepolisian, mulai dari penyidikan tindak pidana hingga pengawalan dan registrasi kendaraan bermotor. Pengalaman tersebut memberinya pemahaman mengenai disiplin, tanggung jawab, serta pentingnya memahami karakter dan kebutuhan orang lain.
Perspektifnya juga berkembang melalui Melalui pendidikan Magister Ilmu Hukum di Universitas Diponegoro dan studi Transport Planning di University of Leeds, Inggris. Pengalaman akademik tersebut memperkuat pendekatannya dalam menganalisis persoalan, menguji asumsi, dan mempertimbangkan risiko sebelum mengambil keputusan.
Dalam membangun tim bisnis, Herdi memandang kepemimpinan bukan sekadar kemampuan memberikan arahan. Seorang pemimpin juga perlu memberikan contoh, mendengarkan masukan, dan membantu orang lain mengembangkan kapasitasnya.
Namun, ia menegaskan bahwa kegiatan usaha harus tetap ditempatkan secara proporsional. Tanggung jawab kedinasan dan akademik menjadi prioritas, sementara aktivitas bisnis perlu dijalankan secara profesional serta terpisah dari jabatan dan kewenangan sebagai anggota Polri.
Menurut Herdi, membangun kepercayaan menjadi salah satu tantangan penting dalam bisnis direct selling. Persepsi masyarakat terhadap bisnis jaringan beragam sehingga pelaku usaha perlu memberikan penjelasan yang terbuka mengenai produk, biaya, mekanisme bisnis, dan potensi risikonya.
Ia menilai, hubungan usaha yang sehat tidak seharusnya dibangun melalui tekanan atau janji keuntungan yang berlebihan. Calon pelanggan maupun mitra perlu memperoleh informasi yang cukup untuk menentukan pilihan secara mandiri.
“Kepercayaan perlu dibangun melalui penjelasan yang jujur tentang produk, biaya, mekanisme usaha, dan proses yang harus dijalani. Orang juga perlu memiliki ruang untuk bertanya, mempertimbangkan, bahkan menolak,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa hasil usaha setiap orang dapat berbeda, bergantung pada berbagai faktor, termasuk kemampuan, konsistensi, dan kondisi masing-masing. Karena itu, peluang bisnis perlu disampaikan secara realistis, bukan sebagai jaminan penghasilan kedepan.
Ke depan, Herdi ingin mengembangkan kegiatan usahanya di TREN dengan menitikberatkan pada manfaat produk, kualitas pelayanan, dan pengembangan sumber daya manusia. Baginya, pertumbuhan jaringan perlu berjalan seiring dengan peningkatan kompetensi dan tanggung jawab terhadap pelanggan.

Ia berpesan agar generasi muda tidak hanya berorientasi pada besarnya potensi keuntungan ketika memilih suatu peluang usaha. Memahami produk, menghitung biaya, mengenali risiko, dan menyesuaikan keputusan dengan kemampuan finansial merupakan langkah penting sebelum memulai.
“Pelajari produknya, pahami biaya dan risikonya, lalu sesuaikan pilihan usaha dengan kemampuan masing-masing. Hindari berutang hanya karena tergiur janji penghasilan,” ujarnya.
Menurut Herdi, kemandirian finansial juga perlu ditopang kebiasaan menabung, menyiapkan dana darurat, dan berinvestasi sesuai pemahaman serta kemampuan.
Pada akhirnya, ia memandang integritas, kemauan belajar, dan tanggung jawab sebagai prinsip yang relevan dalam profesi maupun kewirausahaan. Melalui pendekatan tersebut, ia ingin menjadikan pengalaman bisnis sebagai ruang pengembangan diri sekaligus membangun hubungan usaha yang berlandaskan kepercayaan.
