Jakarta, TeropongJakarta.com – Berasal dari keluarga sederhana di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, tidak membuat Sertu Jaka Prasetio membatasi mimpinya. Berawal dari pekerjaan serabutan di kampung halaman, ia kini berhasil mengemban tugas internasional sebagai prajurit TNI dalam misi pemeliharaan perdamaian dunia di Lebanon Selatan bersama United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Jaka lahir di Sumpadang, Nagari Palaluar, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Ia tinggal di Jorong Bungo, Nagari Palaluar. Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN 17 Palaluar, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 2 Sijunjung dan SMA Negeri 2 Sijunjung.
Keinginan untuk mengubah kehidupan menjadi salah satu alasan kuat Jaka memilih jalan pengabdian sebagai prajurit TNI. Sebelum mendaftar, ia sempat menjalani berbagai pekerjaan serabutan di kampung halaman. Pengalaman tersebut membuatnya berpikir tentang masa depan dan tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan hidup, termasuk membahagiakan keluarga.

“Saya ingin sukses. Waktu itu saya berpikir, kalau terus seperti ini sampai tua, untuk membiayai hidup sendiri saja mungkin susah, apalagi kalau sudah berkeluarga. Dari situ muncul keinginan kuat untuk mengubah nasib dan membanggakan keluarga,” ungkap Jaka.
Cita-cita menjadi anggota TNI sebenarnya sudah tumbuh sejak duduk di bangku SMP. Ia mulai membangun kedisiplinan dengan rutin berolahraga sebagai persiapan fisik. Ketika SMA, Jaka juga aktif mengikuti sejumlah kejuaraan tinju. Dari berbagai kompetisi tersebut, ia berhasil meraih juara serta mendapatkan beberapa medali dan penghargaan.
Pengalaman itu semakin memperkuat tekadnya untuk menjadi prajurit. Meski demikian, perjalanan Jaka tidak selalu berjalan mulus. Pada 2019, ia sempat mengikuti seleksi Tamtama, tetapi belum berhasil lolos.

Kegagalan tersebut tidak membuatnya menyerah. Setahun kemudian, Jaka kembali mencoba peruntungan melalui seleksi Bintara TNI AD. Kali ini, perjuangannya membuahkan hasil. Ia dinyatakan lolos dan dilantik sebagai Sersan Dua pada Februari 2021 di Kodam I/Bukit Barisan. Dalam perjalanan karier militernya, ia memperoleh kecabangan Zeni Angkatan Darat.
Kesempatan mengikuti misi perdamaian dunia di Lebanon menjadi babak baru dalam perjalanan pengabdiannya. Bagi Jaka, penugasan tersebut bukan sekadar kesempatan mengunjungi negara lain, melainkan pengalaman berharga untuk membawa identitas Indonesia ke lingkungan internasional.
“Yang melatarbelakangi saya mengikuti Satgas ini adalah keinginan untuk melihat negeri orang sekaligus menjalankan tugas negara. Melalui misi ini, seluruh kebutuhan perjalanan difasilitasi oleh PBB dan negara. Namun, yang paling membanggakan adalah kesempatan membawa nama Indonesia dan mengharumkannya di tingkat internasional,” tuturnya.
Ia juga memandang keterlibatannya dalam misi UNIFIL sebagai bentuk nyata pengamalan amanat konstitusi. Menurutnya, ikut menjaga perdamaian dunia merupakan kebanggaan tersendiri karena sejalan dengan Alinea Keempat Pembukaan UUD 1945 yang memuat komitmen Indonesia untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Menutup ceritanya, Jaka berpesan kepada generasi muda agar tidak takut bermimpi dan terus berusaha memperbaiki kehidupan.
“Kita harus bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, mengangkat derajat keluarga, dan membanggakan orang-orang di sekitar. Kalau belum bisa membantu orang tua, setidaknya jangan menyusahkan mereka. Jadilah kebanggaan keluarga, bukan beban bagi keluarga sendiri,” pesannya.
Perjalanan Sertu Jaka Prasetio menjadi pengingat bahwa keterbatasan keadaan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Dari pekerjaan serabutan di sebuah kampung di Sijunjung, ia membuktikan bahwa tekad, disiplin, dan keberanian mencoba kembali dapat membuka jalan menuju pengabdian yang lebih luas, hingga membawa nama Indonesia dalam misi perdamaian dunia.
