Jakarta, TeropongJakarta.com – Seni pertunjukan tak lagi sekadar soal keindahan gerak. Lewat karya disertasi bertajuk “Ampu Empuan: Embodied Habitus Penciptaan Tari Berbasis Peran Ganda Perempuan Betawi”, tubuh justru dibaca sebagai ruang hidup yang menyimpan pengalaman sosial.
Seminar pertunjukan publik ini merupakan bagian dari Disertasi Penciptaan Seni Mahasiswa Doktoral Pascasarjana ISI Yogyakarta yang digelar pada Kamis (23/4/2026) malam di Balai Budaya Condet, Jakarta Timur. Kegiatan ini dihadiri akademisi, praktisi seni, serta masyarakat yang tampak larut dalam suasana reflektif selama pertunjukan berlangsung.
Karya ini merupakan disertasi penciptaan seni dari Lydia Devi Nursanthi, S.E., M.Sn. Dalam pemaparannya, Devi menegaskan bahwa tubuh perempuan tidak hanya hadir sebagai medium estetika, tetapi juga sebagai arsip hidup yang merekam pengalaman emosional, sosial, dan kultural perempuan Betawi.

“Tubuh bukan hanya alat ekspresi, tetapi juga ruang yang menyimpan pengalaman hidup. Apa yang dialami perempuan dalam keseharian, tekanan, peran, hingga strategi bertahan semuanya hadir dan berbicara melalui tubuh,” ujar Devi.
Melalui pendekatan practice-based research (PBR), proses penciptaan karya ini menjadikan praktik artistik sebagai bentuk produksi pengetahuan. Studio tidak hanya difungsikan sebagai ruang latihan, tetapi juga sebagai laboratorium tempat pengalaman diolah, diuji, dan diterjemahkan menjadi struktur koreografi.
Secara dramaturgis, Ampu Empuan dibangun melalui lima fase perjalanan tubuh: mulai dari tubuh yang patuh terhadap norma sosial, tubuh dalam tekanan produktivitas, akumulasi beban yang memicu konflik internal, fase retak sebagai titik krisis, hingga tubuh yang bernegosiasi dan menghadirkan kembali agensi.
Penonton tampak terdiam dan menyimak setiap detail gerak yang ditampilkan. Suasana hening dan reflektif memperlihatkan bahwa karya ini tidak hanya komunikatif secara artistik, tetapi juga menyentuh secara emosional.

Promotor disertasi, Prof. I Wayan Dana, S.S.T., M.Hum., dan Co-Promotor, Dr. Hendro Martono, M.Sn., menilai karya ini memiliki kontribusi penting dalam pengembangan seni berbasis penelitian. Tubuh dalam karya ini berhasil diposisikan sebagai sumber pengetahuan dengan kerangka konseptual yang kuat.
Sementara itu, Octavianus Cahyono Priyanto, S.T., M.Arch., Ph.D., yang membuka kegiatan, menegaskan pentingnya ruang dialog antara seni dan akademik sebagai upaya memperkaya refleksi sosial dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Moderator kegiatan, Dr.Sn. Abdul Haris Rustaman, S.ST., M.Ds., turut menyoroti relevansi karya ini dalam konteks kekinian. Ia menilai Ampu Empuan menghadirkan cara pandang baru dalam membaca tubuh sebagai subjek yang memiliki pengalaman dan pengetahuan.

Karya ini turut didukung oleh tim artistik yang solid, dengan Devi sebagai penata tari dan Rizki Aidul Akbar, S.Sn., sebagai penata musik. Pertunjukan ini juga melibatkan sejumlah penari seperti Aliviya, Anin, Ajeng, Cindy, Ika, Tika, Puspa, April, Elsya, Saida serta didukung oleh para pemusik dan kru produksi yang membangun keseluruhan pengalaman artistik.
Lebih jauh, Ampu Empuan menghadirkan metafora perempuan sebagai “tiang rumah”, yakni penyangga utama kehidupan yang menjaga keseimbangan. Konsep “ampu” dimaknai sebagai kemampuan untuk menanggung, merawat, dan beradaptasi dalam menghadapi tekanan sosial.

Melalui penyelenggaraan ini, Ampu Empuan tidak hanya hadir sebagai karya seni pertunjukan, tetapi juga sebagai praktik penelitian yang membuka perspektif baru dalam memahami tubuh.
Tubuh perempuan tidak cukup hanya direpresentasikan keindahannya. Ia adalah arsip kehidupan dari tekanan, ketahanan, dan sejarah sosial yang harus didengar suaranya sebagai subjek pengetahuan.
