Close Menu
Teropong Jakarta
    What's Hot

    Sepuluh Hari dari Teks ke Panggung Berakhir Haru, Tangis Peserta Warnai Perpisahan

    Evelyn Imeldinata Comeback ke Industri Kreatif, Bawa Misi Buka Peluang Talent

    Gak Harus Jago Main, Ini Deretan Profesi di Balik Industri Game dan Esports

    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Teropong Jakarta
    • News
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Health
    • Sport
    • Lifestyle
      • Entertaiment
      • Fashion
      • Food & Travel
    Subscribe
    Teropong Jakarta
    Beranda » Blog » Bukan Sekadar Tari, “Ampu Empuan” Jadikan Tubuh sebagai Arsip Hidup dalam Disertasi Seni
    Culture

    Bukan Sekadar Tari, “Ampu Empuan” Jadikan Tubuh sebagai Arsip Hidup dalam Disertasi Seni

    AdminBy AdminMay 3, 2026Updated:May 3, 2026No Comments3 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest Telegram LinkedIn Tumblr Email Copy Link
    Follow Us
    Google News Flipboard
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email Copy Link

    Jakarta, TeropongJakarta.com – Seni pertunjukan tak lagi sekadar soal keindahan gerak. Lewat karya disertasi bertajuk “Ampu Empuan: Embodied Habitus Penciptaan Tari Berbasis Peran Ganda Perempuan Betawi”, tubuh justru dibaca sebagai ruang hidup yang menyimpan pengalaman sosial.

    Seminar pertunjukan publik ini merupakan bagian dari Disertasi Penciptaan Seni Mahasiswa Doktoral Pascasarjana ISI Yogyakarta yang digelar pada Kamis (23/4/2026) malam di Balai Budaya Condet, Jakarta Timur. Kegiatan ini dihadiri akademisi, praktisi seni, serta masyarakat yang tampak larut dalam suasana reflektif selama pertunjukan berlangsung.

    Karya ini merupakan disertasi penciptaan seni dari Lydia Devi Nursanthi, S.E., M.Sn. Dalam pemaparannya, Devi menegaskan bahwa tubuh perempuan tidak hanya hadir sebagai medium estetika, tetapi juga sebagai arsip hidup yang merekam pengalaman emosional, sosial, dan kultural perempuan Betawi.

    “Tubuh bukan hanya alat ekspresi, tetapi juga ruang yang menyimpan pengalaman hidup. Apa yang dialami perempuan dalam keseharian, tekanan, peran, hingga strategi bertahan semuanya hadir dan berbicara melalui tubuh,” ujar Devi.

    Melalui pendekatan practice-based research (PBR), proses penciptaan karya ini menjadikan praktik artistik sebagai bentuk produksi pengetahuan. Studio tidak hanya difungsikan sebagai ruang latihan, tetapi juga sebagai laboratorium tempat pengalaman diolah, diuji, dan diterjemahkan menjadi struktur koreografi.

    Secara dramaturgis, Ampu Empuan dibangun melalui lima fase perjalanan tubuh: mulai dari tubuh yang patuh terhadap norma sosial, tubuh dalam tekanan produktivitas, akumulasi beban yang memicu konflik internal, fase retak sebagai titik krisis, hingga tubuh yang bernegosiasi dan menghadirkan kembali agensi.

    Penonton tampak terdiam dan menyimak setiap detail gerak yang ditampilkan. Suasana hening dan reflektif memperlihatkan bahwa karya ini tidak hanya komunikatif secara artistik, tetapi juga menyentuh secara emosional.

    Promotor disertasi, Prof. I Wayan Dana, S.S.T., M.Hum., dan Co-Promotor, Dr. Hendro Martono, M.Sn., menilai karya ini memiliki kontribusi penting dalam pengembangan seni berbasis penelitian. Tubuh dalam karya ini berhasil diposisikan sebagai sumber pengetahuan dengan kerangka konseptual yang kuat.

    Sementara itu, Octavianus Cahyono Priyanto, S.T., M.Arch., Ph.D., yang membuka kegiatan, menegaskan pentingnya ruang dialog antara seni dan akademik sebagai upaya memperkaya refleksi sosial dan pengembangan ilmu pengetahuan.

    Moderator kegiatan, Dr.Sn. Abdul Haris Rustaman, S.ST., M.Ds., turut menyoroti relevansi karya ini dalam konteks kekinian. Ia menilai Ampu Empuan menghadirkan cara pandang baru dalam membaca tubuh sebagai subjek yang memiliki pengalaman dan pengetahuan.

