Jakarta, TeropongJakarta.com – Data Survei Kesehatan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren peningkatan penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas pada usia produktif. Di saat yang sama, konsumsi masyarakat terhadap gula, garam, dan makanan tinggi lemak masih melampaui anjuran harian. Situasi ini menjadi ironi ketika bulan puasa tiba, periode yang semestinya menjadi momentum pengendalian diri justru kerap diwarnai pola makan berlebihan.
Dokter spesialis gizi klinik dr. Annisa, Sp.GK., AIFO-K, menilai Ramadan seharusnya dapat menjadi titik balik perbaikan kebiasaan makan. “Secara fisiologis, puasa memberi kesempatan tubuh mengatur ulang pola metabolisme. Namun manfaat itu sangat bergantung pada kualitas asupan saat sahur dan berbuka,” ujar Annisa saat dihubungi, Jumat 20/02.
Ia menyoroti kecenderungan konsumsi makanan tinggi gula sederhana dan lemak jenuh saat berbuka. Menu seperti gorengan, minuman manis, dan hidangan tinggi kalori memang lezat setelah seharian berpuasa. Tetapi lonjakan gula darah yang terjadi secara drastis, kata dia, justru membebani kerja pankreas dan memicu rasa lemas setelahnya.

Fenomena kenaikan berat badan selama Ramadan juga bukan hal baru. Sejumlah studi menunjukkan sebagian orang mengalami surplus kalori akibat perubahan pola makan dan berkurangnya aktivitas fisik. “Banyak yang menganggap puasa otomatis menurunkan berat badan. Padahal jika asupan makan berlebihan dan tidak seimbang, berat badan justru bisa naik,” kata dr. Annisa.
Menurut dia, kunci utama adalah keseimbangan zat gizi. Saat sahur, ia menganjurkan konsumsi karbohidrat kompleks seperti nasi, ubi, atau gandum utuh yang dipadukan dengan protein seperti ayam, telur, ikan, atau kacang-kacangan serta serat dari sayur dan buah. Kombinasi ini membantu menjaga kestabilan gula darah dan memberikan rasa kenyang lebih lama.
Sementara itu, berbuka idealnya dilakukan bertahap. Air putih dan buah atau 1-3 butir kurma dapat menjadi pembuka sebelum beralih ke makanan utama dengan komposisi gizi seimbang. “Berbuka bukan ajang balas dendam. Tubuh tetap membutuhkan kontrol,” ujarnya.

dr. Annisa juga menekankan pentingnya hidrasi. Kebutuhan cairan harian tetap harus terpenuhi meski waktu minum terbatas. Ia menyarankan pembagian konsumsi air sejak berbuka hingga sahur secara bertahap untuk mencegah dehidrasi yang dapat menurunkan konsentrasi dan produktivitas.
Bagi kelompok dengan penyakit kronis seperti diabetes atau gangguan lambung, penyesuaian pola makan menjadi semakin krusial. Konsultasi medis diperlukan agar puasa tidak memperburuk kondisi kesehatan.
Di tengah maraknya gaya hidup instan dan konsumsi pangan olahan, Ramadan dapat menjadi ruang refleksi terhadap hubungan individu dengan makanan. dr. Annisa melihat puasa sebagai latihan disiplin yang berdampak jangka panjang bila dijalani dengan kesadaran akan pola hidup sehat.

“Puasa melatih pengendalian diri. Jika prinsip ini diterapkan pada pilihan makanan, maka Ramadan bisa menjadi awal perubahan pola hidup yang lebih sehat,” kata dr. Annisa.
Pada akhirnya, bulan puasa bukan sekadar ritual tahunan. Ia dapat menjadi momentum memperbaiki kualitas konsumsi masyarakat atau justru mempertegas problem lama pola makan modern. Pilihan itu, menurut dr. Annisa, kembali pada kesadaran masing-masing individu dalam menjaga tubuhnya.
