Close Menu
Teropong Jakarta
    What's Hot

    Lima Kali Gagal Seleksi, Serda (K) Kevin Akhirnya Jadi Kowad: Berangkat dari Keluarga Sederhana

    Gagal Berkali-kali, Serda Zahra Kini Bawa Nama Indonesia dalam Misi Perdamaian PBB

    Tak Pernah Berhenti Mencoba, Gita Octaviani Mengubah Kemampuan Menjadi Peluang

    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Teropong Jakarta
    • News
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Health
    • Sport
    • Lifestyle
      • Entertaiment
      • Fashion
      • Food & Travel
    Subscribe
    Teropong Jakarta
    Beranda » Blog » Bukan Soal Banyak Pasien, Dr. Selvi Octav Bicara Etika di Klinik aesthetic
    Health

    Bukan Soal Banyak Pasien, Dr. Selvi Octav Bicara Etika di Klinik aesthetic

    AdminBy AdminDecember 26, 2025No Comments3 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest Telegram LinkedIn Tumblr Email Copy Link
    Follow Us
    Google News Flipboard
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email Copy Link

    Jakarta, TeropongJakarta.com – Industri perawatan aesthetic di Indonesia tumbuh cepat dalam beberapa tahun terakhir. Pasar medical aesthetic nasional diperkirakan bernilai ratusan juta dolar Amerika dan terus meningkat dengan laju dua digit setiap tahun, didorong oleh pertumbuhan kelas menengah, pengaruh media sosial, serta perubahan cara pandang terhadap perawatan kulit sebagai bagian dari gaya hidup. Klinik kecantikan bermunculan di kota-kota besar, menawarkan beragam prosedur dari injeksi hingga teknologi laser dengan janji perbaikan instan.

    Di tengah lanskap yang semakin padat itu, Dr. Selvi Octav memilih posisi yang tidak lazim. Ia dikenal sebagai dokter Aesthetic yang menangani sejumlah publik figur. Namun Selvi menolak menjadikan hal tersebut sebagai legitimasi profesional. “Menangani publik figur tidak membuat saya merasa lebih keren,” ujarnya.

    Dalam praktik sehari-hari, Selvi justru kerap mengambil keputusan yang berlawanan dengan logika industri. Ia mengatakan tidak semua pasien yang datang perlu menjalani tindakan medis. Pada kondisi tertentu, menurutnya, kulit masih berada dalam batas sehat. “Yang dibutuhkan bukan treatment, tapi istirahat yang cukup dan pola makan yang lebih baik,” katanya.

    Sikap ini tidak selalu sejalan dengan tren industri Aesthetic yang semakin agresif. Pertumbuhan pasar membuat layanan estetika kerap diposisikan sebagai kebutuhan berulang. Standar kecantikan yang diproduksi media sosial ikut memperkuat dorongan tersebut, mendorong banyak orang merasa harus terus memperbaiki kulitnya. Dalam situasi ini, dokter Aesthetic berada di persimpangan antara peran medis dan tekanan komersial.

    Bagi Selvi, batas itu harus dijaga. Ia menilai banyak masalah kulit berakar pada faktor non-medis kurang tidur, stres berkepanjangan, hingga pola makan yang buruk. Jika faktor-faktor tersebut diabaikan, tindakan estetik hanya akan menjadi solusi sementara. “Kedokteran Aesthetic tetap kedokteran. Prinsip kesehatan tidak boleh dikalahkan oleh tren,” ujarnya.

    Data industri menunjukkan permintaan layanan Aesthetic memang meningkat signifikan, seiring naiknya konsumsi produk kecantikan dan layanan perawatan kulit di Indonesia. Namun pertumbuhan tersebut juga memunculkan pertanyaan tentang etika praktik. Semakin banyaknya pilihan tindakan tidak selalu berbanding lurus dengan kebutuhan medis pasien.

    Selvi menempatkan kejujuran sebagai fondasi relasi dokter dan pasien. Ia meyakini keberhasilan praktik Aesthetic tidak diukur dari jumlah tindakan atau banyaknya pasien yang datang, melainkan dari keberlanjutan kesehatan kulit pasien itu sendiri. “Menjadi dokter Aesthetic bukan soal seberapa sering melakukan treatment, tetapi seberapa jujur kita membaca kebutuhan kulit,” katanya.

