Jakarta, TeropongJakarta.com – Bagi Chandra Dewi Atina, prestasi bukan peristiwa sesaat. Ia tumbuh dari kebiasaan panjang yang dibangun sejak kecil. Dua piala pertamanya diraih ketika masih di taman kanak-kanak. Sejak itu, lomba dan latihan menjadi bagian dari keseharian yang membentuk ritme hidupnya hingga kini.
“Orang tua saya selalu berpesan untuk selalu berani mencoba dan jangan pernah lewatkan kesempatan apapun. Soal hasil, itu menyusul,” kata Chandra kepada Teropong Jakarta Senin, 12 Januari 2026.
Fondasi utama perjalanan Chandra bertumpu pada pendidikan agama. Bahkan sejak balita, ia telah ditanamkan ilmu agama oleh orang tuanya dengan belajar mengaji di Taman Pendidikan Alquran (TPA). Ketika memasuki sekolah menengah pertama, ia mulai menghafal Alquran secara sistematis dan mengikuti berbagai perlombaan Musabaqah Hifzhil Quran (MHQ).
Menurut Chandra, proses menghafal Alquran membentuk disiplin personal yang kuat. “Menghafal itu melatih konsistensi. Kalau berhenti satu hari saja, dampaknya terasa,” ujarnya. Pola itu ia pertahankan hingga sekolah menengah atas dengan mengikuti pembinaan rutin di Markaz Alquran setiap akhir pekan. Selain tahfizh, ia juga pernah berhasil menyabet Juara 1 Lomba Ceramah Kamtibmas yang diadakan oleh Polres Metro Jakarta Timur pada tahun 2020.

Pada tahun 2021, Chandra menghadapi ujian terberat dalam hidupnya. Di tengah perjuangan mengikuti rangkaian seleksi masuk Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), ia harus menerima kenyataan pahit bahwa sang ibu telah berpulang untuk selamanya. Kepergian ibunda menjadi titik terendah yang mengguncang mental dan emosinya. Namun, alih-alih menyerah, Chandra memilih menguatkan diri. Berbekal keyakinan dan tekad yang kuat, ia tetap melanjutkan seluruh tahapan seleksi hingga akhirnya dinyatakan lolos sebagai praja IPDN. Bahkan ia terus menorehkan deretan prestasinya. Di IPDN, ia meraih Juara 1 Tahfizh Quran IPDN Kampus Jatinangor pada 2022.
Namun jalur Chandra tidak tunggal. Ia menulis lima buku antologi, salah satu judulnya “Ksatrian Bagi Kami” yang ia tulis bersama rekan-rekan Purna Praja lainnya. Ia juga aktif dalam kegiatan kerelawanan, serta menekuni olahraga lari dan pendakian. Ia juga tampil di panggung nonkonvensional. Pada 2023, Chandra meraih Juara 3 Stand Up Comedy Dies Natalis IPDN.
“Bentuk panggungnya berbeda, tapi esensinya sama: menyampaikan pesan,” ujarnya.

Selama empat tahun pendidikan di IPDN, Chandra kerap dipercaya menjadi pembawa acara dan pembicara di forum resmi. Beberapa pengalamannya, ia pernah berbicara di hadapan Walikota Singkawang, Bupati Majalengka, hingga para kepala desa di sejumlah daerah, termasuk Kalimantan Barat. Pengalaman itu, menurutnya, melatih kepekaan membaca audiens dan menjaga etika komunikasi di ruang publik.
Di bidang akademik pun ia kerap menempati peringkat tiga dan lima besar pada Program Studi Manajemen Sumber Daya Manusia Sektor Publik pada tiap kenaikan tingkat dan pangkat. Puncaknya, ia berhasil menempati peringkat keempat pada Program Studi Manajemen Sumber Daya Manusia Sektor Publik dalam Wisuda Sarjana Terapan Fakultas Manajemen Pemerintahan, dengan capaian IPK 3,83 dan predikat cumlaude.

“Di IPDN, semua berjalan simultan: akademik, fisik, dan mental. Kuncinya manajemen waktu,” kata Chandra.
Pada 2025, Chandra dinobatkan sebagai Miss Hijab DKI Jakarta Best Tilawah. Namun ia menegaskan, gelar bukan tujuan utama. “Prestasi itu konsekuensi dari proses. Yang penting menjaga nilai dan disiplin yang sudah dibangun sejak kecil,” katanya.
Jejak Chandra memperlihatkan pola konsistensi yang kuat. Ia tidak hanya menjaga prestasi secara berkelanjutan, tetapi juga menjadikan ujian hidup sebagai titik balik yang menumbuhkan semangat dan ketabahan. Dari pengalaman tersebut, Chandra justru menguatkan tekadnya untuk terus melangkah dan membuktikan diri melalui capaian-capaian yang terukur dan berkesinambungan.
