Yogyakarta, TeropongJakarta.com – Pukul dua dini hari, Ishma Aulya Warliani menuntaskan sif kerjanya sebagai pramugari kereta api. Beberapa jam kemudian, perempuan yang kini berdomisili di Yogyakarta itu kembali menjalani peran lain. Pukul enam pagi, ia sudah berada di tengah anak-anak sekolah dasar, mendampingi kegiatan pembelajaran budaya sebagai bagian dari agenda duta budaya.
“Waktu itu aku baru turun kerja sekitar jam dua pagi. Tapi jam enam aku sudah harus mendampingi anak-anak,” kata Ishma saat diwawancarai. Ia menyebut ritme semacam itu sebagai bagian dari kesehariannya saat ini.
Ishma berada di semester akhir perkuliahan. Beban akademik yang biasanya menuntut fokus penuh harus ia jalani bersamaan dengan pekerjaan yang jadwalnya tidak menentu. “Jadwal kerjaku kan nggak pasti, kadang pagi, kadang siang, kadang malam,” ujarnya. Untuk menjaga keberlanjutan studinya, ia mendapat izin menjalani bimbingan skripsi secara daring. Pertemuan langsung dengan dosen pembimbing dilakukan bila memang dibutuhkan.
Menurut Ishma, setiap waktu senggang selalu ia manfaatkan untuk mengerjakan skripsi. “Kalau ada waktu kosong, pasti aku pakai buat ngerjain skripsi,” katanya. Saat libur kerja, ia juga masih terlibat dalam kegiatan pageant dan kebudayaan di Yogyakarta, meski harus menyesuaikan dengan kondisi fisik.

Motivasi terbesarnya, kata Ishma, datang dari keluarga terutama sang ayah yang telah meninggal dunia. “Ayahku pengin anak-anaknya bisa sarjana semua,” ujarnya. Sejak awal kuliah, ia membiayai pendidikannya sendiri. “Dari awal aku kuliah memang pakai biaya sendiri. Jadi memang ada faktor kebutuhan juga,” kata dia.
Namun bagi Ishma, pendidikan tidak semata soal gelar. Ia menyebutnya sebagai investasi jangka panjang. “Aku percaya banget kalau ilmu dan proses akademik itu membentuk cara berpikir yang berbeda, lebih kritis,” ujarnya. Menyelesaikan pendidikan hingga tahap akhir ia anggap sebagai bentuk tanggung jawab personal. “Bukan cuma soal gelar, tapi soal komitmen ke diri sendiri dan masa depan.”
Pengalaman di dunia modelling dan pageant turut membentuk karakter profesionalnya. Ishma mengaku sebelumnya kurang percaya diri. “Awalnya aku orang yang nggak terlalu pede,” katanya. Dari dunia tersebut, ia belajar membawa diri di depan publik, bekerja profesional, serta menghadapi kritik dengan lebih tenang.
Ia menilai dunia modelling mengajarkannya kedisiplinan dan ketangguhan mental. “Sebagai muse atau model, kita nggak bisa seenaknya. Jadwal sudah dibuat, kita harus komit,” ujarnya. Kolaborasi dengan banyak orang, menurut dia, menjadi latihan penting dalam membangun etos kerja.
Kini, Ishma tidak lagi terlalu aktif di dunia modelling. Faktor utama adalah waktu kerja yang semakin tidak fleksibel. “Sekarang fokus utamaku kerja dan nyelesain kuliah,” katanya.

Melalui keterlibatannya di pageant, Ishma membawa pesan yang ingin ia suarakan. “Aku pengin nunjukin kalau perempuan itu bisa punya banyak peran sekaligus,” ujarnya. Menurut dia, pageant bukan sekadar soal penampilan. “Tapi juga soal suara, sikap, dan nilai yang dibawa.”
Sebagai pekerja di sektor transportasi publik, Ishma ingin menunjukkan bahwa latar belakang apa pun tetap memiliki ruang untuk berkontribusi. “Kita tetap bisa menginspirasi dan menyuarakan hal-hal positif seperti kedisiplinan, pelayanan, dan semangat belajar,” katanya.
Dari rel kereta hingga ruang kelas, dari kampus hingga panggung budaya, Ishma merawat keyakinan bahwa setiap proses seberat apa pun selalu menyimpan pelajaran yang membentuk ketahanan dan arah masa depan.