    Pendekatan tersebut, menurut Selvi, menuntut keberanian untuk berkata cukup bahkan berkata tidak. Risiko bisnis, katanya, selalu ada. Namun risiko yang lebih besar justru muncul ketika tindakan medis dilakukan tanpa indikasi yang jelas. Kulit memiliki batas toleransi, dan tidak semua tren perlu diikuti.

    Di tengah ekspansi industri kecantikan yang terus berlanjut, pilihan Dr. Selvi Octav untuk mengambil jarak dari euforia pasar mencerminkan kegelisahan etik dalam praktik Aesthetic modern. Bahwa di balik teknologi, promosi, dan standar kecantikan yang terus berubah, profesi dokter tetap menuntut satu hal yang tidak berubah: keberanian menjaga batas, dan kejujuran dalam merawat pasien.

    Berita dokter aesthetic Indonesia Dr. Selvi Octav etika dokter estetika etika praktik aesthetic Health Health Lifestyle kejujuran dokter aesthetic kesehatan kulit pasien klinik kecantikan Jakarta medical aesthetic Indonesia perawatan kulit alami perawatan kulit sehat publik figur perawatan kulit TeropongJakarta.com tips kulit sehat treatment estetika yang tepat tren industri aesthetic
    Add as Preferred on Google Follow on Google News Follow on Flipboard
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email Copy Link
    Previous ArticleDinny Majalengka: Membuktikan Ibu Rumah Tangga Bisa Sehat dan Produktif
    Next Article Eslah Rahmah Oktaviana: Dari Ajang Puteri Indonesia 2023 ke Gerakan Sosial
    Admin
    • Website

    Related Posts

    Gak Harus Jago Main, Ini Deretan Profesi di Balik Industri Game dan Esports

    September 16, 2026

    Dari Atlet Selam hingga Psikolog, Esa Kartika Bantu Orang Bangkit dari Tekanan

    September 9, 2026

    5 Tahun Jadi Kowal, Adila Wujudkan Mimpi Masa Kecil Melihat Salju di Eropa

    September 9, 2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Teropong

    Hello, We’re content writer who is fascinated by content fashion, culture, food, culture and lifestyle. We helps clients bring the right content to the right people.

    Explore Topics
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Entertaiment
    • Fashion
    • Food & Travel
    • Health
    • Lifestyle
    • News
    • Sport
    Meta
    • Log in
    • Entries feed
    • Comments feed
    • WordPress.org
    Tentang

    TeropongJakarta.com

    Melihat Lebih Jauh, Menginspirasi Lebih Besar!

    Pedoman Media Siber - Kontak Kami - Susunan Redaksi - Tentang Kami

    Useful Links
    • Brand
    • Culture
    • Education
    • Entertaiment
    • Fashion
    • Food & Travel
    • Health
    • Lifestyle
    • News
    • Sport
    Tag Clouds

    atlit Bali Bandung Bekasi Berita BeritaBaru Berita Utama Bogor Conten Creator culture Diana Dewi education enterpreneur Entertainment fashion Food Gaya hidup sehat Health Health Lifestyle Hongkong Influencer Inspirasi Inspirasi perempuan Indonesia Jakarta jambi Kesehatan Kisah inspiratif Kisah inspiratif perempuan Lampung Lari Lifestyle malang media model news olahraga perempuan inspiratif Perempuan inspiratif Indonesia PMI Sport Surabaya TeropongJakarta Teropong Jakarta TeropongJakarta.com Travelling

    Latest Posts

    Lima Kali Gagal Seleksi, Serda (K) Kevin Akhirnya Jadi Kowad: Berangkat dari Keluarga Sederhana

    Gagal Berkali-kali, Serda Zahra Kini Bawa Nama Indonesia dalam Misi Perdamaian PBB

    Tak Pernah Berhenti Mencoba, Gita Octaviani Mengubah Kemampuan Menjadi Peluang

    Bukan Sekadar Mama Anak Bulu, Hanatahikaru Ajak Masyarakat Peduli Satwa di Tengah Karhutla

    Trending Posts

    Subscribe to News

    Get the latest sports news from NewsSite about world, sports and politics.

    Facebook Instagram LinkedIn WhatsApp TikTok Threads
    • Tentang Kami
    • Susunan Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kontak
    © 2023 TeropongJakarta.com by PT Arunika Media Nusantara

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.