Jakarta, TeropongJakarta.com – Ada pengorbanan yang dilakukan karena cinta, tanpa pernah terpikir bahwa suatu hari semuanya harus dimulai kembali dari nol. Hal itu menjadi bagian dari perjalanan Nana Yusnita. Ia mengaku pernah memberikan dukungan besar kepada suami, termasuk membantu membiayai pendidikan hingga mengikuti Secapa.
Namun, kehidupan rumah tangga yang dijalani Nana tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ia mengaku menghadapi sejumlah persoalan, mulai dari tidak mendapatkan nafkah, dugaan perselingkuhan, hingga pengalaman kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Berbagai pengalaman tersebut akhirnya menjadi titik balik bagi Nana untuk mengambil keputusan dan membangun kembali kehidupannya.
Sebagai seorang yatim piatu, Nana mengatakan dirinya tidak memiliki sosok orangtua yang bisa menjadi tempat mengadu ketika menghadapi persoalan rumah tangga.
Menurut pengakuannya, kondisi tersebut juga diketahui oleh pasangan. Nana merasa keadaan itu membuat dirinya berada dalam posisi yang semakin sulit ketika menghadapi masalah dalam hubungan.

“Dia tahu aku anak yatim piatu, jadi aku merasa tidak punya tempat untuk mengadu. Aku juga pernah mengalami KDRT,” ungkap Nana.
Nana mengatakan pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian yang membuatnya menyadari bahwa dirinya harus mulai memikirkan keselamatan, masa depan, dan kehidupan anak.
Di tengah perjalanan rumah tangga, Nana mengaku pernah memberikan dukungan finansial untuk pendidikan suaminya. Ia bahkan ikut membiayai pendidikan sang suami hingga Secapa.
Saat itu, Nana tidak melihat pengorbanan tersebut sebagai sesuatu yang harus diperhitungkan. Ia menganggap keberhasilan pasangan juga merupakan bagian dari masa depan yang sedang mereka bangun bersama.
“Aku pernah ikut membiayai sekolah dia sampai Secapa. Waktu itu aku berpikir kami sedang membangun masa depan bersama,” kata Nana.
Namun, menurut pengakuannya, persoalan rumah tangga kemudian semakin kompleks. Nana menyebut dirinya tidak mendapatkan nafkah dari suami dan harus berusaha memenuhi kebutuhan hidup dengan kemampuannya sendiri.

Ia juga mengaku menghadapi persoalan perselingkuhan yang semakin memengaruhi kondisi rumah tangganya.
“Banyak hal yang akhirnya membuat aku sadar bahwa aku tidak bisa terus berada dalam kondisi seperti itu. Aku harus memilih untuk menyelamatkan diriku dan anak,” tuturnya.
Setelah mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan, Nana menghadapi tantangan baru. Ia harus kembali membangun kondisi mental dan finansial dari awal.
Bisnis yang sebelumnya mampu menghasilkan puluhan juta rupiah harus beradaptasi dengan keadaan. Nana mengaku fokusnya kemudian berubah menjadi bagaimana bisa bertahan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Yang paling berat bukan cuma soal uang, tetapi mental juga. Aku harus belajar berdiri lagi setelah semuanya berubah,” ujar Nana.
Pengalaman tersebut membuat Nana semakin memahami pentingnya kemandirian bagi perempuan. Menurutnya, mencintai pasangan tidak berarti harus menyerahkan seluruh masa depan kepada orang lain.

“Perempuan harus punya pegangan sendiri. Jangan karena terlalu cinta, kita sampai kehilangan diri sendiri dan mengorbankan masa depan,” katanya.
Setelah melewati berbagai ujian, Nana memilih tidak terus terjebak dalam masa lalu. Ia ingin menggunakan pengalaman tersebut sebagai pelajaran untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Anak menjadi salah satu alasan terbesar Nana untuk tetap kuat. Ia ingin menjadi ibu yang mampu memberikan contoh bahwa seseorang tetap bisa bangkit meski pernah berada di titik terendah.
“Sekarang aku ingin menjadi ibu yang kuat. Aku ingin anak melihat bahwa seberat apa pun masalahnya, kita masih bisa bangkit dan memulai lagi,” ucap Nana.
Bagi Nana, memulai dari nol bukan berarti gagal. Justru dari titik tersebut, ia belajar mengenal dirinya sendiri, menjaga kemandirian, dan tidak lagi mengorbankan masa depan demi sebuah hubungan.
Kini, Nana memilih melangkah ke depan dengan satu keyakinan: mencintai orang lain tetap penting, tetapi mencintai dan menjaga diri sendiri juga tidak kalah penting.
