Solo, TeropongJakarta.com – Gerakan sosial kerap berangkat dari kegelisahan pribadi. Namun bagi Tya Arum, langkah itu justru dimulai dari sesuatu yang sederhana: menjual barang miliknya sendiri.
Pada Juni 2024, Arum mulai melepas sejumlah barang preloved. Hasil penjualannya tidak ia gunakan untuk kepentingan pribadi, melainkan dibelikan nasi kotak yang kemudian dibagikan kepada masyarakat di jalanan. Dari aktivitas kecil itu, lahirlah embrio komunitas yang kini dikenal sebagai “Teman Baik Solo”.
Arum mengaku tidak pernah merencanakan pembentukan komunitas tersebut secara formal. Apa yang ia lakukan semula hanyalah bentuk spontanitas. Namun, interaksinya dengan para penerima bantuan menghadirkan kesadaran baru: perhatian sekecil apa pun memiliki arti yang besar bagi mereka yang membutuhkan.
“Hal sederhana bagi kita, bisa jadi sangat berarti bagi orang lain,” ujar Arum.
Kesadaran itu kemudian berkembang menjadi dorongan untuk bergerak lebih jauh. “Teman Baik Solo” perlahan bertransformasi dari aksi individu menjadi gerakan kolektif. Arum mulai melibatkan teman-teman terdekatnya, sekaligus membuka ruang bagi relawan yang ingin berkontribusi.

Dalam setiap kegiatan, penggalangan dana dilakukan dalam kurun waktu sekitar enam hari. Metode yang digunakan tetap sederhana dan transparan, yakni melalui donasi langsung serta penjualan barang pribadi. Seluruh hasil yang terkumpul dialokasikan sepenuhnya untuk kegiatan sosial.
Penyaluran bantuan pun dilakukan secara terarah, salah satunya kepada panti asuhan. Proses ini melibatkan sejumlah relawan yang membantu dari tahap pengumpulan hingga distribusi. Arum menekankan pentingnya menjaga kepercayaan para donatur sebagai fondasi utama keberlangsungan gerakan.
Lebih dari sekadar aktivitas berbagi, Arum ingin menanamkan nilai yang menjadi ruh komunitas tersebut. Ia mengangkat filosofi Jawa “urip iku urup”, yang berarti hidup seharusnya memberi manfaat bagi orang lain.
Nilai itu, menurut dia, tidak harus diwujudkan melalui langkah besar. Tindakan kecil seperti tersenyum, bersikap ramah, hingga membantu sesama dalam keseharian merupakan bagian dari kontribusi nyata.
Arum juga menyadari bahwa perjalanan membangun gerakan sosial tidak selalu berjalan mulus. Akan ada tantangan, termasuk menghadapi beragam karakter manusia. Namun, ia memilih untuk tetap berpegang pada prinsip dasar: menjadi pribadi yang membawa kebaikan.
“Kita mungkin tidak selalu bertemu orang baik, tapi kita bisa berusaha menjadi orang yang baik bagi siapa pun,” kata dia.

Ke depan, Arum berupaya mengembangkan “Teman Baik Solo” menjadi gerakan yang lebih luas dan berkelanjutan. Ia menargetkan penguatan branding, terutama melalui media sosial, agar jangkauan komunitas semakin besar.
Selain itu, ia juga ingin memperluas jaringan relawan agar lebih banyak individu dapat terlibat. Baginya, komunitas ini bukan hanya tentang memberi bantuan, tetapi juga menjadi ruang bagi siapa saja untuk mulai menciptakan dampak.
Dari langkah sederhana menjual barang pribadi, Tya Arum menunjukkan bahwa gerakan sosial tidak selalu lahir dari sumber daya besar. Ia justru tumbuh dari kepedulian, konsistensi, dan keberanian untuk memulai.
