Bandung Barat, TeropongJakarta.com – Bagi Indah Trie Wahyuni Agustini, pendidikan bukan sekadar tentang meraih gelar. Di balik perjalanan akademiknya, ada perjuangan panjang keluarga, keterbatasan ekonomi, hingga pengalaman pahit yang justru menjadi bahan bakar untuk terus berkembang.
Perempuan yang akrab disapa Trie ini merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana di Kabupaten Bandung Barat. Ayahnya merupakan purnawirawan TNI AD berpangkat terakhir Sertu dan pernah bertugas sebagai Babinsa, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga dengan pendidikan terakhir sekolah dasar.
Kedua kakaknya kini menjadi guru SD, sementara adiknya masih duduk di bangku SMP. Meski tidak memiliki figur dengan latar pendidikan tinggi di keluarga, orang tua Trie selalu menanamkan satu hal: pendidikan harus diperjuangkan.
“Orang tua saya sering mendapat perlakuan kurang menyenangkan karena pendidikan dan pangkat yang rendah. Dari situ mereka mendorong anak-anaknya untuk menjadi orang yang berpendidikan dan punya adab,” cerita Trie.
Keinginan tersebut kemudian menjadi prinsip yang ia pegang. Bahkan ketika kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan, orang tuanya tetap berusaha agar anak-anak mereka bisa menempuh pendidikan tinggi. Hingga kini, tiga dari empat bersaudara telah menyandang gelar sarjana.
Perjalanan Trie menuju perguruan tinggi tidak berjalan mulus. Pada 2019, ia sempat diterima di program studi hukum melalui jalur rapor. Namun, sang ibu meminta Trie mundur karena khawatir profesi yang kelak dijalaninya, seperti jaksa, tidak sesuai dengan harapan keluarga.

Ibunya kemudian mendorong Trie memilih jalur pemerintahan. Ia akhirnya masuk Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), mengambil program studi Ilmu Pemerintahan melalui jalur reguler.
Masalah kembali muncul saat proses registrasi. Kondisi ekonomi keluarga membuat biaya kuliah belum dapat dibayarkan sepenuhnya. Bahkan, Trie sempat diminta mengundurkan diri.
Namun, ia memilih bertahan. Dengan bantuan pinjaman dan berbagai usaha keluarga, kuliahnya tetap dilanjutkan. Beberapa kali Trie bahkan harus mengambil cuti karena persoalan biaya.
Sebagai mahasiswa, ia juga mencari berbagai pekerjaan sampingan, termasuk mengambil pekerjaan event. Ia tidak terlalu memikirkan gaya hidup seperti mahasiswa pada umumnya. Baginya, yang terpenting adalah bisa menyelesaikan pendidikan tanpa mengecewakan orang tua.
Kebiasaan mandiri itu sebenarnya sudah terbentuk sejak kecil. Saat SD, Trie berjualan makanan dan minuman. Memasuki SMP, ia berjualan makanan, pulpen, hingga pulsa. Ketika duduk di SMK, ia bahkan menjual makanan milik neneknya kepada teman-teman dan guru untuk menambah uang kebutuhan sehari-hari.
Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi ketika Trie masih SMP. Ia pernah merasa kesulitan mendapatkan teman satu kelompok karena tidak memiliki fasilitas yang sama dengan teman-temannya.
Saat sebagian teman sudah memiliki kendaraan sendiri dan bisa bepergian dengan mudah, Trie harus pulang-pergi menggunakan angkutan umum. Ia juga tinggal cukup jauh dari lingkungan sekolah.
Pengalaman tersebut sempat membuatnya sakit hati. Namun, Trie kemudian menjadikannya sebagai motivasi untuk berubah.

Ia bertekad, jika suatu hari menjadi orang yang pintar, ia tidak ingin memilih-milih teman berdasarkan kondisi ekonomi atau kemampuan seseorang.
Tekad itu mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMK. Trie konsisten menjadi juara kelas dari kelas 1 hingga kelas 3, meraih prestasi sebagai juara paralel jurusan, aktif berorganisasi, hingga mengikuti berbagai kompetisi.
Perubahan itu bahkan membuat sejumlah teman lamanya terkejut. Namun, Trie memilih tetap terbuka kepada siapa pun.
Saat menempuh S1, Trie semakin aktif mengikuti berbagai kegiatan akademik maupun organisasi. Ia pernah mengikuti kompetisi debat tingkat nasional dan masuk nominasi delapan besar.
Kerja keras tersebut akhirnya membawanya menjadi salah satu lulusan terbaik di tingkat universitas.
Momen itu menjadi sangat berarti karena kedua orang tuanya dapat duduk di barisan terdepan saat ia meraih pencapaian tersebut. Bagi Trie, momen itu merupakan bentuk pembuktian atas perjuangan yang selama ini mereka lalui bersama.
Setelah lulus S1, ia sebenarnya tidak pernah membayangkan dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 karena menyadari kondisi ekonomi keluarga.
Namun, keinginan untuk terus belajar akhirnya membawanya mengambil keputusan besar. Dengan bekal biaya yang awalnya hanya cukup untuk satu semester, Trie menjalani S2 secara mandiri sambil tetap mencari pekerjaan sampingan.
Perjuangan kembali berulang. Ia beberapa kali hampir berhenti kuliah dan bahkan sempat mencari pekerjaan ke sejumlah kota. Namun, kesempatan datang ketika ia berhasil memperoleh Beasiswa Unggulan.
Trie akhirnya menyelesaikan pendidikan S2 hanya dalam tiga semester dan menjadi kandidat pertama yang lulus di kelas reguler.
Sekitar dua bulan setelah wisuda, Trie kembali mendapat kesempatan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia memperoleh informasi mengenai program doktoral dan memutuskan untuk mencoba.

Prosesnya berlangsung hampir satu tahun melalui tiga tahapan seleksi, mulai dari kampus, BRIN, hingga tahapan dari pihak pemberi beasiswa.
Hasilnya, Trie dinyatakan menjadi salah satu penerima Beasiswa BRIN-Degree by Research RIIM Ekspedisi Masyarakat Adat 2026 dengan penempatan penelitian di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Jika berhasil menyelesaikan pendidikan tersebut, Trie akan menjadi doktor pertama di keluarganya.
Perjalanan itu membuatnya menyadari bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi akhir dari sebuah cerita.
“Semua sudah jalannya Tuhan. Dari keterbatasan kedua orang tua, kemandirian, dan berbagai dinamika yang terjadi dalam hidup, Tuhan memberikan jalan terbaik dan hadiah yang tidak pernah saya bayangkan,” ujar Trie.
Kini, langkah Trie berlanjut. Dari bekal sederhana, perjalanan pulang-pergi berjam-jam, pekerjaan sampingan, hingga berbagai masa sulit yang harus dilewati sendiri, ia terus membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti mengejar pendidikan.