    Karya ini turut didukung oleh tim artistik yang solid, dengan Devi sebagai penata tari dan Rizki Aidul Akbar, S.Sn., sebagai penata musik. Pertunjukan ini juga melibatkan sejumlah penari seperti Aliviya, Anin, Ajeng, Cindy, Ika, Tika, Puspa, April, Elsya, Saida serta didukung oleh para pemusik dan kru produksi yang membangun keseluruhan pengalaman artistik.

    Lebih jauh, Ampu Empuan menghadirkan metafora perempuan sebagai “tiang rumah”, yakni penyangga utama kehidupan yang menjaga keseimbangan. Konsep “ampu” dimaknai sebagai kemampuan untuk menanggung, merawat, dan beradaptasi dalam menghadapi tekanan sosial.

    Melalui penyelenggaraan ini, Ampu Empuan tidak hanya hadir sebagai karya seni pertunjukan, tetapi juga sebagai praktik penelitian yang membuka perspektif baru dalam memahami tubuh.

    Tubuh perempuan tidak cukup hanya direpresentasikan keindahannya. Ia adalah arsip kehidupan dari tekanan, ketahanan, dan sejarah sosial yang harus didengar suaranya sebagai subjek pengetahuan.

    Ampu Empuan disertasi seni ISI Yogyakarta embodied habitus tari karya tari berbasis riset Lydia Devi Nursanthi penelitian seni pertunjukan perempuan Betawi dan seni practice based research seni seminar disertasi seni Jakarta seni dan akademik Indonesia tari kontemporer Indonesia tari perempuan Betawi TeropongJakarta tubuh sebagai arsip hidup
    Add as Preferred on Google Follow on Google News Follow on Flipboard
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email Copy Link
    Previous ArticleDari Passion ke Profesi, Aprilia Kartini Edukasi Gaya Hidup Sehat dari Bali
    Next Article Maheswari Production Indonesia Juara 1 Sakti Kartini 2026 Lewat Cermin Dua Dunia
    Admin
    • Website

    Related Posts

    Sepuluh Hari dari Teks ke Panggung Berakhir Haru, Tangis Peserta Warnai Perpisahan

    September 17, 2026

    Shine Management Perluas Ruang Kreatif, dari Dance Crew hingga Kelola Event

    September 15, 2026

    Dari Bekal Rp20 Ribu hingga Jadi Kandidat Doktor, Kisah Perjuangan Indah Trie

    September 14, 2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Teropong

    Hello, We’re content writer who is fascinated by content fashion, culture, food, culture and lifestyle. We helps clients bring the right content to the right people.

    Explore Topics
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Entertaiment
    • Fashion
    • Food & Travel
    • Health
    • Lifestyle
    • News
    • Sport
    Meta
    • Log in
    • Entries feed
    • Comments feed
    • WordPress.org
    Tentang

    TeropongJakarta.com

    Melihat Lebih Jauh, Menginspirasi Lebih Besar!

    Pedoman Media Siber - Kontak Kami - Susunan Redaksi - Tentang Kami

    Useful Links
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Entertaiment
    • Fashion
    • Food & Travel
    • Health
    • Lifestyle
    • News
    • Sport
    Tag Clouds

    atlit Bali Bandung Bekasi Berita BeritaBaru Berita Utama Bogor Conten Creator culture Diana Dewi education enterpreneur Entertainment fashion Food Gaya hidup sehat Health Health Lifestyle Hongkong Influencer Inspirasi Inspirasi perempuan Indonesia Jakarta jambi Kesehatan Kisah inspiratif Kisah inspiratif perempuan Lampung Lari Lifestyle malang media model news olahraga perempuan inspiratif Perempuan inspiratif Indonesia PMI Sport Surabaya TeropongJakarta Teropong Jakarta TeropongJakarta.com Travelling

    Latest Posts

    Sepuluh Hari dari Teks ke Panggung Berakhir Haru, Tangis Peserta Warnai Perpisahan

    Evelyn Imeldinata Comeback ke Industri Kreatif, Bawa Misi Buka Peluang Talent

    Gak Harus Jago Main, Ini Deretan Profesi di Balik Industri Game dan Esports

    Shine Management Perluas Ruang Kreatif, dari Dance Crew hingga Kelola Event

    Trending Posts

    Subscribe to News

    Get the latest sports news from NewsSite about world, sports and politics.

    Facebook Instagram LinkedIn WhatsApp TikTok Threads
    • Tentang Kami
    • Susunan Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kontak
    © 2023 TeropongJakarta.com by PT Arunika Media Nusantara

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.