Buleleng, TeropongJakarta.com – Di tengah kesibukannya menangani pasien di Puskesmas Gerokgak, dr. I Ketut Argya Reswara, yang akrab dipanggil dr. Argy, menemukan cara unik untuk memperluas jangkauan praktik medisnya: media sosial. Sejak awal karier, ia membagikan edukasi kesehatan, tips gaya hidup, dan olahraga untuk masyarakat luas, jauh sebelum mereka datang ke ruang praktik.
“Sejak awal praktik, saya sering menemukan satu hal yang sama: banyak pasien datang dengan informasi kesehatan yang keliru. Sebagian besar bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena informasi yang mereka terima sulit dipahami atau bahkan salah,” kata dr. Argy dalam wawancara eksklusif. Dari pengalaman itu, ia menyadari bahwa peran dokter tidak hanya mengobati, tetapi juga mengedukasi masyarakat.
Cara dr. Argy menyampaikan ilmu kesehatan pun unik. Ia selalu memulai dari perspektif masyarakat, bukan dari sisi medis semata. “Ilmu medis memang kompleks, tapi cara menyampaikannya tidak harus rumit. Biasanya saya mulai dari pertanyaan sehari-hari atau mitos kesehatan yang banyak dipercaya, lalu menyederhanakannya dengan bahasa ringan, contoh yang dekat, dan visual menarik,” jelasnya.

Tujuannya sederhana: orang yang menonton paham dan merasa informasi itu relevan dengan hidup mereka. Pendekatan ini membuat kontennya tidak hanya informatif, tetapi juga menginspirasi. Dr. Argy percaya bahwa edukasi yang tepat dapat mengubah cara seseorang memandang kesehatan sejak dini.
Selain edukasi kesehatan, dr. Argy membagikan tips gaya hidup dan olahraga. Baginya, kesehatan tidak hanya soal pengobatan ketika sakit. “Kesehatan dibangun dari kebiasaan kecil sehari-hari: aktivitas fisik, pola makan, dan gaya hidup seimbang. Saya ingin masyarakat melihat bahwa menjaga kesehatan bukan sesuatu yang berat atau menakutkan, tapi bisa menjadi bagian dari gaya hidup yang menyenangkan,” ujarnya.
Dr. Argy menekankan pentingnya dokter menjadi contoh nyata bagi pasien dan publik. Aktivitas sehari-hari yang ia bagikan, mulai dari olahraga ringan hingga pola makan sehat, bukan sekadar konten, tetapi juga cara menunjukkan bahwa hidup sehat bisa dinikmati.

Menyebarkan informasi kesehatan secara publik bukan tanpa tantangan. “Salah satu tantangan terbesar adalah banyaknya informasi yang tidak akurat atau sensasional di media sosial. Karena itu, saya selalu berusaha menyampaikan informasi yang berbasis referensi medis, tapi tetap sederhana dan tidak menggurui. Konsistensi dan kejujuran adalah kunci membangun kepercayaan publik,” kata dr. Argy.
Harapannya sederhana tapi berarti: meningkatkan kesadaran, kecermatan, dan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan mereka sendiri. “Jika ada orang yang mulai rutin berolahraga, lebih memahami penyakitnya, atau tidak lagi percaya pada mitos kesehatan karena konten saya, itu sudah menjadi dampak yang sangat berarti. Ilmu kesehatan tidak harus terasa jauh atau menakutkan. Dengan cara penyampaian yang tepat, ilmu itu bisa memberdayakan masyarakat untuk hidup lebih sehat dan lebih baik,” tutur dr. Argy.
Di era informasi yang cepat dan sering membingungkan, langkah dr. Argy menjadi contoh bagaimana profesional medis bisa memanfaatkan media sosial bukan untuk popularitas, tetapi untuk memberdayakan masyarakat. Ia membuktikan bahwa edukasi kesehatan yang tepat, sederhana, dan relevan dapat menjangkau lebih banyak orang dan menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan adalah tanggung jawab bersama yang dimulai dari diri sendiri.
