Sidoarjo, TeropongJakarta.com – Di usia yang relatif muda, Martha Crisye Monalisa menjalani kehidupan dengan lapisan peran yang saling berkelindan. Ia bekerja sebagai karyawan korporat di sektor perbankan, menjadi ibu dari anak yang masih balita, mendampingi suami yang berprofesi sebagai perwira TNI, sekaligus terlibat aktif dalam organisasi istri prajurit. Bagi Martha, tantangan terbesarnya bukan memilih satu peran dan meninggalkan yang lain, melainkan belajar membaginya secara adil.
“Sebetulnya saya tidak sedang mencari formula khusus. Saat ini saya lebih fokus belajar berbagi peran,” kata Martha. Pekerjaannya di dunia perbankan kerap menuntut waktu lebih panjang, bahkan hingga malam hari. Di sisi lain, peran sebagai ibu menghadirkan kewajiban yang tak bisa ditunda: mengantar anak ke sekolah, menemani belajar, hingga mendampingi berbagai aktivitas tumbuh kembang.
Peran sosialnya bertambah ketika ia menjadi istri perwira TNI. Selain mengikuti kegiatan organisasi, Martha kerap menjadi tempat bersandar bagi istri anggota lain yang menghadapi persoalan keluarga. “Kadang ada yang tiba-tiba menelepon karena sedang ada masalah. Mau tidak mau saya harus bisa bersikap bijaksana, setidaknya memberi masukan,” ujarnya.
Menjalani empat peran sekaligus di usia 27 tahun diakuinya bukan perkara ringan. Upaya untuk tetap fokus berkarier, hadir penuh sebagai ibu, menjadi istri yang mendukung, serta menjalankan tanggung jawab organisasi membutuhkan energi dan kedewasaan emosional. “Itu bukan hal yang mudah dan jelas butuh usaha ekstra,” katanya.

Martha tidak menempatkan dirinya sebagai sosok dengan manajemen waktu ideal. Ia justru menekankan pentingnya skala prioritas. Menurutnya, tidak semua hal bisa ditangani bersamaan dengan porsi yang sama. “Harus pintar memilah mana yang lebih mendesak. Yang jelas semua kewajiban harus tetap berjalan dan diselesaikan,” ujarnya. Ia menambahkan, prioritas tidak boleh menjadi alasan untuk bekerja asal-asalan. “Semua harus dilakukan dengan sungguh-sungguh.”
Di tengah tekanan dan tuntutan yang kerap datang tanpa aba-aba, Martha memilih sudut pandang yang lebih reflektif. Ia memaknai setiap proses yang dijalani sebagai anugerah dan privilese. “Tidak semua perempuan mendapat kesempatan belajar banyak hal di waktu yang bersamaan,” katanya. Dari proses itu, ia merasa memperoleh pelajaran hidup yang tak ditemukan dalam buku mana pun.

Dukungan orang-orang terdekat, menurut Martha, menjadi faktor penentu agar semua peran dapat dijalani dengan sehat. Ia percaya bahwa sebelum membantu orang lain, seseorang harus memastikan dirinya dan keluarganya berada dalam kondisi yang stabil. “Kalau diri sendiri dan keluarga tidak beres, kita justru bisa blunder dan chaos,” ujarnya.
Sebaliknya, ketika lingkungan sekitar memberi dukungan, beban emosional menjadi lebih ringan. “Hati lebih tenang, pikiran lebih jernih, dan kita bisa objektif saat memberi masukan kepada orang lain,” kata Martha.
Bagi Martha Crisye Monalisa, berbagi peran bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang kesadaran menjalani setiap tanggung jawab dengan utuh satu hari, satu peran, pada satu waktu.
