Jakarta, TeropongJakarta.com – Langkah Haerani Destya Putri, yang akrab disapa Hera, menuju panggung Puteri Kebaya DKI Jakarta 2026 berawal dari ruang yang sederhana. Siswi SMPN 89 Jakarta itu sebelumnya lebih dikenal sebagai komandan peleton (danton), figur yang lekat dengan kedisiplinan di lapangan upacara.
Momentum perubahan datang pada Agustus tahun lalu, saat Hera mengikuti peragaan busana dalam kegiatan meeting class di sekolahnya. Penampilannya kala itu menarik perhatian seorang guru yang melihat potensi lain di luar aktivitas rutinnya.
Inisiatif kemudian muncul. Guru tersebut menghubungi orang tua Hera, menyarankan agar ia mengikuti ajang Puteri Kebaya DKI Jakarta 2026. Respons awal diwarnai keraguan, baik dari Hera maupun keluarganya.

“Saya sempat ragu, karena ini hal baru buat saya. Tapi saya ingin mencoba dan membuktikan bahwa saya juga bisa berkembang di luar kegiatan sekolah,” kata Hera saat diwawancarai, belum lama ini.
Dorongan keluarga menjadi titik balik. Orang tua Hera, Desi Ariyani dan Haerus Saleh, memutuskan untuk mendukung langkah putrinya, meski dengan sejumlah pertimbangan.
Ibunda Hera, Desi Ariyani, mengatakan keputusan tersebut didasari keinginan agar anaknya berani mengambil peluang. “Kami awalnya khawatir, tapi kami melihat ini sebagai kesempatan yang baik untuk Hera. Kami ingin dia punya pengalaman dan kepercayaan diri,” ujarnya.
Proses yang dijalani Hera terbilang singkat. Ia harus beradaptasi dengan dunia yang berbeda, mulai dari pembekalan, latihan, hingga tampil di hadapan dewan juri. Transisi dari seorang danton ke panggung kebaya menjadi tantangan tersendiri.

Hasilnya terlihat pada ajang yang berlangsung di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 28 Maret 2026. Hera berhasil meraih posisi Runner Up 1 Puteri Kebaya Remaja tingkat Provinsi DKI Jakarta.
Dalam pernyataannya kepada media, Hera mengaku pencapaian tersebut di luar dugaannya. “Jujur, perasaan saya campur aduk, antara tidak menyangka, haru, dan tentu saja sangat bersyukur bisa berdiri di posisi Runner Up 1 Puteri Kebaya Remaja DKI Jakarta,” ujarnya.
Ia menjelaskan, proses persiapan yang dijalani cukup intens, mulai dari pendalaman wawasan budaya hingga pelatihan keterampilan komunikasi. “Persiapannya cukup intens, mulai dari mendalami wawasan budaya, melatih public speaking, hingga latihan catwalk. Namun, semua lelah itu terbayar saat saya bisa memberikan yang terbaik di atas panggung,” kata Hera.
Di usianya yang masih 13 tahun, Hera juga menyampaikan harapan ke depan. Ia ingin menjadikan pencapaian ini sebagai langkah awal untuk berkontribusi dalam pelestarian budaya.
“Saya berharap bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman sebaya untuk tidak malu menunjukkan kecintaan pada budaya Indonesia. Kemenangan ini adalah awal bagi saya untuk menjalankan misi 3K, yaitu kreatif, berkarakter, dan kolaboratif, sekaligus memperkenalkan pesona kebaya kepada generasi Z dan Alpha,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa capaian tersebut bukan hasil kerja individu semata. “Terakhir, pencapaian ini bukan milik saya sendiri. Terima kasih untuk para guru yang terus membimbing, teman-teman yang selalu memberi semangat, dan terutama keluarga yang menjadi sistem pendukung nomor satu saya. Tanpa doa dan restu mereka, saya tidak akan sampai di titik ini,” kata Hera.
Bagi keluarga, hasil itu bukan semata soal gelar. “Yang terpenting adalah prosesnya. Kami bangga karena Hera berani mencoba dan bisa sampai di tahap ini,” ujar Desi.
Perjalanan Hera menunjukkan bahwa potensi dapat muncul dari ruang yang tak selalu terduga. Peran guru sebagai pengamat awal, serta dukungan keluarga sebagai penguat, menjadi faktor penting dalam membuka jalan.
Di tengah beragam ruang pengembangan diri bagi pelajar, kisah ini menjadi contoh bahwa keberanian untuk mencoba kerap menjadi titik awal dari pencapaian yang lebih luas.
