
Semarang, TeropongJakarta.com – Di usia 30 tahun, Nimas Tia Setia sudah mencatatkan capaian yang membuat banyak orang berdecak kagum. Dari semula calon karyawan, perempuan asal Semarang ini menjelma menjadi pengusaha dengan dua bisnis besar di tangannya: pabrik pupuk dan perusahaan otobus pariwisata.
Perjalanan Nimas dimulai di bangku kuliah. Pada semester enam, di tengah penulisan skripsi, ia bertemu Raden, sosok yang kemudian menjadi suami sekaligus mentor bisnisnya. Pertemuan itu mengubah arah hidupnya: dari orientasi menjadi pekerja menuju tekad menapaki jalan wirausaha.
Bisnis properti menjadi langkah pertama. Namun, lambatnya perputaran uang membuatnya tak puas. Ia kemudian mencoba peruntungan sebagai importir sparepart dari Tiongkok. Sayangnya, bisnis itu tumbang karena pengkhianatan karyawan. Kerugian besar itu tak membuat Nimas patah arang.

Pandemi Covid-19 justru menjadi titik balik. Bersama Raden, Nimas melihat peluang budidaya “kunyit hitam”, tanaman herbal asal Thailand. Mereka tak hanya menanam, tetapi juga belajar soal tanah dan kimia hingga meracik pupuk sendiri. Dari sana lahirlah pabrik pupuk yang kini mereka kelola.
Sebagai Direktur Keuangan, Nimas mengatur keuangan sekaligus ikut menangani pemasaran dan distribusi. Produk pupuk buatan mereka kini tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, tapi juga merambah Brunei dan Malaysia. Di Negeri Jiran, keduanya mendirikan perusahaan pupuk baru sebagai langkah ekspansi.
Di sektor transportasi, Nimas bersama Raden mendirikan PO Bus Setia Alam Transindo. Untuk mendapat izin PO, mereka mulai dengan minimal lima armada, baik bus maupun minibus. Dari situ, usaha pariwisata ini berkembang dengan layanan perjalanan ke Jawa, Bali, Lombok, hingga paket ziarah Wali Songo.

Strategi yang mereka jalankan menekankan pelayanan prima, keamanan, dan inovasi. Promosi dan kerja sama strategis juga digarap serius agar usaha tak tertinggal zaman. “Kreativitas itu wajib, kalau tidak kita akan tertinggal,” ujar Nimas.
Kerja kerasnya membuahkan hasil. Namanya melejit, bahkan dijuluki “Crazy Rich Semarang”. Pencapaian spiritualnya pun gemilang: naik haji Furoda di usia muda dan mampu mengumrohkan seluruh keluarganya.
Meski kaya raya, Nimas tetap menekankan kebermanfaatan. Ia membuka lapangan kerja, memperkuat mitra usaha, dan meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar. Baginya, kesuksesan tidak bisa diukur hanya dari saldo rekening.

Sebagai pemimpin, Nimas percaya perempuan punya kelebihan berupa ketelitian, kerapian, dan intuisi. Ia menganggap kualitas itu bisa menjadi modal besar dalam mengelola bisnis maupun dalam membangun kepercayaan publik.
Menurutnya, teknologi digital justru membuka jalan baru bagi perempuan. “Lewat live TikTok atau Instagram Marketplace, siapa saja bisa berbisnis. Tidak ada lagi batasan ruang,” katanya.
Prinsip hidupnya sederhana namun kuat: semangat, kejujuran, sedekah, konsistensi, dan komitmen menjaga relasi bisnis. Ia menilai, jaringan relasi yang sehat adalah fondasi utama keberlangsungan usaha. “Kalau hubungan dijaga dengan baik, bisnis akan tumbuh berkelanjutan,” ujarnya.

Kesibukan tak membuatnya lupa menjaga kesehatan. Ia rutin mengikuti Zumba, gym, Insight Flow, hingga boxing. Bagi Nimas, tubuh yang sehat adalah modal utama seorang perempuan karier.
Keluarga tetap menjadi prioritas utama. Ia selalu meluangkan waktu untuk mendampingi suami dan anak. “Bisnis bisa dicari, tapi momen dengan keluarga tidak bisa diulang,” katanya.
Ke depan, Nimas tak berhenti pada pupuk dan transportasi. Ia merintis usaha baru di sektor rokok dengan merek Bestco, serta skincare dengan merek Nee.Mas yang kini mulai soft launching. Dengan ekspansi itu, ia berharap menciptakan pertumbuhan berkelanjutan yang berdampak luas bagi masyarakat.