Grobogan, TeropongJakarta.com – Profesionalitas prajurit perempuan kembali menemukan wajahnya pada diri Sersan Satu Kepala (Sertu/K) Indah Wiraningsih. Lahir di Grobogan, 29 Januari 2001, Indah menapaki jalur pengabdian sebagai aparat negara dengan fondasi nilai yang ditempa dari dunia karate disiplin, fokus, dan pengendalian diri.
Di tengah dinamika tugas dan ekspektasi publik terhadap aparat, Indah memandang bela diri bukan sekadar olahraga, melainkan ruang pembentukan karakter. Baginya, latihan di dojo adalah proses panjang membangun integritas.
“Nilai-nilai karate seperti disiplin, fokus, dan pengendalian diri membentuk karakter kuat untuk menjalankan tugas negara dengan integritas dan ketabahan,” ujar Indah dalam wawancara, baru-baru ini.

Ia menuturkan, disiplin dalam karate melatih konsistensi dan kepatuhan terhadap aturan. Kebiasaan itu kemudian terbawa dalam keseharian sebagai prajurit: menjaga jadwal, memenuhi tanggung jawab, serta bekerja dengan komitmen penuh. Sementara fokus membantunya menghadapi tekanan tugas, dan pengendalian diri menjadi kunci dalam mengelola emosi.
“Dalam karate, kekuatan sejati adalah mampu menguasai diri sendiri. Itu yang saya pegang saat menjalankan tugas,” katanya.
Di luar peran kedinasan, Indah juga dikenal sebagai pegiat kecantikan dan aktif di media sosial. Peran ganda ini, menurutnya, bukan kontradiksi, melainkan ruang ekspresi yang tetap harus dijaga batasnya.
“Yang paling utama adalah mematuhi aturan institusi. Tugas negara tetap prioritas,” ujarnya tegas.

Ia memastikan tidak ada tumpang tindih antara aktivitas pribadi dan kedinasan. Seragam dan atribut dinas tidak digunakan untuk kepentingan konten, dan kegiatan kecantikan dilakukan di luar jam kerja resmi. Waktu luang serta akhir pekan dimanfaatkan untuk mengembangkan minat tersebut.
Tantangan terbesar, diakuinya, adalah membagi waktu dan energi. Namun Indah menyiasatinya dengan manajemen yang terstruktur: pagi untuk dinas, sore untuk latihan karate, dan malam untuk aktivitas media sosial secara terbatas. Konten diproduksi secara terjadwal agar efisien, tanpa mengorbankan waktu istirahat.
“Tidur cukup dan menjaga kondisi fisik itu bagian dari tanggung jawab juga,” katanya.

Sebagai perempuan muda dengan multi-peran, Indah melihat pentingnya membangun identitas tanpa kehilangan integritas. Ia mengajak generasi muda untuk berani mengeksplorasi potensi diri, namun tetap berpegang pada nilai dasar.
“Identitas itu seperti pohon. Akarnya adalah integritas kebenaran, empati, dan komitmen. Cabangnya bisa bertambah sesuai peran yang kita jalani. Tapi jangan pernah mencabut akarnya demi pengakuan sesaat,” tuturnya.
Menurut Indah, keberanian sejati bukan soal tampil sempurna, melainkan konsisten pada prinsip yang diyakini. Di tengah perubahan sosial dan derasnya arus digital, ia meyakini perempuan dapat menjalani beragam peran tanpa harus meninggalkan profesionalitas.
Kisah Indah Wiraningsih menjadi potret generasi prajurit perempuan yang tak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga matang dalam karakter mampu berdiri tegak di antara tugas negara dan ruang ekspresi diri, dengan satu fondasi yang sama: integritas.
